Randang Kemanusiaan untuk Korban Banjir Bandang Padang

Diki menceritakan asal usul randang menjadi primadona logistik korban bencana. Tahun 2016, Sumbar mulai menjadikan randang sebagai andalan ketika mengirim bantuan. Pihaknya berupaya memberikan makanan yang sama untuk korban bencana di Padang.

Diterbitkan 05 Desember 2025, 16:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Randang menjadi menu andalan yang dikirim dari Sumatera Barat ketika bencana terjadi di daerah lain. Bukan tanpa alasan. Randang salah satu kuliner khas Minang terkenal tahan lama dan bergizi dengan bahan utama daging sapi.

Sepekan terakhir, bencana melanda Sumatera Barat. Mulai 25 November 2025. Melalui Gerakan warga bantu warga, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) menggalang donasi dan menyalurkannya ke berbagai wilayah terdampak.

Salah satu bentuk bantuan yang disalurkan LBH dari donasi yang terkumpul yakni makanan siap saji.

“Hari ini kita masak randang di kantor LBH, untuk makan malam warga terdampak banjir bandang di Kota Padang seperti di Gurun Laweh,” kata Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi kepada Liputan6.com, Jumat (5/12/2025).

Diki menceritakan asal usul randang menjadi primadona logistik korban bencana. Tahun 2016, Sumbar mulai menjadikan randang sebagai andalan ketika mengirim bantuan. Pihaknya berupaya memberikan makanan yang sama untuk korban bencana di Padang.

“Korban banjir bandang butuh makanan yang tidak melulu mie instan, maka hari ini kami memasak 30 kilogram randang untuk beberapa titik pengungsi di Padang,” jelasnya.

Data Bencana Sumbar

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mencatat dampak banjir bandang dan longsor di Sumbar data per Jumat (5/12/2025), sebanyak 210 jiwa meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 184 telah berhasil diidentifikasi sementara 26 lainnya masih belum teridentifikasi. Selain itu, masih ada 214 warga yang dilaporkan hilang.

Ratusan orang mengalami luka-luka, dengan data sementara mencatat 112 korban mengalami cedera akibat bencana.

Gelombang pengungsian pun terjadi, di mana 22.354 warga terpaksa meninggalkan rumah dan tinggal di lokasi-lokasi pengungsian. Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang terdampak mencapai 185.375 jiwa.

Kerusakan hunian tercatat sangat masif. Sebanyak 1.712 unit rumah mengalami rusak ringan, 557 unit rusak sedang, dan 1.574 unit rusak berat. Selain itu, 38.701 rumah terendam banjir dan 996 rumah hilang atau hanyut terbawa arus.