Kasus Keracunan MBG di Banyuwangi, Anggota DPRD Sidak ke Sekolah

Kasus dugaan keracunan di dua sekolah itu diampu oleh SPPG yang sama di Desa kelir, yaitu Yayasan Cakra Danta Berdikari. Dari kasus dugaan keracunan MBG ini, awalnya pihak sekolah seperti terkesan takut dan tertutup dalam melaporkan kasus.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 13:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Kasus dugaan keracunan akibat konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banyuwangi terus terjadi. Anggota DPRD Banyuwangi pun turun tangan dan langsung melakukan sidak ke sekolah. 

Setelah insiden diare yang menimpa 112 pelajar di MAN 1 Banyuwangi, laporan kasus baru di sejumlah sekolah lain juga mencuat. Kasus dugaan keracunan MBG terjadi di SMA NU Gombengsari, kecamatan Kalipuro yang menimpa 10 murid dan 1 guru.

Masih di kecamatan yang sama, kasus dugaan keracunan setelah konsumsi menu MBG terjadi di SMPN 3 Kalipuro Desa Telemung. Sebanyak 20 pelajar dilaporkan sakit termasuk tidak masuk sekolah karena alasan yang sama.

Dari hasil data di lapangan banyak pelajar di SMP 3 Kalipuro mengeluhkan sakit perut. Sayangnya mereka hanya disuruh pulang lebih awal dan diobati di UKS sekolah tanpa ditangani tenaga kesehatan dari Puskesmas. 

“Kami melakukan sidak, dan dari keterangan dari Puskesmas Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro ada 11 orang termasuk guru dan salah satunya dilarikan ke RSUD Blambangan,” kata Anggota Komisi IV DPRD Banyuwangi, Zamroni  Senin (27/10/2025).

Dari kasus dugaan keracunan MBG ini, awalnya pihak sekolah seperti terkesan takut dan tertutup dalam melaporkan kasus. Zamroni menegaskan, sidak sebagai upaya agar program MBG bisa berjalan lebih maksimal dan tak ada lagi kasus keracunan.

“Mari kita kawal program baik ini bersama-sama demi mewujudkan visi misi Presiden Indonesia,” tegasnya usai melakukan sidak di SMA NU Gombengsari, SMPN 3 Kalipuro. 

Untuk diketahui, kasus dugaan keracunan di dua sekolah itu diampu oleh SPPG yang sama di Desa kelir, yaitu Yayasan Cakra Danta Berdikari. 

Dia mempertanyakan peran Ahli gizi dalam setiap SPPG. Ketua Fraksi Nasdem itu meminta agar ahli gizi bekerja secara profesional untuk memberi rasa aman kepada pelajar yang menyantap MBG.

“Karena ini persoalan jiwa dan kesehatan anak didik di Banyuwangi, dimana itu bagian dari bidang kami di Komisi IV DPRD Banyuwangi,” tuturnya.

Pengakuan Wali Kelas

Wali Kelas 7A, Mahmud Hamzah membenarkan adanya 20 orang siswanya yang sakit. Sayangnya pihaknya tidak menyebut secara spesifik sakit apa dialami oleh siswanya.

“Saya tidak bisa menyebutkan ini adalah tanda-tanda sebuah keracunan, karena tanda-tanda yang kita dapati tidak seperti itu. Cuma anak-anak alasannya sakit gitu aja,” ujarnya. 

Mahmud mengungkap, sakit yang dialami para murid itu terjadi setelah siswa menyantap menu MBG baru yang belum pernah disajikan sebelumnya sejak 22 September lalu, yaitu kare yang notabene bersantan. Padahal makanan bersantan sangat berisiko cepat basi jika tidak dijaga kehangatannya.

“Dari pengakuan murid memang tercium seperti bau basi, mungkin itu karena santan jadi memang tidak tahan lama,” ungkapnya.

Setidaknya ada tujuh siswa yang masuk UKS karena mengeluh pusing. Lantaran tidak mengalami gejala berat, pihak sekolah hanya memberikan obat ringan dan menyuruhnya istirahat. 

“Kami tidak langsung membawa anak-anak ke puskesmas karena gejalanya ringan, hanya pusing. kami juga sudah dikirimi obat-obatan dasar dari puskesmas, termasuk paracetamol, untuk penanganan di sekolah,” ucap Mahmud.