Sukses

Pasar Khawatirkan Kinerja Kuartal I Bikin IHSG ke 5.100

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bak roller coaster memasuki kuartal II 2015. Laporan kinerja emiten terutama perbankan pada kuartal I 2015 di bawah harapan pelaku pasar ditambah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat memberikan sentimen negatif ke IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham Senin 27 April 2015, IHSG harus tergelincir 189,90 poin (3,49 persen) ke level 5.245,44. Indeks saham ini hampir menembus penutupan perdagangan saham pada 2 Januari 2015 di level 5.242.

Tekanan IHSG pun terus berlanjut pada perdagangan saham Selasa pagi ini. IHSG terus tertekan di zona merah. IHSG dibuka turun 34,30 poin ke level 5.211 pada pra pembukaan perdagangan saham. Sepuluh sektor saham tertekan yang dipimpin oleh sektor saham infrastruktur turun 1,68 persen, sektor saham konstruksi melemah 1,24 persen, dan sektor saham perdagangan melemah 1,58 persen.

Di data RTI pada pukul 11.36 WIB, IHSG turun 58,51 poin (1,12 persen) ke level 5.186,92. Padahal IHSG sempat sentuh level tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia di level 5.518 pada 31 Maret 2015.

Sejumlah analis menilai, tekanan terhadap IHSG yang terjadi didorong terutama dari sentimen domestik. Laporan kinerja keuangan pada kuartal I 2015 sejumlah emiten yang di bawah harapan pelaku pasar telah memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2015. David memprediksikan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2015 hanya di kisaran 4,8%-5%.

"Tekanan terhadap IHSG sejauh ini soal laporan keuangan kuartal I 2015. Pelaku pasar banyak melepas sejumlah saham bank berkapitalisasi besar mulai dari BRI, Bank Mandiri dan BCA," ujar Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto saat dihubungi Liputan6.com.

Ia mengatakan, perlambatan ekonomi Indonesia yang terjadi karena suku bunga acuan tinggi mencapai 7,5 persen membuat emiten cenderung menahan ekspansinya. Emiten cenderung menahan meminjam dari bank untuk membiayai belanja modal lantaran suku bunga tinggi.

"Dengan bunga tinggi jadi membuat emiten memangkas belanja modal. Padahal bank mendapatkan kontribusi utamanya dari suku bunga pinjaman," kata David.

(Foto: Antara)

Melihat kondisi itu, memang saham-saham bank berkapitalisasi besar sangat tertekan pada perdagangan saham Senin 27 April 2015. Saham BBRI turun 7,14 persen menjadi Rp 12.025 per saham, saham BMRI melemah 5,46 persen ke level Rp 11.250 per saham, dan saham BCA turun 4,7 persen ke level Rp 14.200.

Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas, John Rachmat mengatakan, pelaku pasar kaget terhadap rilis kinerja emiten terutama perbankan. Hal itu mengingat sektor perbankan menjadi barometer ekonomi.

"Saya rasa pertemuan FOMC bukan menjadi sentimen utama ke IHSG," tutur John.

Sentimen lainnya juga didorong dari sejumlah hasil penjualan motor, mobil dan semen melemah pada kuartal I 2015. Penjualan mobil secara nasional turun sebesar 14 persen menjadi 282.000 unit. "Underlying makro ekonomi melambat membuat kinerja perusahaan tidak terlalu sukses," kata John.

Ia menambahkan, neraca perdagangan Indonesia memang positif. Akan tetapi, hal itu didorong impor melemah, sedangkan ekspor juga turun. Selain itu, pelaku pasar yang mengharapkan belanja anggaran pemerintah dapat direalisasikan malah turun di kuartal I 2015. Hal itu beri sentimen negatif ke pasar.

Sedangkan Kepala Riset PT Bahana Securities, Harry Su mengatakan, ada tiga faktor mendorong penurunan IHSG. Pertama, harga komoditas melemah membuat pendapatan petani melemah. Kedua, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan impor rendah dan emiten menunda realisasi belanja modal. Ketiga, pemerintah secara agresif mendorong penerimaan pajak menunjukkan perlambatan ekonomi.

John mengatakan, sentimen negatif belum akan hilang dalam waktu dekat ini. Hal itu mengingat rilis laporan keuangan emiten kuartal I 2015 akan berlangsung hingga 30 April 2015. Sedangkan pengumuman produk domestik bruto (PDB) pada 5 Mei dinilai tidak akan terlalu mengkhawatirkan pasar.

"Tiga hari ke depan mungkin masih tertekan mengingat perusahaan kemungkinan melaporkan kinerja keuangan turun," kata John. (Ahm/)