Sukses

Bursa Saham Asia Merosot Tertular Wall Street

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia merosot pada perdagangan Rabu (19/1/2022) mengikuti wall street atau bursa saham Amerika Serikat (AS) yang tertekan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 merosot 1,42 persen pada awal sesi perdagangan. Sedangkan indeks Topix tergelincir 1,22 persen. Indeks Kospi Korea Selatan merosot 0,31 persen dan indeks Kosdaq turun 0,4 persen.

Sementara itu, di Australia, indeks ASX 200 melemah 0,82 persen dan sebagian besar sektor  turun. Sektor saham keuangan turun 1,3 persen dan saham bank alami aksi jual.

"Bursa saham turun sementara saham minyak naik semalam karena pasar memperkirakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga lebih cepat untuk mengendalikan inflasi,” tulis Analis ANZ Research dilansir dari CNBC, Rabu pekan ini.

Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones tergelincir lebih dari 540 poin setelah aksi jual saham Goldman Sachs. Hal ini lantaran bank investasi itu mencatat kinerja keuangan yang meleset dari harapan analis untuk pendapatan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah seiring saham teknologi yang sensitive terhadap suku bunga.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Indeks Dolar AS

Di pasar mata uang, indeks dolar AS diperdagangkan di kisaran 95,73 dari level sebelumnya 95,12. Analis ANZ Research mengatakan, lonjakan imbal hasil obligasi AS membebani selera risiko dan memberikan dorongan untuk mata uang utama.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun mencapai 1,87 persen pada Selasa pekan ini, dan merupakan level tertinggi dalam dua tahun setelah sempat sentuh 1,5 persen pada awal 2022.  Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun sentuh 1 persen.

Yen Jepang berada di kisaran 114,65 per dolar AS. Sementara itu, harga minyak mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun. Harga minyak Brent naik lebih dari 1 persen dan harga minyak AS menguat 2 persen. Harga minyak pada jam perdagangan di Asia naik 1,63 persen menjadi USD 86,82 per barel.