Sukses

Bursa Saham Asia Bervariasi Terseret Sentimen Kekhawatiran Resesi

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik bervariasi pada perdagangan saham Kamis (8/12/2022) seiring kekhawatiran resesi yang berlanjut bebani pasar.

Indeks Jepang Nikkei 225 melemah 0,92 persen dan indeks Topix tergelincir 0,91 persen. Indeks Kospi Korea Selatan terpangkas 0,61 persen. Indeks Australia ASX 200 melemah 0,8 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,23 persen.

Pada perdagangan Rabu, bursa saham Asia anjlok seiring timbulnya pertanyaan atas perubahan sikap China melebihi optimisme pembukaan kembali.

"Pelonggaran lebih lanjut dari pembatasan COVID-19 telah diperhitungkan dalam beberapa minggu terakhir, sementara kecepatan penyesuaian terhadap pengaturan kebijakan menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan dari gelombang pertama dan tindakan peredaman yang sedang berlangsung,” ujar Ekonom National Australia Bank, Taylor Nugent dikutip dari CNBC, Kamis pekan ini.

Ekonomi Jepang alami kontraksi kuartalan tahunan 0,8 persen pada kuartal III 2022. Hal ini seiring dengan pembacaan produk domestik bruto (PDB) yang direvisi mengalahkan harapan dalam survei Reuters untuk kontraksi 1,1 persen. Perkiraan awal pertama pemerintah yang dirilis pada November 2022 adalah penurunan 1,2 persen.

Jepang juga melaporkan defisit 64,1 miliar yen atau USD 469,3 juta dalam neraca berjalan yang belum disesuaikan, demikian ditunjukkan dari data pemerintah. Pembacaan secara signifikan meleset dari perkiraan surplus 623,4 miliar yen.

Australia mencatat surplus perdagangan pada Oktober 2022 mencapai 12,2 miliar dolar Australia atau setara USD 8,19 miliar, sedikit lebih besar dari yang diharapkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Penutupan Bursa Saham Asia pada 7 Desember 2022

Sebelumnya, bursa saham Hong Kong turun tajam pada perdagangan Rabu, 7 Desember 2022, dan memimpin koreksi di bursa saham Asia Pasifik. Koreksi bursa saham Asia Pasifik terjadi di tengah pengumuman China longgarkan kebijakan COVID-19.

Di sisi lain, saham maskapai menguat, sedangkan saham kasino dan teknologi melemah setelah pengumuman China tersebut. Sentimen negatif terjadi seiring rilis data perdagangan China pada November 2022 lebih rendah dari yang diharapkan.

Indeks Hang Seng anjlok 3,22 persen ke posisi 18.814,82. Indeks Hang Seng teknologi terpangkas 3,77 persen. Di bursa saham China, indeks Shenzhen naik 0,17 persen ke posisi 11.418,76. Indeks Shanghai melemah 0,4 persen ke posisi 3.199,62.

Indeks Jepang Nikkei 225 merosot 0,72 persen ke posisi 27.686,40. Indeks Topix terpangkas 0,1 persen ke posisi 1.948,31. Indeks Korea Selatan Kospi terpangkas 0,43 persen ke posisi 2.382,81. Di Australia, indeks ASX 200 jatuh 0,85 persen ke posisi 7.229,40 setelah pengumuman pertumbuhan ekonomi Australia naik 0,6 persen pada kuartal III 2022.

Di sisi lain, bank sentral India umumkan kenaikan suku bunga 35 basis poin menjadi 6,25 persen.

3 dari 4 halaman

Penutupan Wall Street pada 7 Desember 2022

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan saham, Rabu, 7 Desember 2022. Indeks S&P 500 turun pada hari kelima seiring pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan resesi dan kemungkinan siklus kenaikan suku bunga lebih lama dari perkiraan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks S&P 500 tergelincir 0,19 persen ke posisi 3.933,92. Indeks Dow Jones naik 1,58 poin ke posisi 33.597,92. Indeks Nasdaq melemah 0,51 persen ke posisi 10.958,55.

Imbal hasil obligasi AS juga turun dengan tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun ke posisi titik terendah 3,402 persen. Saham bergejolak antara keuntungan dan koreksi dengan indeks S&P 500 naik 0,41 persen. Sedangkan pada posisi terendahnya, indeks tersebut melemah 0,47 persen.

“Pasar agak terombang-ambing dan menemukan nafas setelah reli besar dari posisi terendah pada Oktober 2022,” ujar Chief Market Strategist Carson Group, Ryan Detrick seperti dikutip dari CNBC, Kamis (8/12/2022).

Ia berharap pasar melanjutkan tren ini hingga investor menerima lebih banyak kejelasan dari pertemuan kebijakan the Fed pada Desember dan laporan indeks harga konsumen pada November 2022.

 

4 dari 4 halaman

Menanti Kebijakan The Fed

Pekan depan, bank sentral AS akan memberikan kenaikan suku bunga 50 basis poin. Sementara, langkah itu akan lebih kecil dibandingkan dengan empat kenaikan suku bunga sebelumnya, kekhawatiran mengenai apakah the Fed dapat merekayasa apa yang disebut soft landing hingga berhasil menekan inflasi.

Kekhawatiran tentang resesi pada 2023 telah membuat beberapa investor ketakutan dalam beberapa hari terakhir. “Secara keseluruhan, indikator keuangan menunjukkan resesi. Indeks S&P 500 telah mencapai puncak menjelang resesi dengan waktu tunggu rata-rata empat bulan selama beberapa siklus bisnis terakhir,” ujar Azhar Iqbal dari Wells Fargo.

Investor menunggu lebih banyak data ekonomi pekan ini untuk mengetahui petunjuk tentang apa yang diharapkan dari the Fed dengan data klaim pengangguran akan dirilis Kamis pekan ini. Indeks harga produsen pada November 2022 dan data sentimen konsumen awal pada Desember 2022 untuk djiadwalkan pada Jumat pekan ini.

Selama sepekan,indeks acuan cenderung lesu. Indeks Dow Jones melemah 2,42 persen. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 3,38 persen dan 4,39 persen.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS