Dua Juta Rupiah yang Mengubah Dapur Dermiyanti

Berawal dari modal Rp2 juta, Dermiyanti kini memiliki 15 karyawan dan mampu memproduksi hingga 3.000 bolu per hari.

Diterbitkan 05 September 2025, 01:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi belum benar-benar selesai ketika aktivitas di rumah produksi Dermiyanti di Muaro Bungo, Jambi, sudah berjalan. Adonan, loyang, dan oven silih berganti digunakan. Dalam sehari, tempat ini bisa menghasilkan hingga 3.000 bolu.

Brownies, sarang semut, rainbow cake, hingga dua produk andalannya, Roti Mandau Durian dan Mandau Coklat, diproduksi untuk memenuhi permintaan pasar di Bangko, Sarolangun, dan Tebo. Dengan harga jual sekitar Rp15.000 per bolu, omzet hariannya kini berkisar Rp15 juta hingga Rp20 juta.

Sulit membayangkan skala usaha itu jika melihat bagaimana Dermiyanti memulainya.

Pada 2014, ia merintis usaha kue dari rumah dengan kapasitas produksi yang masih terbatas. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2018, Dermiyanti bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar dan mendapatkan pinjaman modal awal Rp2 juta.

Modal tersebut perlahan digunakan untuk mengembangkan usaha. Seiring waktu, plafon pinjamannya meningkat hingga hampir Rp10 juta. Bagi Dermiyanti, dukungan itu tidak hanya membantu menambah modal, tetapi juga membuka kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan baru.

Salah satunya terjadi pada 2024 ketika ia mendapat kesempatan mengikuti studi banding ke Bogor yang difasilitasi PNM Mekaar.

Dari perjalanan tersebut, Dermiyanti membawa pulang sejumlah resep. Salah satunya Roti Mandau Durian, resep yang sebelumnya pernah dicoba pembuat kue lain di Muaro Bungo, tetapi belum menemukan tekstur yang dianggap pas.

“Saat pulang ke Jambi saya coba resep hasil studi banding yang diajak sama PNM yaitu Roti Mandau Durian, resep yang sebelumnya pernah dicoba pembuat kue lain di Muaro Bungo tapi belum ada yang berhasil menemukan tekstur yang pas,” cerita Dermiyanti.

Ia kemudian mencoba resep itu berulang kali hingga menemukan hasil yang sesuai. Dari proses tersebut lahir dua produk yang kini menjadi andalannya, Roti Mandau Durian dan Mandau Coklat.

Permintaan terhadap kedua produk itu ikut mendorong peningkatan produksi. Rumah produksi Dermiyanti bahkan bisa beroperasi sejak pagi hingga dini hari. Ketika pesanan sedang banyak, para pekerja harus lembur hingga menjelang subuh.

Pertumbuhan usaha itu juga membuat Dermiyanti mulai memikirkan aspek legalitas. Dengan fasilitasi PNM Mekaar, ia mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk memperkuat fondasi usahanya.

Yang ikut berubah bukan hanya jumlah produksi. Dari usaha yang dulu dikerjakan dalam skala kecil, kini Dermiyanti mempekerjakan 15 orang. Menariknya, para pekerjanya juga merupakan nasabah Mekaar.

“Saya juga ngga nyangka dari awal moda dua juta sekarang bisa punya 15 karyawan, yang juga menjadi nasabah Mekaar,” tambahnya.

 

Kemaua Untuk Berusaha dan Terus Belajar

Direktur Utama PT PNM Kindaris mengatakan perjalanan Dermiyanti menunjukkan bahwa pembiayaan usaha kecil dapat berkembang ketika disertai pendampingan dan kemauan untuk terus belajar.

“Kami tidak pernah sekadar menyalurkan modal, kami menitipkan harapan. Kisah Ibu Dermiyanti mengajarkan kami bahwa dua juta rupiah, bila dirawat dengan kepercayaan dan ketekunan, bisa tumbuh menjadi rezeki bagi belasan keluarga di sekitarnya,” kata Kindaris.

Bagi Dermiyanti, membesarkan usaha tidak selalu berjalan mulus. Salah satu pelajaran terbesarnya justru datang dari proses mencoba resep yang belum tentu langsung berhasil.

"Dari modal awal dua juta, saya belajar bahwa keberanian untuk terus mencoba adalah kuncinya. Ilmu dan resep dari Bogor saya bawa pulang, saya coba terus sampai berhasil walau yang lain pernah gagal. Jangan pernah takut capek dan lembur, karena dari kerja keras inilah kita bisa membuka pintu rezeki untuk keluarga dan belasan orang di sekitar kita," tutur Dermiyanti.

Kini, delapan tahun setelah bergabung sebagai nasabah Mekaar, usaha Dermiyanti telah berkembang jauh dari titik awalnya. Produksi ribuan bolu setiap hari sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi 15 pekerjanya.

Bagi PNM, perjalanan tersebut juga menjadi gambaran bagaimana hubungan dengan nasabah tidak berhenti ketika pembiayaan diberikan. Pendampingan, pelatihan, dan akses pengembangan usaha menjadi bagian dari perjalanan yang terus berjalan.

“Kesetiaan seorang nasabah adalah cermin dari kepercayaan yang kami jaga bersama. Pada akhirnya, keberhasilan mereka adalah bukti paling jujur bahwa pendampingan kami telah sampai ke tempat yang tepat,” ujar Kindaris.