Sukses

Mimpi Annisa Kandas Bersama Kapal Ayahnya di Selat Morong

Liputan6.com, Pekanbaru- Pupus sudah rencana Annisa untuk foto bersama sang ayah di wisudanya pada akhir Februari nanti. Ayahnya yang bernama Dasril menjadi satu-satunya korban kapal tenggelam di Selat Morong Bengkalis, Riau, dan hingga kini belum ditemukan.

Kapal yang ditumpangi sang ayah kandas terempas gelombang pada Sabtu malam, (27/1/2019). Dara 24 tahun itu hanya berharap ayahnya bisa ditemukan dalam kondisi apa pun.

"Penginnya Papa selamat, berkumpul lagi di rumah. Kalau memang terjadi yang terburuk, jasadnya ditemukan," ucap Annisa kepada Liputan6.com di Pekanbaru, Selasa (29/1/2019).

Sebelum peristiwa kapal tenggelam terjadi, Annisa dan ibunya Sudarsih tak ada firasat apa pun. Apalagi Sabtu pagi Dasril masih menghubungi keluarga di Pekanbaru. Posisi pekerja mesin kapal cargo pengangkut 14 ribu sak semen tersebut mengaku sedang berada di kamar kala itu.

Dari ujung telepon, Sudarsih mendengar suara angin kencang. Dasril berusaha menenangkan istrinya dan menyebut sedang terjadi badai biasa di tengah laut.

"Itu jam 10 pagi neleponnya, jam 10 malam nelepon lagi tapi tak terangkat karena HP Mama dicas. Ditelepon balik tidak tersambung lagi. Pagi besoknya dapat kabar dari keluarga dari Pariaman bahwa kapal tenggelam," tutur Annisa.

Penuturan keluarga Annisa di Pariaman, Sumatera Barat, tujuh anak buah kapal (ABK) termasuk nakhoda berhasil menyelamatkan diri. Sementara tiga lainnya, termasuk Dasril, masih terjebak di kamar bawah bagian mesin kapal.

Tak lama setelah itu Annisa mendapati kabar dari kakaknya Sebastian yang menyusul di pos pencarian (Kota Dumai) bahwa dua ABK lain sudah ditemukan. Sementara Dasril masih dicari petugas dengan menyusuri Selat Morong, Bengkalis.

"Papa memang sering di kamar kapal karena sakit asam urat. Orang kapal sudah mengerti dan selalu membantu kerja Papa," ucap Annisa.

2 dari 2 halaman

Dasril Beberapa Kali Selamat

Menurut pengakuan Annisa, ayahnya yang berusia 60 tahun sudah bekerja di sejumlah kapal sejak lajang. Mulai dari kapal pengangkut batu bara, pasir, dan setahun belakangan di PT Asia Samudera Hokindo (kapal pengangkut semen).

Selama bekerja, Dasril jarang sekali pulang. Dalam setahun bisa sekali, dua kali, atau tidak sama sekali. Terakhir, Annisa berjumpa dengan Dasril ketika wisuda S1 di Universitas Riau dengan jurusan perawat.

"Saat itu Papa nanya, apakah Nisa masih mau Papa bekerja atau tidak. Nisa jawab bekerja saja dulu, nanti pas wisuda pendidikan profesi pada akhir Februari baru berhenti. Nanti foto bersama dengan Papa," sebut Annisa.

Untuk pendidikan profesi ini, Annisa mengambil gelar nurse. Langkahnya sudah selesai karena sudah jalani yudisium, beberapa hari menjelang kapal karam yang membuatnya menjadi yatim.

Annisa menceritakan, musibah di tengah laut bukan pertama kali dialami ayahnya. Kapal ayahnya juga pernah karam dan beberapa kali kandas di lautan, tapi Tuhan masih menyelamatkan.

"Kejadian ini yang paling buruk karena papa belum ditemukan," ucap Annisa.

Sebelumnya, kapal tempat Dasril bekerja berangkat dari Kota Dumai dengan tujuan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Kapal pengangkut 14 ribu sak semen itu lalu dihantam gelombang tinggi hingga karam di perairan Selat Morong Bengkalis.

Tujuh ABK berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan kapal lain yang melintas. Sementara dua ABK lainnya terdampar di pantai setelah berhasil dari ruang mesin untuk menyelamatkan Dasril. Hanya saja, Dasril hingga kini belum ditemukan.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading