Sukses

Mitigasi Tsunami Cilacap dalam Pandangan Ahli Kegempaan

Liputan6.com, Cilacap - Ancaman tsunami di pesisir selatan Jawa bukan dongeng menjelang tidur siang. Sejak belasan tahun lampau, pesisir selatan telah berkali-kali dihantam tsunami, meski riset membuktikan tsunami yang terjadi bukan lah Smong raksasa yang dipicu gempa megathrust.

Pengeboran oleh Tim Riset Geologi Unsoed di kedalaman tiga meter dan jarak terjauh dari pantai lima kilometer di pesisir Cilacap menunjukkan bahwa daratan pernah (sering) dihantam tsunami ukuran kecil-sedang.

Jarak luncuran air laut menjangkau lima kilometer dari posisi pantai sekarang. Tetapi, luncuran itu tak bisa menjadi ukuran bahwa jarak gelombang tsunami ke daratan mencapai lima kilometer.

Pasalnya, batas laut dan daratan selalu berubah. Bisa jadi bertambah atau berkurang karena abrasi. Dan tim Geologi Unsoed, belum bisa menyimpulkan titik pantai purbanya.

"Kita belum sampai kesimpulan di mana batas pantai purbanya. Masih perlu didalami lagi," ucap Ahli geologi struktur dan kegempaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Asmoro Widagdo, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, hasil riset juga menunjukkan bahwa jejak tsunami raksasa tak terekam setidaknya sampai 11.500 tahun lalu. Namun begitu, bukan berarti masyarakat dan pemerintah boleh lengah.

Warga mesti mempersiapkan diri karena ancaman tsunami bisa datang sewaktu-waktu. Itu sesuai dengan karakteristik pesisir selatan sebagai tempat bersinggungan dua lempeng raksasa pembentuk benua.

Dalam mitigasi bencana tsunami, umumnya dipahami bahwa warga harus mengungsi ke dataran lebih tinggi. Masalahnya, di Cilacap dataran tinggi jauh dari jangkauan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Mitigasi Tsunami di Tanah Datar Pesisir

Di beberapa kawasan, bahkan wilayahnya merupakan bidang datar berkilometer sehingga gelombang tsunami leluasa menjangkau wilayah yang jauh dari bibir pantai. Sementara, warga hanya memiliki waktu yang singkat untuk menghindar dari tsunami.

Sebab itu, menurut Asmoro, dibutuhkan shelter atau pengungsian penyelamatan sementara di kawasan pesisir. Shelter ini berfungsi sebagai titik kumpul sekaligus titik penyelamatan tercepat.

"Saya pernah melihat di Kroya masyarakat secara swadaya membuat shelter. Bangunannya tinggi," dia menerangkan.

Dia juga menyarankan agar pemerintah di kawasan pesisir, seperti Cilacap dan Kebumen mepersiapkan bangunan-bangunan tinggi yang bisa menjadi pusat evakuasi cepat. Pemerintah bisa bekerja sama dengan pemilik gedung tinggi, seperti hotel atau gedung sekolah yang dibangun bertingkat.

Sebab, bisa jadi, saat bencana tiba, jalan macet oleh luapan kendaraan dari arah pesisir ke wilayah pegunungan yang berada di sisi utara.

"Bisa menjadi pusat penyelamatan pertama yang bisa dijangkau oleh masyarakat," dia menjelaskan.

Asmoro juga menyoroti jalan utama di Cilacap yang rata-rata melajur dari timur-barat, atau sejajar pantai. Adapun jalur yang mengarah ke utara jumlahnya terbatas. Kalaupun ada, jalan itu bukan lah jalur utama.

Jalur utama ini tak bisa digunakan sebagai jalur evakuasi. Sebab, tsunami mengarah dari pantai ke daratan.

Karenanya, ia mendorong agar pemerintah mempersiapkan infrastruktur yang sejalan dengan mitigasi bencana. Salah satu yang didorong adalah dengan membangun jalur-jalur besar yang mengarah ke utara.

Dengan demikian, saat terjadi ancaman tsunami, masyarakat bisa mengevakuasi diri dengan cepat. Jalan juga relatif bisa menampung luapan kendaraan dan manusia yang sama-sama mengungsi ke arah yang sama.

"Mungkin sekarang belum terpakai. Tapi di masa depan, mungkin saja akan sangat berguna," dia mengungkapkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS