Tabula Rasa, Minang dan Papua Bertemu dalam Belanga

Tabula Rasa tontonan yang pas. Seperti masakan rasanya lezat, gurih, dan nikmat.

Diterbitkan 26 September 2014, 16:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menonton film ini, Tabula Rasa, saya teringat sebuah pepatah: "Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam belanga." Pun begitu di sini. Kita bertemu Emak dari tanah Minang dan Hans dari Papua, mereka bertemu di dapur.

Tabula Rasa disebut sebagai film kuliner pertama tanah air. Saya tak tahu klaim itu benar atau tidak. Saya pun tak hendak memeriksanya.

Sebelum membahas filmnya, menarik untuk mengulik asal muasal kuliner Minang dan Papua. Saat melaporkan tentang kuliner minang, harian Kompas, Minggu, (1 /9/2013), mencatat bahwa makanan serupa rendang --mengutip dari sejarawan-- sudah dikenal masyarakat Minangkabau antara abad ke-4 dan ke-10.

Namun dalam catatan itu, tertulis soal masakan olahan daging di tanah Minang yang baru muncul dalam laporan-laporan ulama Islam Syekh Burhanuddin asal Ulakan, Pariaman, pada abad ke-17. Mengutip sejarawan, Kompas menulis, seiring dengan proses Islamisasi tanah Minang, sang ulama menjadikan makanan olahan daging sebagai media syiar Islam. Ia berusaha mengubah kebiasaan memakan makanan berbahan daging yang tidak halal.

Asal tahu saja, nama rendang masih relatif baru. Pada 1930-an, istilah rendang baru muncul di majalah-majalah perkumpulan orang Minang.

Sejarah kuliner Minang
Meski namanya baru muncul pada abad ke-20, rendang—dan tradisi kuliner Minang umumnya—lahir berabad lampau. Masakan khas tanah Minang lahir sebagai akibat dari Sumatera yang terlibat dalam perdagangan rempah dunia, bahkan sebelum orang Eropa datang. Pada abad ke-13, pedagang India Tamil berburu lada dan mulai menetap di pesisir barat Sumatera.

>Lada banyak ditanam orang Minangkabau yang hidup di Sumatera tengah. Saat itu daerah tersebut masuk dalam kekuasaan Kesultanan Aceh. Lewat interaksi pedagang India dan orang Sumatera (terutama Aceh dan Minang) dikenallah penggunaan bumbu dan rempah-rempah.

Pesan dalam Tabula Rasa

Maka, tradisi masakan kari dari India segera merembes ke berbagai masakan Sumatera. Boleh dikatakan, masakan khas bagian barat Sumatera memang berasal dari India. Namun, evolusi ini tak membuat masakan khas Minang kehilangan identitasnya. Masakan khas Minang juga memperoleh pengaruh lain di luar tradisi memasak India. Kondisi lingkungan Minangkabau yang ditumbuhi banyak pohon kelapa misalnya, memungkinkan rendang lebih banyak mengandung santan daripada kari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dari makanan bersantan seperti kuah kari ini, masakan khas Minang kemudian pula melahirkan gulai kepala kakap, 'tokoh utama' masakan Minang di `Tabula Rasa`. Sejarah kuliner Papua Sekarang ke tradisi kuliner Papua. Pulau Nugini (di mana Papua termasuk di dalamnya) adalah pulau terbesar kedua di dunia setelah Pulau Greenland. Manusia diduga telah mendiami dataran tinggi Nugini sejak 30 ribu tahun silam. Wilayah geografis yang berbeda antara Sumatera dan Papua telah melahirkan tradisi kuliner yang berbeda pula. Masyarakat Papua yang relatif terisolir tak melahirkan tradisi kuliner hasil rembesan kebudayaan lain. Mereka menghasilkan tradisi kuliner yang asli. Misalnya cara berladang dengan guludan (membuat gundukan tanah memanjang demi mempertahankan suhu dan kelembaban mikro tanah) telah ada sejak 7 ribu sampai 6 ribu tahun lalu. Teknik itu kian maju oleh teknologi pengairan dan drainase yang tumbuh sejak 4.4000 sampai 4.000 tahun lalu (Kompas, Minggu, 22 Desember 2013). Memang tidak ada semerbak aroma rempah yang menggantung di udara dalam masakan asli Papua, seperti ubi yang dimasak dengan bakar batu. Namun, bukan berarti kuliner Papua tak kaya. Sagu yang telah dipangkur menghasilkan berbagai masakan, dari mulai sagu bakar ataupun papeda, adonan sagu kental. Saat menyantap papeda paling asyik dengan ikan kuah kuning. Sup ikan berkuah kuning lebih dulu dituangkan dalam piring yang kosong, mengalasi papeda agar tak lengket di piring. Setiap masyarakat adat Papua pastilah menghormati sagu lebih daripada sekadar santapan. Banyak suku di Papua mengenal mitologi sagu yang dikisahkan sebagai penjelmaan manusia dengan beragam kisah dan nama. Mitologi ini memiliki pesan filosofis manusia mengorbankan dirinya demi memberi makan keturunannya. Tantangan pada kuliner Papua saat ini adalah mempertahankan tradisi tersebut. Atas nama pemerataan pembangunan, orang Papua dikenalkan pada nasi. Mereka pun disuruh menanam beras. Pemerintah menggalakkan budidaya beras di Papua sejak 1990-an. Pesan Baik dalam "Tabula Rasa"Syahdan, sampailah kita pada sebuah adegan di `Tabula Rasa`. Kita melihat seorang pemuda Papua, Hans (Jimmy Kobogau), yang kelaparan setelah kecapekan mengangkat belanjaan Emak (Dewi Irawan), disuguhi masakan khas Padang: nasi dengan lauk gulai kepala kakap. Wajahnya tercenung, seolah berkata makanan yang disantapnya saat itu adalah makanan terlezat yang pernah dicecap lidahnya seumur hidup. Ia lalu tampak lahap. Sepintas, adegan itu seperti yang kita khawatirkan. Inikah bentuk hegemoni pada satu kebudayaan atas kebudayaan lain, orang Papua diminta menikmati nasi, sesuatu yang tak berakar dalam tradisi kuliner mereka? Pikiran sempit seperti itu mungkin akan muncul setelah melihat adegan tersebut. Namun, pemaknaan seperti itu tak tepat betul. Film ini tak punya pesan penjajahan budaya secara halus lewat masakan. Kalau mau sedikit nasionalis, film ini malah punya pesan persatuan. Dua budaya yang berbeda, ternyata bisa bersatu lewat masakan.

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan