Sukses

Diantar dengan Helikopter, Harimau Ciuniang Nurantih Tempati 'Rumah Baru'

Liputan6.com, Dharmasraya - Seekor harimau betina yang diberi nama Ciuniang Nurantih, akhirnya dilepasliarkan ke habitatnya setelah 7 bulan direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD ARSARI).

Ciuniang Nurantih, sebelumnya masuk perangkap yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di Surantih, Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat pada 13 Juli 2020 .

Harimau Sumatra yang bernama latin Panthera trigis sumatrae itu dilepasliarkan pada 28 Februari 2021, ia dibawa menggunakan helikopter milik Kementerian Pertahanan dari Dharmasraya menuju lokasi lepas liar yakni kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Penggunaan helikopter tersebut, selain untuk mempersingkat waktu juga memastikan lokasi pelepasliaran terjamin keamanannya bagi satwanya dan tidak terjangkau oleh manusia.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno mengatakan Ciuniang Nurantih berumur sekitar 2,5 tahun dan terlibat konflik dengan manusia.

"Ciuniang Nurantih telah menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisinya sebelum dilepasliarkan," katanya, Senin (1/3/2021).

2 dari 3 halaman

Dipasang GPS

Pelepasliaran satwa dilindungi ini, dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada dengan menerapkan prinsip kehati-hatian agar tidak menimbulkan dampak negatif baik pada satwa, habitat, serta masyarakat sekitar.

Sementara Balai Besar TNKS menyambut baik upaya pelepasliaran Ciuniang Nurantih kembali ke alam, pihaknya juga terlebih dahulu merekomendasikan sejumlah lokasi yang tepat.

"Setelah pelepasliaran, hal yang paling penting dilakukan yakni pemantauan dan monitoring untuk memastikan Ciuniang aman dan nyaman di rumah barunya," pelaksana tugas Kepala Balai Besar TNKS Pratono Puroso mengatakan.

Ciuniang Nurantih juga dipasangkan GPS Collar juga telah dipasangkan oleh tim PR-HSD ARSARI bersama dengan Balai KSDA Sumbar dan mitra SINTAS (Save Indonesian Nature and Threatened Species).

GPS collar ini berguna untuk memantau pergerakan Ciuniang, sebagai antisipasi apabila ia terpantau mendekati pemukiman.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini: