Sukses

Mengenal Putra Singguluang, Harimau Sumatra yang Tak Takut dengan Manusia

Liputan6.com, Padang - Nama Putra Singguluang satu tahun lalu sempat membuat heboh masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Putra Singguluang adalah seekor harimau sumatra yang kini menghuni Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasraya (PRHSD) bersama saudarinya Putri Singguluang.

Satwa dilindungi itu masuk ke perangkap pada Juni 2020, setelah beberapa hari berkeliaran di ladang dan permukiman penduduk di Nagari Gantung Ciri Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Setelah direhabilitasi selama 5 bulan di PRHSD, kedua harimau itu dilepasliarkan pada 26 November 2020. Namun pada minggu pertama Desember 2020, dua harimau ini kembali dievakuasi tak jauh dari lokasi pelepasliaran.

Evakuasi dilakukan BKSDA Sumbar karena keduanya kembali masuk ke permukiman warga. Sejak Desember 2020 itu, hingga kini keduanya masih direhabilitasi di PRHSD.

"Iya Putra dan Putri Singguluang masih direhabilitasi," kata Kepala BKSDA Sumbar, Kamis (14/1/2022).

Namun, untuk Putra Singguluang, kata Ardi, kemungkinan untuk dilepasliarkannya sangat kecil karena perubahan perilakunya.

"Putra Singguluang tidak takut ketika bertemu manusia, malah mengajak bermain, dia suka manusia," jelasnya.

Oleh sebab itu, menurutnya harimau jantan tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

Kendati demikian, pihaknya menyebut, sebagai harimau jantan dewasa, Putra Singguluang bisa dimanfaatkan untuk keperluan konservasi.

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Rumitnya Proses Pelepasliaran

Sedangkan, untuk Putri Singguluang, terang Ardi, kondisinya menunjukkan perkembangan yang bagus dan jika terus membaik maka akan dilepasliarkan.

"Kalau untuk Putri Singguluang, ketika ada manusia dia akan bersembunyi, berbeda dengan saudaranya," ucap kepala BKSDA.

Di samping itu, Ardi menjelaskan untuk mencari lokasi melepasliarkan harimau juga tidak mudah, termasuk soal ketersediaan pakannya.

Lokasi lepas liar harus memiliki kemiripan dengan lokasi tempat harimau itu berkonflik sebelumnya, entah itu secara geografis dan iklim hutannya.

Misalnya, bagi harimau yang berasal dari hutan dengan tanah gambut, banyak rawa, maka harimau harus dicarikan lokasi lepas liar juga seperti itu juga.

"Kalau dia berasal dari hutan yang banyak pegunungan, maka juga dilepasliarkan di lokasi seperti itu," tuturnya.