Sukses

Perempuan Berkalung Sorban Menuai Kontroversi

FILM Perempuan Berkalung Sorban banyak menyedot perhatian penonton Tanah Air. Namun kesuksesan itu diwarnai sejumlah hujatan. Beberapa kalangan menuding film disutradarai Hanung Bramantyo ini menyesatkan dan fitnah terhadap Islam. Pakar yang angkat bicara di antaranya Fitriani Aminudin, dosen di Universitas Islam Negeri Jakarta dan Ali Mustofa Yakub, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.
Fokus perhatian terutama dialog antara Anissa yang diperankan Revalina Sayuti Temat dan Kiai Hanan, ayah Anissa yang dilakoni Joshua Pandelaki. Yang disorot adegan ketika Anissa meminta izin bersekolah di Yogyakarta tapi dilarang Hanan. Menurut Ali, larangan itu tak sesuai hadis Nabi Muhammad SAW. "Jangan kamu larang budak-budak wanita kamu untuk datang ke masjid. Ke masjid dalam rangka untuk beribadah dan dalam rangka untuk belajar," jelas Ali.
Fitriani juga menyayangkan adegan itu. Tak sepantasnya larangan itu membawa-bawa hadis Nabi Muhammad SAW. "Menurut saya itu sudah fitnah dan tidak pantas diutarakan di dalam dialog-dialog itu," kata Fitriani. Ia bahkan ingin agar film ini tidak usah ditayangkan.
Hanung menanggapi kritik itu dengan pikiran dingin. Di adegan itu ia tak bermaksud membodohi umat Islam. "Kalimat itu saya keluarkan dari mulut seorang kiai yang memang tidak tahu, dalam hal ini bapaknya (ayah Anissa)," ujar Hanung. Bila disimak lebih teliti adegan itu, tambah Hanung, yang melarang Hanan bukan hadis atau Quran.
Adegan lain yang juga dikritik perihal persamaan hak menunggangi kuda bagi perempuan. Cuplikan diperankan Anissa kecil yang keberatan dilarang Hanan berkuda, sementara dua kakaknya diizinkan. "Padahal Siti Aisyah menaiki kuda dan berlomba pacuan kuda dengan Rasulullah SAW," tutur Ali yang juga menjabat Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Sutradara yang sukses menggarap film Ayat-Ayat Cinta ini siap berdialog menjawab berbagai kritikan. Hanung mengatakan, siapapun pihak yang menuding sedianya menonton secara utuh film Perempuan Berkalung Sorban. "Saya berharap menonton film gitu loh, tidak hanya sekadar dengar dari kata-kata orang," tutur dia. Ali mengaku tidak menonton dan bertekad tak akan melihat film Perempuan Berkalung Sorban.
Sejumlah pemain terkejut dengan tudingan menyesatkan itu. Revalina dan Oka Antara misalnya. Revalina mempertanyakan dialog yang dinilai menyesatkan. Revalina dan Oka menilai positif kritik-kritik itu. Dan tanggapan miring perihal film ini justru dianggap cermin keberhasilan film mereka. Sebelumnya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin memuji film ini.(As)