Sukses

Global Digital Niaga Lunasi Utang Rp 2,7 Triliun dari Dana IPO

Liputan6.com, Jakarta - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), pengelola e-commerce Blibli melunasi utang sebesar Rp 2,75 triliun dari dana hasil penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) kepada Bank Central Asia (BCA).

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Rabu (7/12/2022), PT Global Digital Niaga Tbk menyatakan pembayaran utang fasilitas pinjaman yang diterima dari BCA senilai Rp 2,75 triliun sebagai realisasi penggunaan yang diterima dari hasil IPO.

Dengan demikian, transaksi ini termasuk ke dalam transaksi afiliasi berdasarkan POJK 42/2022, BCA teafiliasi dengan perseroan seiring kesamaan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner).

Sebelumnya perseroan dan BCA menandatangani perjanjian kredit pada 29 Oktober 2021 dan diubah berdasarkan perubahan pertama perjanjian kredit pada 29 September 2022. Adapun syarat dan ketentuan penting dalam perjanjian pinjaman antara lain nilai plafon pinjaman sebesar Rp 4 triliun untuk fasilitas time loan revolving uncommitted dan Rp 25 miliar untuk fasilitas kredit multi yang terdiri dari bank garansi dan surat kredit berdokumen dalam negeri.

Untuk tingkat bunga JIBOR 1 bulan plus persen margin yang dihitung dari jumlah fasilitas time loan revolving yang telah ditarik dan belum dibayar kembali oleh perseroan. Utang tersebut jatuh tempo pada 29 Oktober 2023. "Penggunaan pinjaman untuk pembiayaan atas aktivitas operasional dan investasi perseroan," tulis perseroan.

Nilai pinjaman terutang atau outstanding loan per keterbukaan informasi pada tanggal prospektus final penawaran umum diterbitkan sebesar Rp 2,9 triliun. Perseroan pun akan melunasi sisa pinjaman Rp 150 miliar dari dana internal.

"Dampak Transaksi ini adalah berkurangnya kewajiban keuangan Perseroan," tulis manajemen perseroan.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 7 Desember 2022, saham BELI turun 0,83 persen ke posisi Rp 476 per saham. Saham BELI dibuka stagnan Rp 480. Saham BELI berada di level tertinggi Rp 482 dan terendah Rp 470 per saham. Total frekuensi perdagangan 890 kali dengan volume perdagangan 209.761 saham. Nilai transaksi Rp 9,9 miliar.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Global Digital Niaga Yakin Blibli Bisa Untung, Begini Jurus Manajemen

Sebelumnya, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli optimis perusahaan berada pada jalur yang tepat menuju profitabilitas.

Co-founder PT Global Digital Niaga Tbk, Hendry mengatakan, keyakinan itu merujuk pada kinerja perusahaan sepanjang paruh pertama 2022 yang tumbuh positif, ditopang ekosistem yang saling topang.

Dari bisnis e-commerce melalui Blibli, perseroan melihat potensi pertumbuhan yang besar. Apalagi perseroan memiliki empat segmen yang mengakomodir ragam kebutuhan konsumen.

Pertama segmen 1P retail. Di mana Blibli menawarkan produk sendiri sehingga Blibli punya kontrol penuh atas harga dan margin. Kedua, 3P retail, di mana Blibli menjalin kerja sama dengan brand principal dan menjual ke pihak ketiga dalam menawarkan produk. Keempat, yakni segmen dari physical stores atau toko fisik.

“Jadi e commerce dengan B2C, kita punya 1P, 3P. Kita lihat proksit di luar punya potensi besar. Marketnya pun besar,” kata Hendry dalam Media Briefing Pencatatan Perdana Saham PT Global Digital Niaga Tbk, Selasa (8/11/2022).

Selanjutnya, dari bisnis online travel agency melalui Tiket.com, perusahaan juga melihat potensi pertumbuhan yang sama, Pasalnya, Tiket.com saat ini tidak hanya menyediakan tiket transportasi dan hotel, namun juga ragam kebutuhan lainnya hingga tiket konser.

Sementara untuk bisnis online groceries melalui Ranch Market, Hendry mengatakan penetrasinya masih kecil. Sehingga perseroan melihat potensi besar. Dengan catatan, jika product mix-nya dilakukan dengan benar, maka take rate atau marginnya disebut bisa double digit.

“Jadi sinergi dari tiga model bisnis ini, bisa diambil kesimpulan kira-kira Blibli punya track to profitability ke depannya,” kata Hendry.

3 dari 4 halaman

Pertumbuhan TPV

Hendry mengatakan, dari awal perseroan memiliki fokus untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Dengan ekosistem yang ada saat ini, Blibli mampu mencatatkan pertumbuhan total processing value (TPV) sebesar 89,29 persen secara tahunan atau Rp 24,13 triliun pada semester I 2022.

Bersamaan dengan itu, Hendry mengatakan perusahaan mampu mencatatkan monetisasi dari penjualan menjadi pendapatan menjadi sekitar 30 persen. Pada semester satu 2022, margin EBITDA Blibli menunjukkan perbaikan sebesar 140 bps.

“Jadi melihat indikasi dari semester I ini kami sangat optimis, dan ke depan pasti masih banyak efisiensi yang bisa kami lakukan,” ujar Hendry.

4 dari 4 halaman

Alokasikan Dana IPO untuk Bayar Utang, Begini Penjelasan Blibli

Sebelumnya, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli telah merampungkan hajat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Perseroan mematok harga penawaran pada Rp 450 per saham. Sementara jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO Blibli berhasil dimaksimalkan sepenuhnya hingga mencapai batas atas sebanyak 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

Sehingga perseroan mengantongi dana IPO sekitar Rp 8 triliun (USD 513 juta).Berdasarkan prospektus, perseroan berencana mengalokasikan Rp 5,5 triliun dana hasil IPO untuk pembayaran utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank BTPN Tbk (BTPN).

CFO & Co-founder PT Global Digital Niaga Tbk, Hendry menjelaskan, pinjaman itu berupa fasilitas pembiayaan yang akan dilunasi perseroan gelar penghimpunan dana lewat pasar modal.

“Jadi utang ini sendiri sebenarnya fasilitas pembiayaan yang memang sudah ada sebelumnya. Dan pada saat kami melakukan perjanjian kredit, memang ditulis bahwa pendanaan itu harus dibayar saat kita melakukan corporate action,” kata Hendry dalam Media Briefing Pencatatan Perdana Saham PT Global Digital Niaga Tbk, Selasa (8/11/2022).

Adapun nilai pinjaman terutang kedua bank itu masing-masing Rp 2,9 triliun, atau total senilai Rp 5,8 triliun.

Sementara jumlah utang yang akan dibayar menggunakan dana hasil IPO masing-masing bank sebesar Rp 2,7 triliun atau total Rp 5,5 triliun. Sisanya sebesar Rp 3 miliar akan dibayar menggunakan dana internal perseroan.

“Kami lihat dengan mendapatkan pendanaan ini, ada kepercayaan terutama dari pihak bank dengan bisnis modal kami. Bahwa kami ke depannya juga mampu melakukan pembayaran. Jadi sebenarnya ini sebuah sigial bahwa ada kepercayaan dari pihak lain atas bisnis model yang kami lakukan,” tutup Hendry.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS