Sukses

Subsidi Energi Berkurang, Ini Sektor Saham yang Diuntungkan

Liputan6.com, Jakarta - Perdebatan mengenai subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dinilai membawa sentimen positif untuk sektor batu bara.

Dalam riset PT Daewoo Securities menyebutkan, dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2015 subsidi BBM diproyeksikan mencapai Rp 291 triliun, naik dari pagu APBN-perubahan 2014 sebesar Rp 247 triliun.

Presiden Terpilih periode 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi) meminta presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk berbagi beban pagu subsidi BBM. Besarnya subsidi BBM dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2015 mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam pembangunan.

Wacana pengurangan subsidi BBM menjadi salah satu strategi efisiensi yang dapat dipilih meski pun akan menyebabkan turbulensi ekonomi dalam jangka pendek.

"Strategi efisiensi lain yang dapat diimplementasikan adalah konversi BBM bersubsidi ke gas dan penggunaan batu bara mengantikan BBM sebagai pembangkit tenaga listrik," tulis riset PT Daewoo Securities, yang dikutip Selasa (19/8/2014).

Selain jumlah penduduk, keunggulan kompetitif Indonesia adalah sumber daya alam termasuk batu bara. Produksi batu bara terus mencatatkan kenaikan mulai 2010 hingga 2013. Produksi batu bara mencapai 258,9 juta ton.

Produksi batu bara Indonesia selama ini menjadi komoditas ekspir selain konsumsi domestik. Saat ini, kenaikan harga minyak mentah dan melandainya harga komoditas batu bara menjadi momentum yang baik bagi peningkatan pemanfaatan batu bara dalam negeri.

Dengan melihat kondisi itu, dalam riset PT Daewoo Securities merekomendasikan investor untuk memperhatikan sektor saham batu bara.

Rekomendasi Saham

Dari beberapa perusahaan batu bara berkapitalisasi besar, riset PT Daewoo Securities mencatat Indo Tambangraya Megah Tbk memiliki price earning full year relatif menarik sekitar 12,1x dibandingkan perusahaan tambang lain seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA)  di kisaran 31,7 x dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) di kisaran 42,2x.

Sementara itu, Analis PT Samuel Sekuritas, Todd Showalter mengatakan, kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) cenderung tertekan pada semester I 2014. Hal ini terlihat dari earning before interest, tax and depreciation (Ebitda) sekitar US$ 145 juta. Angka ini di bawah estimasi sekitar 44 persen.

Selain itu, margin Indo Tambangraya juga mengalami tekanan pada kuartal II 2014. Hal itu seiring harga rata-rata penjualan batu bara turun dari US$ 70,9 per ton menjadi US$ 68,1 per ton.

Meski demikian, perusahan batu bara yang sebagian besar sahamnya dimiliki Banpu ini mampu mengontrol biaya operasional. Todd menuturkan, harga penjualan batu bara masih tertekan pada semester II 2014. Persediaan batu bara berlebih membuat harga batu bara di bawah US$ 80 per ton hingga 2016.

"Kami rekomendasikan hold dengan target price Rp 26.800 yang merefleksikan price earning 11,5x pada 2015," kata Todd.

Pada perdagangan saham hari ini, saham ITMG naik tipis 0,09 persen ke level Rp 29.300 per saham. Nilai transaksi saham sekitar Rp 625,8 juta. (Ahm/)