Duduk Perkara Dugaan Pengeroyokan Siswa Sekolah Rakyat Pati

Insiden itu membuat korban terluka dan harus menjalani perawatan medis.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 14:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang siswa kelas X Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Tlogowungu, Kabupaten Pati berinisial D, diduga dikeroyok sejumlah teman di dalam kelas. Insiden yang terjadi usai makan malam, Selasa (29/9/2026) itu, membuat korban terluka dan harus menjalani perawatan medis.

Peristiwa itu diketahui setelah seorang siswa melapor. Wali yang bertugas di sekolah setempat kemudian mendatangi lokasi, namun kejadian disebut telah dilerai oleh siswa lainnya.

Waka Kesiswaan Sekolah Rakyat Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro, menegaskan, pihak sekolah memang tidak membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun di lingkup Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tlogowungu Pati.

“Untuk berita yang sedang viral saat ini, kami sedang mendalaminya bersama tim guru, wali asuh dan wali asrama. Apa pun alasan dan latar belakangnya, kami tidak membenarkan tindakan tersebut,” ujar Fachrudin, Rabu (7/10/2026).

Setelah kejadian, lanjut Fachrudin, korban sempat diajak menjalani pemeriksaan dan perawatan di fasilitas kesehatan. Namun korban memilih beristirahat di rumah.

Bahkan pihak sekolah kemudian memisahkan kamar korban dari lingkungan pengasuhan dan tetap memantau kondisinya.

Keesokan harinya, imbuh Fachrudin, korban dibawa ke IGD rumah sakit, karena kondisinya dinilai membutuhkan pemeriksaan medis.

“Setelah di-rontgen, dari dokter area dada dan leher aman. Hanya ada luka sedikit di bagian gusi. Dinyatakan boleh pulang atau rawat jalan dan diberikan rujukan ke dokter gigi,” jelas Fachrudin.

Keterangan pihak Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tlogowungu Pati tersebut, berbeda dengan versi keluarga. Ibu korban mengaku kecewa, karena informasi mengenai kondisi anaknya tidak segera disampaikan secara terbuka.

Diperoleh informasi dari sejumlah sumber, pihak keluarga menyebut baru mengetahui kondisi korban beberapa hari setelah kejadian. Korban kemudian dibawa ke IGD RSUD Suwondo Pati pada 5 Oktober 2026 untuk menjalani perawatan.

Menurut keluarga, korban mengalami sejumlah luka, termasuk dugaan gigi tanggal akibat insiden tersebut. Keluarga juga mempertanyakan informasi awal mengenai penyebab luka korban.

Ibu korban mengaku pihak sekolah sempat menyampaikan bahwa luka tersebut terjadi karena korban jatuh dari tangga, bukan akibat kekerasan teman-temannya.

Keluarga juga mengaku mendapat informasi bahwa korban diminta tidak memberitahukan kepada keluarga bahwa luka tersebut berkaitan dengan dugaan penganiayaan.

Merasa belum memperoleh penjelasan memadai, keluarga meminta klarifikasi kepada pihak sekolah. Mediasi antara keluarga korban dan keluarga siswa yang diduga terlibat kemudian dilakukan, tetapi pertemuan pertama belum menghasilkan penyelesaian.

Mediasi lanjutan digelar pada Senin, 5 Oktober 2026, di lingkungan Sekolah Rakyat Tlogowungu.

Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Sosial dan instansi lainnya. Pihak sekolah menyampaikan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Sebab Sekolah Rakyat berada di bawah Kementerian Sosial.

Sekolah juga menyebut unsur kementerian bersama bidang hukum akan turun langsung menangani persoalan tersebut.

Di sisi lain, pihak sekolah belum dapat memastikan jumlah siswa yang terlibat. Berdasarkan informasi awal, imbuh Fachrudin, tidak semua siswa yang berada di lokasi berperan sebagai pelaku. Sebagian siswa disebut berupaya melerai, sementara lainnya hanya berada di sekitar lokasi.

“Jadi kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” ungkap Fachrudin saat ditemui Liputan6.com di Sekolah Rakyat Tlogowungu, Rabu (7/10/2026).

 

Terkait keberlanjutan pendidikan korban, pihak SR Tlogowungu Pati mengaku telah melakukan pendekatan persuasif. Dalam komunikasi awal, korban disebut masih ingin melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat dan tidak takut kembali bertemu dengan teman-temannya.

Saat ini, korban berada di rumah untuk menjalani perawatan. Pihak Sekolah Rakyat Tlogowungu mengaku telah menawarkan perawatan di sekolah, tetapi keluarga memilih merawat korban di rumah.

Sekolah Rakyat Tlogowungu menampung sekitar 320 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Mereka didampingi sekitar 150 tenaga pendidik dan pendamping.

Fachrudin menegaskan, pengawasan terhadap siswa terus diperkuat untuk memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman.

“Kami butuh tenaga ekstra untuk mendidik dan membimbing mereka, sehingga menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman,” katanya.

Pengawasan dilakukan melalui kamera CCTV yang terpasang di sejumlah area gedung. Namun, kamera tidak dipasang di kamar siswa karena merupakan area privasi.

Kasus tersebut kini juga memasuki ranah hukum. Keluarga korban telah membuat pengaduan ke Polresta Pati terkait dugaan kekerasan yang dialami korban.

Hingga berita ini ditulis, Kasi Humas Polresta Pati Ipda Hafid Amin saat dikonfirmasi mengaku masih melakukan pendalaman terhadap laporan tersebut.