Sukses

Menilik Inovasi Bioplastik Berbahan Singkong Ramah Lingkungan

Liputan6.com, Jakarta - Bioplastik saat ini menjadi alternatif utama pengganti plastik konvensional. Sifatnya yang mudah terurai secara sempurna oleh mikroba, menjadikan bioplastik wadah yang ramah lingkungan.

Berbagai bahan baku untuk bioplastik pun kerap diuji coba untuk selanjutnya diperkenalkan ke publik. Salah satu yang sedang marak digaungkan, yakni bioplastik berbahan dasar singkong.

Bioplastik berbahan singkong disebutkan memiliki kemiripan struktur polymer pada bahan plastik biasa, sehingga dapat mengatasi permasalahan lingkungan.

"Kita mendevelope, meresearch, dan memproduksi material-material inovatif sebagai pengganti plastik konvensional. Material kami, seperti bioplastik berasal dari singkong," kata Tomny, Co-Founder Green Hope, Senin (16/5/2022).

Menurutnya, inovasi material plastik sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi ancaman sampah plastik yang sudah mendominasi hingga ke seluruh penjuru dunia.

Penumpukan sampah plastik, kata dia, sudah sangat mencemari air dan tanah hingga makanan, dan masih akan mengancam hingga ratusan tahun ke depan.

"Manusia juga keracunan sebenarnya dari mikroplastik yang ada. Kemarin terakhir ada laporan, mikroplastik sudah masuk kepada peredaran darah maupun paru-paru manusia, itu sangat serius," ungkapnya.

Tommy mengaku kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan wadah plastik, membuat masalah ini terus berlanjut. Hal ini terlihat dari masih maraknya warga maupun toko-toko yang menggunakan kantong plastik.

"Rakyat harus lebih sadar Karena dari 400 juta ton per tahun kita konsumsi sampah plastik, sekitar 10 juta bocor ke laut, ke tanah. Ikan-ikan kita isi perutnya sudah mikroplastik semua," paparnya.

Karena itu, lanjut Tommy, pihaknya memutuskan untuk ikut berpartisipasi mengatasi permasalahan ini, yakni dengan menciptakan teknologi yang ramah lingkungan dan memiliki jejak karbon yang lebih sedikit.

"Kita berharap bisa bekerjasama dengan banyak brand Indonesia maupun internasional, bersama-sama migrasi kepada material-material ramah lingkungan dan mudah terurai," imbuhnya.

Tommy menambahkan, sudah saatnya masyarakat tak hanya fokus terhadap peningkatan ekonomi, tapi harus pula dibarengi dengan peningkatan kesehatan.

"Bukan hanya sejahtera ekonominya, tapi kesehatannya memburuk, keracunan, dan lain sebagainya, tapi sejahtera secara berkelanjutan," pungkasnya.