Makna Gelar Adat Bugis 'La Pateddungi Daeng Pasempo' yang Diberikan untuk Kapolri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerima gelar adat Bugis “La Pateddungi Daeng Pasempo” saat kunjungan kerja ke Bone, Sulawesi Selatan.

OlehFauzan
Diperbarui 16 Mei 2025, 23:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bone - Suasana sakral menyelimuti Rumah Jabatan Bupati Bone, Jumat (16/5/2025). Di bawah langit Sulawesi Selatan yang cerah, iringan tarian Paddupa menyambut kedatangan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kali ini, ia datang bukan semata sebagai pejabat negara, melainkan sebagai tamu kehormatan masyarakat Bugis untuk menerima gelar adat kehormatan La Pateddungi Daeng Pasempo.

Gelar itu memiliki arti mendalam. Dalam bahasa Bugis, La Pateddungi berarti pelindung atau penaung, sedangkan Daeng Pasempo menggambarkan seorang pemimpin bijak yang kuat, tegas, dan berpihak pada keadilan.

"Bapak Kapolri sudah pernah dianugerahi gelar adat saat kunjungan ke Makassar. Hari ini adalah pengukuhan ulang gelar tersebut. La Pateddungi Daeng Pasempo berarti penaung dan pelindung," ujar Dewan Adat Bone, Andi Yushan, Jumat (16/5/2025).

Tak hanya Kapolri, Menteri Pertanian juga menerima gelar adat Bugis. Andi Amran Sulaiman diberi gelar La’Wata, yang dalam tradisi Bugis berarti pengangkat kehidupan sekaligus simbol pemimpin yang membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Pengukuhan ini dilakukan di sela kunjungan kerja Kapolri mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Rangkaian kunjungan dimulai dari panen raya jagung di Desa Bolli, Kecamatan Ponre, tempat Kapolri dan Mentan berdialog langsung dengan kelompok petani dan menyerap aspirasi masyarakat desa.

Setelah prosesi panen, rombongan melanjutkan kunjungan ke Gudang Bulog di Kelurahan Biru, di mana Kapolri dan Mentan kembali bertemu ratusan kelompok tani dan tokoh masyarakat untuk membahas strategi ketahanan pangan serta penguatan peran petani di daerah.

Gelar adat bukan sekadar penghargaan, tetapi pengakuan dari masyarakat adat bahwa sang penerima telah menjadi bagian dari nilai dan perjuangan lokal. Dalam konteks ini, Kapolri bukan hanya dianggap penjaga stabilitas, tetapi juga simbol kehadiran negara yang membumi.

Usai seluruh rangkaian kegiatan, rombongan Kapolri bertolak kembali ke Makassar melalui Bandara Arung Palakka, meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Bone, bahwa negara dan budaya dapat bersatu dalam ikatan yang saling menguatkan.

 

Simak juga video pilihan berikut ini: