Sukses

Mimpi Besar Petani Kopi Sukahurip Garut Tembus Pasar Jepang

Liputan6.com, Garut - Beralaskan terpal plastik, puluhan warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Garut, Jawa Barat, nampak serius menyimak pelatihan budi daya kopi. Sesekali muncul pertanyaan dari peserta soal permasalahan budi daya kopi yang mereka hadapi.

Berada di ketinggian 1.512 meter di atas pemukaan laut (mdpl), kawasan hutan Talaga Bodas, memang cocok dijadikan area perkebunan kopi arabika unggulan di kota Intan, Garut.

Bahkan, dalam beberapa pameran internasional yang diikuti Indonesia, kopi arabika hasil olah tangan warga binaan PGE Pertamina Area Karaha tersebut, sudah memasuki pasar mancanegara untuk tujuan negeri matahari terbit, Jepang.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Sangkan Hurip Ubad Badrudin mengatakan, pelatihan budi daya tanam kopi yang diberikan PGE Karaha, merupakan mimpin lama para petani untuk meningkatkan kualitas tanaman kopi mereka.

"Jadi istilahnya tidak hanya hilir di soal pemasaran, namun juga sejak budidaya atau hulunya kami diperhatikan," ujarnya di sela-sela pelatihan budi daya, Minggu (23/8/2020).

Menurutnya, budi daya kopi milik petani di area link satu perusahaan saat ini masih bersifat tradisional, dengan mengandalkan kesuburan alam sekitar kawasan hutan Talaga Bodas.

"Dengan pelatihan ini kami berharap ada masukan baru mengenai sentuhan teknologi, teknik budi daya kopi yang baik bagaimana," ujarnya.

Saat ini, budi daya kopi yang kelompok tani jalankan terus berkembang sesuai dengan luasan izin yang diberikan dari Perhutani. "Saat ini kami sudah mengelola hingga 40 hektare, awalnya hanya hanya 10 hektare lahan dengan panen mencapai 40 ton," kata dia.

Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, kopi arabika Sukahirup mulai menjajaki pasar negara Sakura Jepang, meskipun dengan jumlah yang tidak begitu besar.

"Makanya pelatihan ini supaya ada dorongan dari Pertamina bagi kami agar lebih maju," kata dia.

 

 

2 dari 4 halaman

Hadir Saat Pendemi

Juru Bicara PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha Asmaul Husna menyatakan budi daya kopi memang membutuhkan keahlian dari hulu hingga hilir, sehingga menghasilkan kopi yang berkualitas.

“Dengan pola tanam yang bagus kita harapkan hasil hilirnya produknya yang kita jual dalam bentuk bubuk itu lebih baik lagi hasilnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan beberapa kelompok petani kopi di Bengkulu yang sukses menembus pasar global, mempersiapkan lahan hingga satu tahun untuk mendukung budi daya tanaman kopi mereka. “Itu sebagai gambaran,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, lembaganya ujar Una panggilan akrab Asmaul Husna, bisa menyiapkan langkah apa saja yang dibutuhkan untuk kelompok tani kopi KTH Sangkan Hurip, Desa Sukahurip, tersebut.

“Selain budidaya kita juga bantu dalam distribusi pemasaran, kemudian kita bantu mereka dalam bentuk latihan untuk packaging,” ujarnya.

Una menambahkan, selain memberikan pembinaan di sektor budaya, lembaganya berharap kegiatan itu mampu mengajak masyarakat untuk mendiversifikasi produk kopi.

“Ada istilahnya kopi lanang, dan itu ternyata harganya cukup mahal di pasaran,” kata dia.

Selain itu, dengan pola kemasan yang menarik, mampu memberikan ciri khas tersendiri terhadap produk kopi Sukahurip.

“Saat ini tahap budi daya, kemudian pemasaran hingga packaging, jadi ada tiga rangkaian yang kami berikan,” ujarnya.

Dengan upaya itu, hadirnya PGE Area Karaha mampu mendorong perekonomian masyarakat di ring satu perusahaan lebih mandiri dengan mengoptimalkan potensi lokal yang ada.

“Saat ini produk mereka sudah dipasarkan di Kepang, dan sambutannya sangat baik, kami berharap ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitasnya,” kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Pembinaan Berlanjutan

Camat Pangatikan Asep Harsono mengatakan, sejak lama kawasan hutan di kaki gunung Talaga Bodas, cocok ditanami kopi berkualitas tinggi.

“Saya sejak dulu mendengar keunggulan kopi Sukahurip ini, namun baru kali ini setelah tugas di sini bertemu langsung petaninya,” ungkap dia.

Menurutnya, pemberian penyuluhan mengenai budi daya kopi, sangat diharapkan masyarakat terlebih mayoritas warga, hanya menanam kopi berdasarkan pengalaman yang berkembang.

Dengan upaya itu, lembaganya berharap kegiatan tersebut bisa berlangsung berkelanjutan, sehingga memberikan dampak signfikan bagi perekonomian warga.

“Di Garut itu masih banyak potensi hutannya yang belum bisa dioptimalkan masyarakat,” ujarnya.

Dede Solahudin, salah satu anggota dewan DPRD Garut menyatakan, Garut memiliki segudang potensi untuk menjadi pusat kopi terbaik tanah air.

“Coba bisa dilihat sendiri potensi sekitar sini seluruhnya memiliki tanah vulkanis yang cocok untuk tanaman kopi,” kata dia.

Menurutnya, pemerintah Garut memiliki tanggung jawab sosial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga hadirnya PGE Area Karaha, mampu membantu peran pemda, dalam meningkatkan kesejahteraan warga.

“Hadirnya kami di sini adalah menjembatani keinginan masyarakat yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” ujarnya.

4 dari 4 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: