Sukses

Mencicipi Sensasi Sambal Ikan Tenggiri Moro Tuo Buatan Mahasiswa UNY

Liputan6.com, Yogyakarta - Purworejo selain memiliki komoditas laut utama berupa ikan tenggiri, ikan layur, dan ikan bawal juga memiliki hasil cabai besar dan cabai merah dengan jumlah panen sebanyak 26.077 kuintal dan 13.524 kuintal.

Melihat ini mahasiswa UNY yaitu Laila Rahmawati dan Sri Hutami Limandari prodi pendidikan biologi, Andini Jihan Ningrum prodi pendidikan matematika, Kholida Nailil Muna prodi matematika dan Kharisma Saski Larasati prodi akuntansi mengolah kedua hasil alam yaitu cabai dan ikan tenggiri tersebut menjadi sambal ikan untuk meningkatkan penghasilan warga.  

"Sambal merupakan salah satu olahan khas Indonesia yang melegenda dan hampir selalu dijumpai setiap hari di meja makan," kata Laila Rahmawati, beberapa waktu lalu.

Sir Hutammi Limandari menambahkan, ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) sendiri mengandung protein yang cukup tinggi yaitu 21,4 gr/100 gram ikan. Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur, sumber asam-asam amino yang mengandung unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat.

"Pemanfaatan potensi ikan tenggiri yang jumlahnya mendominasi masih terbatas. Padahal, jika terlaksana, hasil yang diperoleh dari usaha pengolahan ikan tengiri bisa jauh lebih menguntungkan dibanding hasil penjualan bahan mentah," katanya.   

Andini Jihan Ningrum menjelaskan proses awal dari pembuatan sambal ikan yang diberi nama Sambal Moro Tuo ini diawali dengan menyiapkan ikan tenggiri segar, kemudian dikukus dan disangrai, nantinya akan dimasak dengan sambal. Untuk sambalnya, diolah dari cabai rawit dan cabai keriting segar, dengan bumbu rempah-rempah yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, garam, gula, daun jeruk, dan lengkuas. 

"Bawang merah diiris kemudian ditumis dengan minyak bersamaan dengan cabai merah keriting yang diiris halus, daun salam, dan lengkuas. Sementara itu, bawang putih dan cabai rawit diblender halus dan turut ditumis, kemudian ditambahkan gula garam. Ketika rasa sudah pas, terakhir mencampurkan ikan tenggiri yang sudah disangrai dan dimasak hingga benar-benar matang dan mengeluarkan minyak," dia menjelaskan.

Kunci dari keawetan sambal tenggiri ini terletak pada pengemasan dan kebersihan alat dan bahan baku. Oleh karena itu, pengemasan dilakukan ketika suhu sambal selaras dengan suhu ruangan. Kemasan botol plastik dengan ketebalan sedang sudah disterilkan terlebih dahulu, sambal dimasukkan menggunakan sendok bersih dan disegel aluminium foil menggunakan mesin sealer induksi. Setelah itu ditutup rapat dan diberi label kemasan.

Menurut Kharisma Saski Larasati produk sambal ikan ini sangat unik karena terbuat dari ikan tenggiri yang kaya akan protein karena tidak semua sambal di pasaran mengandung protein yang tinggi. 

"Kemasan yang kami gunakan sangat protektif karena menggunakan sistem double lock pada tutup wadah ditambah kami memberikan fasilitas sendok di dalam kemasan agar mempermudah untuk pengambilan sehingga tingkat higienitasnya lebih tinggi," katanya. 

Sambal ini ditawarkan dengan lima tingkatan level sehingga bagi penikmat sambal dengan toleransi kadar rasa pedas yang rendah tetap dapat menikmatinya. Menurutnya, kegiatan wirausaha pembuatan sambal dilaksanakan bersama warga setempat bertajuk sociopreneurship yakni melibatkan warga dalam berbagai kegiatan usaha. 

Mahasiswa bekerja sama dengan petani cabai dan nelayan di daerah Kecamatan Purwodadi sebagai mitra bisnis. Warga setempat diberikan kegiatan sosialisasi pengolahan usaha, dilibatkan menjadi bagian dari produksi wirausaha sekaligus menjadi mitra usaha. 

"Dengan demikian, selain meningkatkan penghasilan, masyarakat juga dapat melanjutkan kegiatan transfer ilmu dan kegiatan saling bantu dalam kegiatan produksi usaha kepada warga lainnya sehingga aspek sosial dalam masyarakat semakin terasa," dia menandaskan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS