Sukses

Mengintip Budidaya Madu Trigona di Objek Wisata Batu Katak Langkat Sumut

Liputan6.com, Langkat Kawasan Ekowisata Batu Katak di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), tidak hanya menyuguhkan keindahan sungai dan pesona alamnya yang sejuk dengan keunikan flora dan fauna langka.

Satu atraksi menarik lain yang dapat dinikmati wisatawan saat berkunjung ke objek wisata ini adalah menyambangi "Trigona Area", yang merupakan lokasi budidaya madu klanceng atau madu trigona.

Madu trigona adalah madu yang dihasilkan oleh lebah trigona. Sejenis lebah kecil dengan tubuh yang ramping dan berwarna hitam.

Untuk mencapai lokasi pembudidayaan madu ini, pengunjung dapat berjalan kaki menyusuri jalan setapak dengan waktu tempuh 20 hingga 30 menit ditemani pemandu wisata lokal.

Di lokasi ini, pengunjung dapat menyaksikan proses pembudidayaan madu dan belajar banyak hal tentang budidaya madu.

Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat mecicipi langsung kenikmatan cita rasa madu klanceng yang khas dan penuh khasiat bagi kesehatan tubuh, baik untuk mencegah maupun memgobati bermacam penyakit.

Pemilik sekaligus petani madu klanceng, Kelengi Sitepuh mengatakan, keberadaan area pembudidayaan madu yang ditanam beragam bunga warna-warni serta bermacam jenis tanaman obat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Batu Katak, terutama wisatawan mancanegara.

"Biasanya turis luar sering singgah ke sini," kata Kelengi, Minggu (19/9/2021).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Rasa Unik dan Beragam Khasiat

Diungkapkan Kelengi, keunikan rasa serta beragam khasiat yang terkandung di dalamnya menjadikan madu ini digemari banyak orang. Tidak hanya wisatawan, permintaan madu klanceng yang dihasilkan di kawasan ini juga kerap datang dari masyarakat sekitar maupun dari luar daerah.

"Sering juga mengirim ke daerah Pulau Jawa. Kalau masyarakat di sini biasanya minta untuk mengobati kerabatnya yang sedang sakit," terangnya.

Bahkan, untuk saat ini madu hasil budidayanya kerap kehabisan persediaan. Ia menceritakan, suatu waktu pernah terpaksa memanen madu pada malam hari karena ada warga yang meminta untuk pengobatan kerabatnya yang sedang sakit.

"Pernah beberapa waktu lalu ada yang datang memesan madu untuk obat istrinya, tapi karena stoknya yang sudah dipanen lagi habis, jadi saya ke ladang malam-malam untuk mengambil madu ini," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Banyak Tawaran Jadi Pembicara

Tidak hanya kebanjiran pesanan, dari keberhasilannya membudidayakan madu, Kelengi juga mendapat banyak tawaran untuk menjadi pembicara dan berbagi ilmunya dalam berbagai forum terkait pembudidayaan madu klanceng.

"Sering juga diundang sebagai pembicara untuk pelatihan budidaya madu ini, biasanya itu dari pihak TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) dan juga dari Dinas Kehutanan," tandasnya.