Sukses

Berjibaku Memadamkan Api di Lahan Gambut Agam

Liputan6.com, Agam - Kebakaran lahan gambut yang merupakan kebun sawit milik warga di Kabupaten Agam, Sumatera Barat masih belum bisa dikendalikan.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, kebakaran lahan di Kecamatan Tanjung Mutiara sudah terjadi sejak 9 Februari 2021.

Setidaknya hingga kini 23 Februari 2021, sudah 25 hektare lahan yang terbakar. Lahan masih belum semuanya bisa dipadamkan karena titik api berpindah-pindah.

"Kebakaran yang terbaru ada sekitar satu hektare, lahan ini sebelumnya telah berhasil dipadamkan namun api kembali menyala," kata Kabid KL BPBD Kabupate Agam, Syafrizal, Selasa (23/2/2021).

Ia menyebut cuaca panas terik dan diiringi embusan angin yang cukup kuat, mengakibatkan lahan yang telah didinginkan ini kembali terbakar.

Saat ini tim gabungan masih mengupayakan pemadaman api di lahan gambut itu, namun terkendala sulitnya sumber air dan lokasi kejadian juga tidak bisa ditempuh kendaraan.

"Pemadaman mungkin memakan waktu karena beberapa kendala tersebut," ujarnya.

 

 

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Cuaca Sumbar

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan, untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan karena saat ini kondisi cuaca panas terik.

"Kami imbau masyarakat jangan membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memperluas lahan yang terbakar sehingga sulit dikendalikan, serta tak membuang putung rokok sembarangan," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumbar, Yudha Nugraha.

Kondisi cuaca ini disebabkan oleh adanya pola angin monsun Asia, di mana massa udara basah yang seharusnya terdapat di wilayah Sumbar, bergerak ke arah tenggara-selatan Indonesia.

"Saat ini kami mencatat suhu di Kota Padang mencapai 33,2 derajat Celsius dan kelembapan udara 54 persen," katanya.

Selain adanya pola angin monsun Asia, kondisi cuaca panas di Sumbar juga disebabkan oleh sistem tekanan rendah di bagian selatan Indonesia dan perairan Hindia.

Jadi intensitas hujan didaerah Jawa, Bali, dan Sumatera bagian selatan, dan sekitarnya cukup tinggi, berbanding terbalik dengan Sumbar yang dilanda cuaca panas.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini: