Sisa Kehidupan di Dusun Sumbulan, Kampung Mati di Ponorogo

Akses jalan yang sulit menjadi alasan utama mengapa warga memilih meninggalkan tempat ini. Meski begitu, sisa-sisa kehidupan masih bisa ditemui, mulai dari bangunan tua hingga peninggalan sejarah yang menarik.

Diterbitkan 01 Mei 2025, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ponorogo - Dusun Sumbulan di Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, menyimpan cerita unik. Kampung yang pernah ramai oleh aktivitas keagamaan dan kehidupan warga itu kini berubah menjadi wilayah tanpa penghuni.

Akses jalan yang sulit menjadi alasan utama mengapa warga memilih meninggalkan tempat ini. Meski begitu, sisa-sisa kehidupan masih bisa ditemui, mulai dari bangunan tua hingga peninggalan sejarah yang menarik.

Mengutip dari berbagai sumber, dusun Sumbulan dulunya merupakan permukiman yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga. Kawasan seluas tiga hektar ini perlahan-lahan mulai ditinggalkan warga sejak lima tahun terakhir.

Kini, yang tersisa hanyalah empat rumah permanen yang masih berdiri kokoh, meski tidak terawat. Sebuah masjid tua, makam, dan bekas pondok pesantren menjadi bukti bahwa kampung ini pernag ramai pada masanya.

Kampung Sumbulan pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan. Pada 1980-an, seorang ulama perempuan asal Demak, nyai Murtadho, mendirikan pondok pesantren di sini. Banyak santri dari luar daerah datang untuk menimba ilmu.

Akan tetapi, seiring wafatnya nyai Murtadho dan keluarganya, pondok pesantren mulai sepi. Perlahan, warga memilih pindah ke daerah lain, mengikuti keluarga atau mencari kehidupan yang lebih mudah.

Fasilitas di Sumbulan sebenarnya terbilang lengkap. Listrik dan air bersih tersedia, tetapi akses transportasi menjadi kendala utama. Satu-satunya jalan menuju kampung ini masih berupa bebatuan khas jalan sawah.

Medan yang terjal dan jauh dari pusat keramaian membuat warga enggan kembali setelah merantau. Meski tidak berpenghuni, beberapa bangunan masih difungsikan secara terbatas.

 

Musala di Tengah Kampung

Sebuah musala yang terletak di tengah kampung masih digunakan oleh para petani setempat untuk salat Zuhur dan Asar. Mereka adalah warga dari desa tetangga yang memiliki sawah di sekitar Sumbulan.

Selain itu, makam keluarga pendiri kampung tetap terawat, dikunjungi oleh keturunan mereka yang ingin berziarah. Di belakang masjid tua, terdapat pemakaman warga yang diapit oleh dua aliran sungai besar.

Warga setempat menyebutnya tempuran, pertemuan dua sungai yang curam. Di sisi selatan masjid, kini telah dibangun jembatan beton sederhana yang sering digunakan oleh pencari rumput yang melintas.

Sejarah kampung ini bisa ditelusuri hingga tahun 1850-an. Ali Usman disebut sebagai orang pertama yang membuka lahan di Sumbulan.

Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh menantunya, Ali Murtadho, dan dilanjutkan oleh keturunannya secara turun-temurun. Sumarno, generasi kelima dari keluarga tersebut, masih sesekali mengunjungi Sumbulan untuk merawat rumah keluarga dan mengenang masa kecilnya.

Suasana Sumbulan kini sangat berbeda dibandingkan masa lalu. Sepanjang jalan menuju kampung ini, hanya hamparan sawah dan sumber air yang terlihat.

Penulis: Ade Yofi Faidzun