Sukses

Nestapa Pelajar NTT, Hidup Sebatang Kara dan Tak Punya HP untuk Belajar Daring

Liputan6.com, Sikka - Memasuki new normal, masyarakat NTT mulai menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pelajar, sejumlah sekolah menerapkan sitem pembelajaran daring menggunakan model interaktif berbasis internet.

Di Kabupaten Sikka, pembelajaran sistem daring masih terkendala dengan beberapa persoalan. Selain jaringan internet yang belum memadai, sebagian pelajar juga tak memiliki ponsel pintar hingga kesulitan membeli paket data.

Seperti dialami Novita Temi, pelajar kelas 7 di SMPN Alok, Maumere, Sikka. Ia kesulitan belajar secara daring. Pasalnya, dia tidak memiliki smartphone. Ia pun terpaksa nebeng dengan temannya mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Novita, hidup sebatang kara. Sejak ibunya meninggal dunia, ayahnya memilih merantau. Novita kini tinggal bersama keluarga ibunya.

"Saya mau minta ke siapa? Ayah merantau sudah lama. Terpaksa ikut teman yang punya handphone," ungkap Novita kepada Liputan6.com, Sabtu (8/8/2020).

Dalam kesendiriannya, Novita terpaksa belajar bersama temannya yang mempunyai handphone. Aktifitas ini sudah dijalaninya sebulan belakangan, pasca penerapan sistem pembelajaran daring. Semua tugas dari guru, diberikan melalui grup WhatsApp.

Setiap hari, ia mengikuti temannya belajar di rumah warga di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat yang menyediakan tempat dan jaringan wifi gratis.

Oliv Paskela, teman Novita yang meminjamkan handphone mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami Novita. Sejak pemberlakuan belajar daring, ia selalu mengajak Novita belajar bersama.

Semua tugas yang dikerjakan Novita, langsung ia foto menggunakan handphonenya dan dikirim ke grup WhatsApp kelas.

"Semoga ada yang prihatin dan membantu Novita," harapnya.

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut: