Kenapa Doraemon Kurang Ngetop di Amerika?

Ternyata, ada satu wlayah yang tak bisa ditaklukkan Doraemon: Amerika Serikat. Mengapa demikian?

Diterbitkan 17 Desember 2014, 18:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Untuk film anime panjang pun, Hollywood lebih menaruh hormat pada film-film Studio Ghibli yang kreatornya, Hayao Miyazaki, kerap disebut Walt Disney-nya Jepang. Film-film Studio Ghibli yang berkualitas (Spirited Away bahkan meraih Oscar Film Animasi Panjang Terbaik!) sering dibandingkan dengan film-film Pixar.

Maka, pertanyaannya kemudian, kenapa Doraemon tak begitu populer di Amnerika?

Alasan Doraemon Kurang Ngetop

Alasan Doraemon Kurang Ngetop
Koran Jepang Asahi Shimbun pernah menulis, Doraemon tak populer di AS lantaran kisahnya tak cocok dengan nilai-nilai yang dijunjung di Amerika. Para pakar industri budaya menengarai, ceritanya yang berfokus tentang ketergantungan Nobita pada alat-alat yang dikeluarkan dari kantung ajaib Doraemon.

Bagi masyarakat Amerika, sikap tak mandiri begini menyalahi norma etika yang berlaku dan dijunjung di sana, yakni sejak kecil bocah Amerika dibimbing untuk mandiri.

Namun, justru bagian itulah yang paling menarik dari Doraemon. Kelemahan Nobita adalah unsur yang membuat Doraemon bisa diterima di banyak wilayah lain. "Kelemahan atau ketakberdayaan Nobita justru memperlihatkan sisi manusiawi," kata Takahiro Inagaki, penulis buku Doraemon wa monogataru (Apa yang Ingin Dikatakan Doraemon), sebuah buku yang menafsirkan pesan-pesan dalam kisah Doraemon.

Kata tafsiran Saya Shiraishi, Nobita mewakili gambaran konsumen kreatif. Nobita menerima derita hidupnya sebagai anak-anak yang selalu diganggu anak lain, tidak pintar (ia hanya jago main gelang tangan), tapi juga tetap gembira, penuh semangat, dan imajinasi.

Dalam setiap episode yang seakan jadi formula baku, Nobita selalu menggunakan alat pemberian Doraemon di luar niatan awalnya. Seringkali percobaan Nobita berujung petaka. Tapi, keingintahuan dan optimismenya tak pernah hilang. Shiraishi menyimpulkan, “keingintahuan anak-anak, rasa bebas, dan pikiran jernih pada akhirnya akan menghasilkan beragam produk teknologi, yang dibawa Doraemon dari masa depan.”

Pico Iyer menyebut karakter Doraemon punya kelasnya tersendiri. Ia tak sekadar simbol (seperti Mickey Mouse) atau pun teman (seperti Winnie the Pooh). Iyer menulis, "Jika Bart Simpson mengatakan dan melakukan apa yang kita semua takut perbuat, Doraemon memberi kita apa yang kita impikan." (Ade)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Rommy RamadhanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan