Sukses

Ekonomi Global Melambat Bakal Berdampak terhadap Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi global yang melambat akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini seiring ekspor dan harga komoditas yang tertekan.

Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (27/11/2022),  dibandingkan negara di Asia, kontribusi ekspor Indonesia relatif minor dengan kisaran 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2021. Di sisi lain, harga komoditas diprediksi melemah terkait minyak kelapa sawit. Meski demikian, investasi di industri kendaraan listrik akan baik-baik saja di tengah tren global kendaraan listrik.

Sebagai eksportir terbesar batu bara di dunia, Indonesia sangat diuntungkan oleh krisis energi. Namun, pada saat yang sama, Indonesia mendorong agenda hijau dengan membawa target nol bersih pada 2060 membuat untuk rencana industri hijau, dan berputar ke kendaraan listrik dan ekosistem baterai.

“Kami mempertahankan pandangan kami tentang saham untuk lindung nilai inflasi, dan sambil cermati obligasi di tengah suku bunga global mencapai puncaknya,”

Di sisi lain,mendekati akhir November, Asia mendapatkan sejumlah kejutan di tengah masa depan inflasi dan kebijakan moneter. Sejauh ini inflasi telah menantang bagi sebagian besar ekonomi Asia yang menunjukkan tanda-tanda sinyal puncak inflasi akhir-akhir ini.

"Meskipun inflasi mungkin bertahan dalam jangka pendek, inflasi dapat menurun lebih signifikan pada 2023, dengan rata-rata inflasi semakin melambat setelahnya,”

Ekonom berharap kenaikan suku bunga acuan dapat melambat. “Namun, kita dapat mengharapkan beberapa kenaikan suku bunga lagi sebelum beralih ke tingkat pelonggaran pada 2023,”

Selain itu, Ashmore menyebutkan, beberapa risiko termasuk inflasi mencapai tingkat lebih tinggi dari yang diharapkan. Sebagai hasilnya dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut serta penundaan penurunan suku bunga.

"Jika China membuka kembali lebih lambat dari yang diharapkan itu mungkin mengarah untuk menurunkan harapan pertumbuhan di Asia lainnya,”

Faktor risiko lain termasuk guncangan untuk permintaan, menyebabkan pertumbuhan lebih lemah di Asia secara keseluruhan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Di Depan Pengusaha G20, Sri Mulyani Pamerkan Pertumbuhan Ekonomi RI 5,4 Persen pada 2022

Sebelumnya, sependapat dengan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, juga yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2022 bisa sentuh 5,4 persen.

Hal itu disampaikan kepada para pebisnis kelas dunia dalam acara B20 Summit 2022, di Nusa dua Bali, Senin (14/11/2022). B20 Summit 2022 ini merupakan gelaran untuk meramaikan Presidensi G20 Indonesia.

“Pemulihan ekonomi kita terus berlanjut. Seperti yang Anda lihat, kuartal ketiga kami tumbuh 5,72 persen. Ini sedikit lebih tinggi dari ekspektasi pemerintah sendiri. Kami berharap terus tumbuh di atas 5,4 persen tahun 2022,” kata Menkeu.

Menkeu menegaskan, Indonesia terus menjaga optimisme. Tetapi pada saat yang sama, Pemerintah Indonesia juga tetap waspada dengan kondisi global yang sangat dinamis. Kewaspadaan berarti harus bersiap untuk segala kemungkinan.

“Optimisme tetap penting. Sementara pada saat yang sama, kewaspadaan harus. Ini adalah pola pikir kita sebagai pembuat kebijakan ekonomi Indonesia. Kami tidak menakut-nakuti Anda dengan mengatakan bahwa kami harus waspada,” ujarnya.

Lanjut Sri mengungkapkan, di Indonesia pertumbuhan ekonomi terus didukung oleh permintaan domestik yang kuat, terutama pada konsumsi dan sekarang diikuti oleh pemulihan investasi.

Di sisi lain, penanganan pandemi yang efektif, dan berbagai kebijakan mendukung permintaan, terutama dalam bentuk bantuan sosial. Karena subsidi telah melindungi ekonomi masyarakat dari melonjaknya harga pangan dan energi.

“Kami juga menggunakan alat kebijakan kami untuk mendukung sisi penawaran. Ini dalam bentuk keringanan pajak, beberapa insentif dan juga dalam hal ini dukungan pembiayaan. Kombinasi keduanya harus selalu dalam rencana yang tepat,” ujar Menkeu.

Menurutnya, penting untuk mengkolaborasikan kebijakan fiskal dan moneter. Hal itu bertujuan agar kebijakan yang dirumuskan bisa tepat sasaran, dan mampu menopang serta meningkatkan kondisi pasar tenaga kerja.

3 dari 4 halaman

Menko Airlangga: Kolaborasi Sektor Publik dan Swasta Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atau Menko Airlangga mengatakan salah satu kunci untuk mempercepat pemulihan ekonomi dunia adalah kolaborasi antara sektor publik dan swasta.

Hal itu disampaikan dalam B20 Summit Indonesia yang merupakan bagian dari KTT G20, di Bali, Senin (14/11/2022).

“Kolaborasi antara sektor publik dan swasta adalah kunci arsitektur ekonomi pasca Pandemi,” kata Airlangga Hartarto.

Dalam sambutannya, Airlangga menekankan bahwa dunia sedang menghadapi perubahan yang sangat cepat, dimana transformasi terjadi di berbagai sektor. 

Menurut dia, transformasi akan sangat bermanfaat bagi kita semua, jika Pemerintah mampu memegang kendali dan menjawab tantangan masa depan melalui kolaborasi antara publik dan swasta.

“Kami berada di tengah-tengah transformasi dari satu sistem ke sistem lainnya. Transformasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, pemerintah harus berada di kursi pengemudi dalam menjawab tantangan Masa Depan melalui kolaborasi publik-swasta yang lebih kuat untuk tindakan kebijakan politik yang konkret,” jelas Airlangga.

Maka penting bagi kita semua untuk memanfaatkan peluang revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan, dan inovasi dalam melakukan transformasi.

“Satu hal yang penting, Pemerintah tidak bisa menyelesaikan krisis secara sepihak. Sektor bisnis juga merupakan kunci untuk membantu menyelesaikan krisis. Ada pepatah lama yang melandasi budaya kerja Indonesia “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” yang memiliki makna bersatu Kita teguh bercerai kita runtuh,” ujar Airlangga.

4 dari 4 halaman

41 Negara

Adapun dalam B20 ini tercatat 41 negara mengakui pentingnya ekonomi inklusif. Dia berharap dengan kolaborasi dalam B20 ini bisa mendorong ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,4 persen pada tahun 2022.

“Jauh lebih tinggi dari perkiraan awal oleh organisasi global, dan pada kuartal ketiga tahun ini kami bahkan tumbuh sebesar 5,72 Persen dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan sangat penting untuk menciptakan bisnis yang ramah lingkungan. Hal itu bertujuan untuk menjaga masa depan anak bangsa supaya terhindar dari kemiskinan maupun kelaparan. Oleh karena itu, untuk menuju masa depan yang lebih baik kita harus siap menerapkan revolusi hijau lainnya, disamping melakukan transformasi.

“Kita harus siap untuk Revolusi Hijau lainnya, berinovasi untuk transformasi yang lebih besar Apa ekonomi digital yang melindungi planet kita dan masa anak-anak kita dan cicit kita. Kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari transformasi Indonesia,” pungkas Airlangga.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS