Kisah Para Santri Bertahan Hidup Belasan Jam di Bawah Runtuhan Bangunan Ponpes Al-Khoziny, Teriakan Isyarat Kehidupan

Ketiganya yakni Alfatih, Haical dan Yusuf. Alfatih ditemukan dalam kondisi selamat dengan luka lecet ringan pada Rabu (1/10/2025) malam. Dia sudah dibawa ke RSUD R.T Notopuro Sidoarjo.

Diterbitkan 02 Oktober 2025, 19:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Suasana haru sangat terasa di Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, ketika jasad tiga orang santri berhasil dievakuasi dari reruntuhan musala. Ketiganya ditemukan dalam keadaan selamat meski sudah beberapa hari terjebak di beton-beton yang ambruk.

Ketiganya yakni Alfatih, Haical dan Yusuf. Alfatih ditemukan dalam kondisi selamat dengan luka lecet ringan pada Rabu (1/10/2025) malam. Dia sudah dibawa ke RSUD R.T Notopuro Sidoarjo.

Penuturan ayah Alfatih, anaknya sedang menunggu azan ashar di musala. Dia tertidur dan terbangun saat mendengar gemuruh bangunan roboh. Alfatih coba berlari, tetapi dia malah tertimpa reruntuhan hingga pingsan.

"Anaknya sempat lari, tapi terus ketimpa. Katanya enggak sakit sama sekali,” ujar ayah Alfatih, Abdul Hanan, Kamis (2/10).

Alfatih Merangkak Keluar Usai Lantai Dicongkel

Tubuh Alfatih ternyata terlindungi gundukan pasir, sementara wajahnya tertutup seng sehingga tidak tertimpa material berat. Saat petugas penyelamat mencongkel lantai, Alfatih terbangun dan perlahan merangkak keluar.

Selama tiga hari tertimbun, Alfatih mengaku seperti ditidurkan. Dia bermimpi berjalan di jalan gelap naik mobil pikap dan minum air dari selang.

Sepanjang proses evakuasi dilakukan, hati Hanan gundah gulana. Dia cemas menanti kabar putra tercinta. Doa terus dia panjatkan, termasuk pembacaan Surat Al-Kahf dengan harapan menjadi penjaga Alfatih di bawah reruntuhan.

"Saya takut dia enggak tenang, kehabisan energi kalau teriak-teriak, jadi saya baca surat itu terus tanpa putus,” katanya.

Hanan sempat menyesal karena keputusannya mengantar Alfatih ke pondok lebih awal. Andai sesuai jadwal, maka putranya akan terhindar dari musibah itu. Tetapi, dia tetap bersyukur karena anaknya selamat dah hanya luka ringan.

"Dia sempat cerita sebelum kejadian mimpi lihat gedung runtuh," ujar Hanan.

Nyaris 72 Jam Bertahan di Bawah Reruntuhan

Cerita bertahan hidup di bawah reruntuhan juga dialami Syehlendra Haical. Dia berhasil ditemukan hidup setelah nyaris 72 jam terjebak.

Dia berhasil ditarik keluar tim SAR pada Rabu (1/10/2025) pukul 15.10 WIB. Bangunan yang rubuh membuat terhimpit di antara beton tebal, dengan oksigen terbatas. Tetapi semangatnya untuk hidup begitu besar. Dia terus menjawab saat dipanggil petugas. Sebagai tanda adanya kehidupan.

Setelah dievakuasi, Haical langsung dibawa ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

“Betul, pasien sudah di IGD. Saat ini sedang rontgen dan menjalani pemeriksaan medis menyeluruh,” kata Kepala Sub Bagian Humas rumah sakit, Perdigsa Cahya.

Celah Sempit Penyelamat

Perjuangan Yusuf (16) juga tak kalah dramatis. Dia terjebak di bawah reruntuhan selama 15 jam. Melalui celah beton, dia memberikan isyarat pada petugas hingga akhirnya berhasil diselamatkan.

Tiga nyawa muda yang kembali dari ambang maut itu bagai oase di tengah musibah. Namun, duka tetap membayangi empat santri telah dinyatakan meninggal dunia, belasan luka-luka, dan puluhan masih belum ditemukan.

 

Bupati Beri Dukungan buat Keluarga Santri

Sementara untuk update proses evakuasi, Tim SAR memutuskan menggunakan alat berat setelah ada kesepakatan dengan para wali santri. Meski bersedih, mereka tampak pasrah.

Wabup H. Mimik Idayana dan Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak terlihat menemui orang tua atau wali santri dan memberikan semangat. Mereka menemui satu-persatu orang tua santri yang menjadi korban dan menenangkan.

"Tadi kita tenangkan kedua orang tua korban ini, karena mereka pasti syok atas musibah ini, dan mereka sudah ikhlas, intinya mereka meminta anaknya segera dievakuasi," ucapnya.

Dia juga berpesan kepada orang tua santri untuk bertawakal atas musibah tersebut. Menurutnya, musibah yang terjadi hari merupakan takdir dari Allah SWT.

Oleh karenanya harus ikhlas menerima meski sangatlah berat. Namun ia tetap berdoa masih ada santri dapat ditemukan dengan kondisi selamat.

"Untuk orang tua yang mengalami musibah ini untuk lebih iklhas, tawakal lagi kepada Allah karena semua ini takdir Allah dan kita sama-sama berdoa agar semua ini tidak terjadi lagi," ucapnya.

Wabup juga mengatakan Pemkab Sidoarjo akan memberikan pendampingan psikologis kepada korban dan orang tua korban. Pendampingan tersebut diperlukan untuk membantu mereka secara mental mengatasi musibah yang sedang dialaminya.

"Kita sudah menyiapkan pendampingan psikologis bagi korban yang ada dirumah sakit maupun orang tua korban yang masih menunggu anaknya ditemukan," ucapnya.