Sukses

Refleksi Tragedi Kanjuruhan, Tonggak Perdamaian Suporter Jateng dan Yogyakarta

Liputan6.com, Jakarta - Tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 jiwa dan ratusan orang menjalani perawatan akibat luka-luka, menyisakan pedih untuk semua pihak, tak terkecuali para suporter sepak bola Indonesia.

Di Jawa Tengah dan DIY, ratusan suporter menggelar doa bersama dan mengesampingkan rivalitas suporter yang selama ini membelenggu mereka.

Bertempat di Monumen Juang 45 di Kabupaten Klaten tiga elemen suporter dari Persis fans, PSS Sleman fans, dan PSIM fans menggelar doa bersama sekaligus memberikan pernyataan sikap perdamaian rivalitas ketiga fans tiga klub tersebut.

Untuk diketahui, Persis fans dan PSIM fans sudah lama tidak pernah akur bahkan untuk satu tribun pun tidak pernah mereka lakukan. Di sisi lain, PSIM fans dengan PSS fans juga bergesekan. Sehingga momentum doa bersama itu dijadikan ajang pertemuan mereka untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi rival.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Mengecam Aksi Penanganan Suporter Stadion Kanjuruhan

Agoes Warsoep yang merupakan Dirijen Pasoepati, sosok yang menginisiasi perdamaian itu melalui akun Twitter-nya mengajak semua fans PSIM untuk berdamai, dan langsung ditanggapi oleh pentolan PSIM fans.

Mereka dengan legowo juga menerima tawaran perdamaian itu dan memutuskan berkumpul di tengah-tengah perbatasan anatara wilayah Jateng dan DIY.

"Sudah saatnya menyebarkan kebaikan dari sepak bola, capek harus rivalitas terus-menerus. Kejadian Kanjuruhan menjadi refleksi pembelajaran kita semua. Sudahi pertikaian di lingkup sepak bola," katanya kepada Liputan6.com, Selasa (4/10/2022).

Menurutnya, sepak bola adalah hiburan rakyat yang harus bisa dinikmati semua pihak tak hanya kaum laki-laki, tapi untuk anak-anak serta kaum wanita. Ia berharap dengan adanya perdamaian antara suporter Solo dan DIY menjadi langkah baik untuk perbaikan sepak bola di Indonesia, dan mencegah adanya tragedi mengerikan berasal dari stadion ketika menonton sepak bola.

"Sepak bola bukan kuburan, tapi hiburan untuk semua orang baik laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Tidak apa-apa saya tidak gengsi untuk menawarkan perdamaian, dan niat baik ini direspon baik dari sana (PSIM fans)," ujar dia. 

Pertemuan tersebut dilanjutkan pada Selasa malam (4/10/2022) di Stadion Mandala Krida, DIY. Rangkaian kegiatan itu adalah salat gaib, doa bersama, renungan, dan menerima kedatangan Persis fans, dan PSS Sleman fans. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.