Cerita Nenek Uwar Lolos Kebakaran usai Lompat dari Rumah Panggung

Nenek Uwar bersama anaknya nekat melompat dari rumah panggungnya untuk menyelamatkan diri.

Diterbitkan 25 Juli 2026, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran melanda puluhan rumah di permukiman Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7/2026) siang. Ratusan warga panik dan berpacu menyelamatkan diri saat api dengan cepat melalap bangunan di kawasan tersebut.

Salah seorang warga, Ibu Uwar (67), menceritakan detik-detik mencekam saat api pertama kali muncul dari fasilitas MCK umum yang berada tepat di pinggir permukiman.

Saat menyadari bahaya yang mengintai, dia bersama anaknya nekat melompat dari rumah panggungnya untuk menyelamatkan diri.

"Lari dari pas api ada di kamar mandi, terus minta tolong, lompat. Udah minta tolong, balik lagi, api udah di tengah-tengah rumah warga," kata Uwar.

Uwar mengungkapkan, saat kejadian dirinya sedang berada di dalam rumah. Suara teriakan histeris anak-anak yang melihat percikan api di area MCK membuatnya langsung tersadar dan segera menyelamatkan anggota keluarganya.

"Sama anak langsung loncat keluar dari rumah. Iya, sama-sama kita loncat dari rumah sambil ngelihatin api," tuturnya.

Tak Pikirkan Harta

Kepanikan serupa dialami oleh Pak Dede, warga terdampak lainnya. Saat kejadian sekitar pukul 14.30 WIB, dia sedang berada di luar rumah dan mendapati api sudah membesar memutus akses gang permukiman.

Tanpa memikirkan harta benda, dia bergegas menembus gang untuk mengevakuasi empat anggota keluarganya.

"Saya membawa lari keluarga keluar secepatnya. Tidak seimbang dengan api, dalam waktu 15 menit ini semua habis," ungkap Dede.

Meskipun seluruh bangunan rumah serta harta benda milik Dede dan puluhan warga lainnya rata dengan tanah, warga bersyukur aksi kesigapan dan semangat saling tolong-menolong membuat seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri tanpa ada korban jiwa maupun luka-luka.

Musnahkan Lumbung Padi

Tak hanya meratakan rumah warga, kobaran api juga memusnahkan lumbung padi (leuit) yang menjadi simbol ketahanan pangan dan warisan leluhur. Padahal, masyarakat adat pimpinan Abah Hendrik Suhendrik Wijaya baru menggelar puncak tradisi Seren Taun ke-447 atau syukuran atas hasil panen pada Minggu (12/7/2026).

Perayaan tahunan tersebut merupakan wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil panen sekaligus upaya melestarikan tradisi leluhur melalui prosesi Ampih Pare ka Leuit hingga seni pertunjukan rakyat.

Uwar mengaku hanya bisa pasrah saat mengetahui lima bangunan leuit milik keluarganya ikut hangus terbakar. Padahal, leuit tersebut berisi cadangan pangan hasil panen yang dihimpun untuk persediaan bertahun-tahun.

"Barang-barang di dalam rumah alhamdulillah sebagian nggak kebakar. Cuma punya Ibu, lima leuit yang terbakar buat stok bertahun-tahun," tutur Uwar.

Meskipun bagian utama rumahnya selamat dari jilatan api, Uwar harus mengurut dada melihat seluruh persediaan padinya di dalam leuit menjadi abu. Dia mengaku tidak bisa menaksir berapa kuintal padi yang hangus akibat musibah tersebut.

"Cuma padi yang habis. Enggak tahu itu berapa kuintalnya, yang jelas itu buat persediaan bertahun-tahun," ungkapnya pasrah.