Sukses

Cerita Orang Gila dan Kayu Mistik di Gili Labak

Liputan6.com, Sumenep - Tak semua tempat wisata cocok untuk para solo traveler, apalagi yang isi kantongnya pas-pasan, karena berat diongkos. Pantai Gili Labak salah satunya.

Pada 2019, saya ke pulau berpantai itu yang terletak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Berangkat dalam sebuah rombongan berjumlah 14 orang, kami naik kapal motor dari Dusun Tanjung, Kecamatan Saronggih.

Sewa kapal sekitar Rp1 juta untuk satu kali trip rute pulang pergi. Kapal tak dilengkapi alat keselamatan paling dasar: jaket pelampung. Bagi yang takut air, harus merogoh kocek lagi menyewa pelampung seharga Rp7 ribu per buah dengan alasan jaket itu milik Dinas Perhubungan.

Perjalanan ke Pulau Gili Labak butuh waktu 1,5 jam, kata nahkoda. Saya bunuh kebosanan mengobrol dengan teman yang mengurusi segala tetek bengek wisata ini.

Katanya, selain Saronggi, ke Gili Labak juga bisa lewat pelabuhan Kalianget. Harga sewa kapal lebih murah berkisar antara Rp500 ribu sampai Rp600 ribu sekali trip. Namun jarak tempuh lebih hingga 2,5 jam.

Namun teman itu ogah memakai jalur Kalianget, selain ukuran kapal lebih kecil, juga saat itu bulan Agustus, bulan dimana cuaca kerap berubah mendadak tak terprediksi. Ia tak mau mengambil risiko yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Dan biaya sewa itu, katanya, berlaku statis baik perorangan atau rombongan. "Jadi sangat tak cocok buat solo traveler yang kantongnya pas-pasan," teman itu menyimpulkan.

2 dari 3 halaman

Penghuni Pertama dan Kayu Santeki

Pantai Gili Labak memang indah. Sejak jarak setengah mil dari bibir pantai, kejernihan airnya membuat mata leluasa melihat terumbu karang dengan aneka biotanya. Sesekali pandangan juga terganggu gerombolan sampah plastik yang diombang-ambing gelombang.

Secara administratif, pulau yang dihuni sekitar 25 kepala keluarga ini masuk wilayah Kecamatan Talango. Ini sebuah pulau yang banyak dikunjungi peziarah karena Sayyid Yusuf, ulama terkenal dimakamkan di sana.

Dulu, Gili Labak adalah sebuah pulau tak berpenghuni. Penghuni pertama adalah orang gila dari Talango yang diasingkan keluarganya. Begitu cerita yang saya dengar dari pak Umar, nahkoda kapal.

Lambat laun, banyak orang luar datang, terutama pemburu kayu Santeki. Mereka berkunjung untuk menebang kayu yang dipercayai punya khasiat mistik itu.

Dan sejak awal 2010an, Gili Labak mulai terkenal karena keindahan pantainya. Sampai-sampai Pemkab Sumenep yang menggalakkan kunjungan wisata lewat program Visit Sumenep memasukkan Gili Labak sebagai obyek wisata andalan.

Jika setelah membaca tulisan ini Anda berminat ke Gili Labak. Sebaiknya pakai jasa perusahaan wisata profesional. Namun bila ingin berwisata mandiri bisa mengikuti panduan ini.

Bila tak ingin bermalam di Kota Sumenep, usahakan berangkat dini hari, agar sampai di Saronggih pagi hari. Kemudian menuju Pelabuhan Lebak dengan panduan peta online bikinan Google. Selebihnya negoisasi sendiri, bisa pakai kapal milik Dinas Perhubungan Sumenep atau pakai kapal nelayan.

Jangan lupa bawa topi dan kacamata karena matahari di Gili Labak sengatannya luar biasa. Bila ingin bermalam, carilah kepala kampung. Dia akan mencarikan rumah penduduk yang bisa disewakan dan menjamin keamanan.

Simak video pilihan berikut ini:

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading