Pesawat Tempur F-16 dan Super Tucano Mendarat di Jalan Tol Lampung

Dua pesawat yang mendarat di ruas tol tersebut yakni Super Tucano dan F-16. Pemandangan ini pertama kali terjadi di Indonesia. Ketika jalan tol difungsikan sebagai landasan (runway) alternatif bagi pesawat tempur dalam skema pertahanan negara.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 16:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dua pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara (AU), mendarat di Jalan Tol Terbanggi Besar Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka), Lampung, Rabu (11/2/2026).

Dua pesawat yang mendarat di ruas tol tersebut yakni Super Tucano dan F-16. Pemandangan ini pertama kali terjadi di Indonesia. Ketika jalan tol difungsikan sebagai landasan (runway) alternatif bagi pesawat tempur dalam skema pertahanan negara. 

Kedua pesawat berhasil mendarat dengan mulus. Ini menjadi bagian dari uji coba yang dilakukan TNI. Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan mengatakan, seluruh rangkaian uji coba berjalan aman dan lancar.

“Ini yang pertama kali uji coba pendaratan pesawat tempur di jalan tol. Alhamdulillah hari ini dapat kita laksanakan dengan aman dan lancar. Dua pesawat tempur sudah melakukan uji coba, Super Tucano dan F-16, dan semuanya dilaporkan dalam kondisi aman,” kata Donny di lokasi, Rabu (11/2).  

Donny menjelaskan, pendaratan pesawat militer di jalan tol ini menjadi bagian dari konsep sistem pertahanan semesta. Di mana pertahanan negara melibatkan seluruh elemen, tidak hanya TNI. 

Uji coba ini adalah kolaborasi antara Kementerian Pertahanan, Kementerian Pekerjaan Umum, TNI AU, Hutama Karya selaku operator tol, pemerintah daerah, serta masyarakat menjadi wujud nyata dari konsep bela negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

“Ini adalah milestone yang sangat baik dalam sistem pertahanan kita. Pertahanan bukan hanya urusan TNI, tetapi seluruh elemen masyarakat terlibat aktif,” jelasnya.

Puji Keahlian Pilot

Dalam kesempatan itu, Donny juga mengapresiasi profesionalisme para penerbang TNI AU. Dia menyoroti lebar jalan tol yang hanya sekitar 24 meter, jauh lebih sempit dibanding landasan pacu bandara pada umumnya yang mencapai 45 hingga 60 meter.

“Dengan lebar 24 meter ini sangat riskan. Namun penerbang TNI AU sudah dilatih untuk mendarat di runway sempit, dan semuanya berhasil dengan baik,” ucapnya.

Jalan Tol dan Jalan Nasional Dirancang untuk Pendaratan Pesawat

Ke depan, pemerintah akan mengembangkan konsep serupa di berbagai wilayah Indonesia. Jalan tol maupun jalan nasional akan dirancang dengan spesifikasi tertentu agar sewaktu-waktu dapat difungsikan sebagai runway alternatif. 

Hal ini, lanjut dia, sejalan dengan konsep pertahanan berbasis pulau-pulau besar, sehingga setiap pulau memiliki banyak titik alternatif pangkalan udara apabila pangkalan utama mengalami gangguan. 

“Kita sudah punya roadmap. Ke depan, pembangunan jalan tol akan disesuaikan dengan spesifikasi yang memenuhi persyaratan sebagai runway,” ungkapnya.