Sukses

Kaum Sunda Wiwitan Cigugur dan Keturunan Sunan Gunungjati

Liputan6.com, Cirebon - Di tengah keasrian Kabupaten Kuningan, ada peran masyarakat adat Sunda Wiwitan yang menjaga dan melestarikan alam. Mereka menamakan diri Masyarakat Adat Karuhun (AKUR) Sunda Wiwitan.

Berdasarkan catatan sejarah, Sunda Wiwitan merupakan keyakinan masyarakat Sunda yang sudah menjadi budaya setempat. Saat ini masyarakat Akur Sunda Wiwitan Cigugur mendapat kesempatan tercatat dalam kolom E-KTP sebagai penghayat.

Keyakinan itu sebetulnya lebih banyak ke arah yang positif. Seperti ajaran tentang melestarikan lingkungan, perlakuan yang baik terhadap alam, sumber air, dan perlakuan yang mulia terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi.

Sebab, saat itu orang Sunda hidupnya tergantung dari pangan, dalam hal ini padi hingga menjadi makanan pokok orang Indonesia.

Filolog Cirebon, Opan Rachman Hasyim, menyebutkan Sunda Wiwitan sudah ada jauh sebelum Islam dan agama lain yang resmi masuk di Indonesia.

"Tapi ingat, Sunda Wiwitan bukan agama, lebih kepada keyakinan masyarakat di Cigugur. Keyakinan terhadap sebuah tradisi yang berlangsung ratusan tahun lalu" ucap pria yang akrab disapa Opan ini, Kamis (23/5/2019).

Opan menyebutkan, hingga saat ini, kaum Sunda Wiwitan Cigugur sudah memasuki generasi ketiga. Pada generasi pertama, sekitar tahun 470 Masehi, masyarakat Cigugur mengenal seorang resi adat bernama Ki Ageng Pandara.

Sosok Ki Ageng Pandara inilah yang dianggap sebagai seorang resi yang mennjalani tasawuf selama hidupnya. Setiap hari selalu membersihkan diri, baik fisik maupun batin sambil menyebut nama Tuhan.

"Sampai pada suatu saat datang Sunan Gunungjati dan heran melihat tubuh pakaian Ki Ageng Pandara, kok bersih dan hatinya juga bersih. Keduanya pun bertemu," kata dia.

Seiring berjalannya waktu, Sunan Gunungjati mengangkat Arya Kemuning menjadi bupati pertama Kuningan dan menyebarkan ajaran Islam. Sementara itu, anak buah Ki Ageng Pandara yang tidak bisa mengikuti jejak pemimpinnya menjadi ikan Dewa.

2 dari 2 halaman

Madrais Alibasa

Pada masa Arya Kemuning, sebagian besar masyarakat di Kabupaten Kuningan menganut Islam. Namun demikian, Arya Kemuning maupun Sunan Gunungjati tidak menghilangkan tradisi, budaya, serta ajaran kebaikan dari Sunda Wiwitan.

Masuk ke generasi kedua kaum Sunda Wiwitan, sekitar tahun 1930, kembali dihidupkan oleh Kiai Muhammad Rais atau dikenal dengan Pangeran Sadewa Madrais Alibasa.

Kiai Muhammad Rais berdasarkan catatan Kuningan merupakan keturunan dari Pangeran Alibasa. Sementara itu, Pangeran Alibasa masih memiliki keturunan Sunan Gunungjati.

"Ada cerita kontroversi di generasi kedua ini, tapi sebagian besar meyakini Kiai Muhammad Rais merupakan turunan Sunan Gunungjati dari garis keluarga Gebang Kabupaten Cirebon," ucap dia.

Dalam membangkitkan kembali kaum Sunda Wiwitan, Kiai Muhammad Rais turut berperang dan menjadi tokoh gerakan kebangkitan kebangsaan melalui gerakan kebudayaan.

Usai berjuang melawan Belanda dan merebut kemerdekaan Indonesia, kaum Sunda Wiwitan diberikan kepada turunannya, yakni Pangeran Tedja Buana pada tahun 1948.

"Setelah Pangeran Tedja Buana penokohan Sunda Wiwitan Cigugur diserahkan kepada Pangeran Djati Kusuma. Kalau orang dulu ke lingkungan itu tidak merusak. Misal ada kearifan lokal di situ ya dilanjutkan, ada yang salah ya dibeneri," tutur Opan.

Misalnya, sebelum Islam datang ada tradisi mandi suci, di Islam juga ada mandi suci.

"Tinggal apa yang belum sempurna dari situ seperti belum ada niat, ya diberikan bacaan niat, ditutup dengan apa supaya tetap suci ditutup dengan wudu," ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Loading
Artikel Selanjutnya
Daftar Online untuk Mendaki Gunung Ciremai
Artikel Selanjutnya
Korban Longsor di Jalur Majalengka-Kuningan Berhasil Dievakuasi