Sukses

Raibnya Tradisi Punggahan Jelang Ramadan Para Penganut Kejawen

Liputan6.com, Banyumas - Jumat pekan ketiga Bulan Sya’ban atau Sasi Sadran lazimnya adalah hari-hari yang sibuk bagi penganut Kejawen atau komunitas anak putu Kalikudi, Adipala, Cilacap. Ini adalah waktu digelarnya tradisi Punggahan jelang Ramadan.

Punggahan yang digelar para penganut Kejawen dan pelestari adat menandai bakal berakhirnya Sadran dan menyambut datangnya bulan puasa atau Ramadan. Tapi, tahun ini, tradisi yang telah digelar ratusan tahun itu ditiadakan.

Pandemi Corona Covid-19 memantik para tetua komunitas Kejawen meniadakan ritual Punggahan tradisi anak putu yang tersebar di Banyumas, Cilacap, dan sejumlah wilayah lain.

Iring-iringan ribuan anak putu dari Cilacap yang melakoni ritual Lampah atau jalan kaki puluhan kilometer itu pun lenyap. Pun, dengan berkumpulnya belasan ribu penganut Kejawen di Panembahan Banokeling, Jatilawang, Banyumas.

Tetua Adat Anak Putu Kalikudi, Kunthang Sunardi mengatakan sebagai gantinya, anak putu Kalikudi dan keturunan penambahan Banokeling di Adiraja, Pekuncen Kroya, dan Daun lumbung mengirimkan bahan mentah untuk sajen atau persembahan untuk ritual punggahan yang digelar terbatas.

Sajen itu diikutsertakan dalam ritual punggahan yang hanya diikuti oleh enam atau tujuh orang di Pekuncen, pada Kamis malam hingga Jumat malam ( 16-17/4/2020). Ketujuh orang tersebut terdiri dari Kiai Kunci Panembahan Banokeling, bahu kanan dan kiri, serta prabang.

“Libur ya. Karena kemarin ada pemberitahuan dari Jatilawang, tidak ada kegiatan apapun. Kemudian dari pemerintah juga ada aturan untuk tidak ada kegiatan apapun,” katanya, Rabu, 14 April 2020.

Punggahan Ramadan terdiri dari beberapa ritual pendahuluan. Pada Rabu, misalnya, para penganut kejawen atau anak putu Kalikudi, baik di Pasemuan Lor maupun Pasemuan Kidul, melaksanakan ritual Dandan.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Ritual Punggahan Ramadan Kejawen

Dandan adalah persiapan ubo rampe yang akan dibawa Punggahan. Lantas, kiai kunci dan tetua akan mendata siapa saja yang akan ikut dalam perjalanan panjang melintasi jalan beraspal dan naik turun bukit sepanjang 25 kilometer.

Kemudian, pada Kamis Pahing, begitu matahari bersinar, anak putu memulai perjalanan dari pasemuan atau tempat ibadah. Mereka meniti jalan berurutan, dengan beberapa pria memikul ubo rampe yang akan digunakan untuk ritual Punggahan.

Semestinya, ritual akan dilanjutkan pada Kamis malam, Jumat Pon pagi dan siang, serta berakhir pada Jumat malam. Pada Sabtu Wage, anak putu akan kembali lagi ke rumah, juga berjalan kaki.

Tahun ini, seturut ditiadakannya Punggahan, ritual lampah juga hilang. Sebagai gantinya, para kiai kunci atau utusan mengirimkan sajen. Tetapi, untuk menjaga segala kemungkinan, sajen tidak dikirimkan sampai ke Pekuncen, melainkan hanya sampai di Tugu Budin, Kesugihan, Cilacap.

Di Tugu Budin, Sajen dijemput oleh utusan Kiai Kunci Penembahan Banokeling. Selanjutnya, sajen dari tiga wilayah yang saling terhubung kekerabatan itu akan dibawa oleh utusan ke Pekuncen.

“Ini pertama kalinya dibatasi. Jadi yang ikut nanti anak putu yang berada di Desa Pekuncen saja,” ucap Sumitro, Juru Bicara Komunitas Adat Banokeling.

Sumitro mengatakan langkah itu dilakuan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan yang bisa menyebabkan berkumpulnya banyak orang. Kata dia, peserta akan dibatasi hanya anak putu atau keturunan Desa Pekuncen.

“Yang luar desa, yang dari Cilacap, Kroya, semuanya tidak boleh,” dia menjelaskan.

 

3 dari 4 halaman

Social Distancing Ala Komunitas Adat Banokeling

Sumitro mengungkapkan, keputusan pembatasan tradisi unggahan merupakan hasil musyawarah adat pada Rabu (25/3/2020). Anak putu di luar Desa Pekuncen yang diperbolehkan ikut dalam unggahan cukup diwakili oleh kyai kunci.

Laku jalan kaki dari sejumlah wilayah Cilacap ke Desa Pekuncen yang jadi tradisi Banokeling juga ditiadakan. Sedang anak putu yang merantau di luar kota dilarang untuk pulang menghadiri punggahan.

“Yang dari Jakarta, perantauan, di larang pulang. Tidak usah ikut,” dia menegaskan.

Menurut dia, pembatasan jumlah peserta ini sangat penting. Pasalnya, punggahan Ramadan di Panembahan Banokeling selalu diikuti oleh ribuan orang dari berbagai wilayah Indonesia.

“Sekarang semuanya dilarang. Lebih baik berdoa dari rumah saja,” ucapnya.

Dia mengemukakan, komunitas adat Banokeling sangat mendukung upaya pemerintah mengatasi wabah Covid-19. Di antaranya dengan meniadakan acara yang diikuti ribuan orang.

Terkait Wabah Covid-19, Sumitro mengungkapkan dalam khazanah komunitasnya disebut sebagai upas alias racun. Dalam sistem pengetahuan turun temurun di Banokeling, virus Corona Covid-19 yang telah menjadi wabah merupakan bentuk lain dari upas.

Upas dalam pengertian masyarakat adat Banokeling yakni wabah atau juga racun dalam pengertian bahasa Banyumas. Wabah dipercaya terjadi karena ulah manusia merusak bumi atau lingkungan.

Menangkal upas, masyarakat adat banokeling melakukan pendekatan religius dengan semedi atau bertapa. Semedi ini dilakukan dengen menyepi di areal makam Banokeling oleh 6 kesepuhan yang merupakan pimpinan spiritual adat yakni Kyai Kunci dan para Bedogol.

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: