Sukses

Misteri Air Berubah Wangi Usai Ritus Suran

Liputan6.com, Sleman - Desa Banyuraden di malam hari 7 muharram atau 7 Sura, tampak lebih ramai dari biasanya. Ribuan warga seperti tertarik magnet menuju satu titik di Dukuh modinan. Malam itu adalah malam tradisi ritual Kirab Suran Mbah Demang Modinan Cokrodikromo.

Nampak abdi dalem pura pakualaman mengambil air di sebuah sumur tua di kediaman Mbak Demang Cokrodikromo diiringi srokalan (shalawatan) dari warga lainnya. Air tersebut kemudian dibawa ke Pura Pakualaman untuk menjamas pusaka Pakualaman. Saat kirab mulai berjalan, warga berebut mengambil air dari sumur tersebut.

"Warga percaya air tersebut bisa menyembuhkan sakit dan membuat awet muda," tutur Samasta, warga Banyuraden.

Ki Demang Cakradikrama yang bernama kecil Asrah, terkenal karena meski nakal saat masih remaja, namun rajin bertapa. Suatu saat ia berhasil memenangkan sayembara memberantas kejahatan di sekitar Kali Bayem dan Kali Dowangan. Atas jasanya, ia kemudian diangkat menjadi mandor perkebunan tebu.

Pada suatu kemarau panjang, banyak perkebunan tebu di daerah tersebut menjadi kering. Ki Demang yang saleh lalu salat istikharah memohon turunnya hujan. Doa tersebut diijabahi sang Maha Kuasa, berakhirlah kemarau yang menyiksa.

Cakradikrama yang lahir tahun 1896 kemudian diangkat menjadi Demang di wilayah tersebut, dianugerahi Rumah lengkap dengan sumur tua tersebut yang terbukti tak pernah kering hingga saat ini.

Oleh Pakualam ke 7, air sumur yang diberi nama toya tobating Allah (Air Taubat kepada Ilahi) ini kemudian dijadikan salah satu dari 7 air sumber yang digunakan untuk menjamas pusaka Pakualaman.

Tradisi Suran Mbah Demang Modinan Cokrodikromo 7 Sura ini dijaga dan diyakini membawa tuah sampai kini. 

 

2 dari 2 halaman

Berubah Wangi

Kirab Toya Taubatan Allah ini bermula di dusun modinan dan berhenti sejenak di balai desa Banyuraden, untuk kemudian diteruskan menuju Pura Pakualaman. Kirab sendiri diikuti oleh beberapa bregada prajurit dan warga masyarakat sekitar Banyuraden.

Pada pagi hari sebelum puncak acara yaitu ada tanggal 7 Sura, di rumah bekas kediaman Ki Demang telah dimulai dengan persiapan pembuatan sesaji, yaitu sesaji Suran Kademangan dan sesaji salawatan.

Disamping itu, juga dibuat kendhi ijo yang berupa nasi putih yang dilengkapi dengan lauk pauk dari kelan (sayur) tholo dan gudhangan bumbu tumbuk kemudian dibungkus dengan daun pisang. Bungkusan ini bentuknya mirip dengan kendhi yang berwama hijau, maka disebut "kendhi ijo". Kendhi ijo ini pada siang harinya akan dibagikan kepada warga masyarakat di sekitar tempat upacara.

Seperti juga di tempat lain, pembagian kendhi ijo ini dilakukan dengan perebutan warga. Sebagian warga percaya, barang siapa yang mampu mendapatkan kendhi ijo akan memperoleh rezeki sepanjang tahun.

"Sebetulnya ini sanepan (perlambang), bila kita berusaha, maka insyaallah rezeki akan selalu ada,"kata Samasta yang tiap tahun mengikuti upacara ini.

Nuansa mistis memang masih terasa, terutama di tempat ritual sumur tua. Beberapa warga mengaku bila di saat saat tertentu tercium bau wangi dari air sumur tersebut.

"Saya pernah ikut mengambil air, yang terjadi kemudian, bau wangi mengikuti saya berhari hari," kata Joko, salah satu warga yang pernah ikut mengambil air sumur.

Mistis atau tidak, upacara ini sebetulnya menyadarkan warga bahwa air merupakan hal penting bagi kehidupan, dan kelestariannya memang patut dijaga.

simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Jejak Praktik Pesugihan dalam Sebuah Rumah Mungil di Sidrap Sulsel
Artikel Selanjutnya
Hikayat Situs Batu Kursi Cirebon, Tempat Bermunajat Jadi Penguasa