Sukses

Warna-warni Pecinan dan Semangat Bhinneka Tunggal Ika di Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Cirebon tak hanya dikenal dengan tiga keraton yang masih aktif. Kehidupan masyarakat Cirebon tak lepas dari akulturasi budaya etnis Tiongkok, Arab dan India.

Terlihat dari aktivitas sehari-hari masyarakat Cirebon di sebuah pasar tradisional Kanoman. Dari sejarah panjang tersebut, Sebanyak 208 ruko dan 160 PKL disulap menjadi lebih berwarna.

"Cirebon memiliki sejarah panjang dan tak terlepas dari inkulturasi suku dan agama," ujar Direktur Pacific Paint Surayanto Tjokrosantoso ditengah kegiatan Pecinan Warna-Warni, Kamis (3/5/2018).

Pengecatan ratusan ruko sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali rasa persatuan dan perbedaan. Dia mengaku, pasar merupakan salah satu tempat berinteraksi masyarkat yang beragam.

"Di pasar Kanoman ini banyak orang dari beragam etnis tapi mereka harmonis. Pengecatan ini juga sebagai bagian dari memperindah pasar agar tidak terkesan kumuh," sebut dia.

Suryanto menjelaskan, sebelumnya sudah melakukan pendekatan budaya dan sosial. Hasilnya, Cirebon menjadi kota yang unik tak hanya dari sejarah, melainkan nilai persatuan dan kesatuan.

Bagi Suryanto, Cirebon merupakan representasi kecil dari Negara Indonesia secara keseluruhan. Selain masyarakat yang beragam dan harmonis, sejumlah kuliner tradisional maupun modern juga ada di Cirebon.

"Tujuan utamanya agar bagaimana kalau kita ke pasar tidak terkesan bau, becek dan kotor. Kami ingin mengubah stigma itu dan dari Pasar Kanoman orang bisa berkegiatan," ujar dia.

2 dari 2 halaman

Semangat Bhineka Tunggal Ika

Dia mengatakan, program warna warni Pecinan tersebut mendapat dukungan penuh dari tiga keraton di Cirebon, yakni Kanoman, Kasepuhan dan Kacirebonan.

"Warna warni pecinan ini benang merahnya adalah peduli dan Indonesia masih butuh orang peduli walaupun bukan hal besar," sambung dia.

Corporate Head Marketing Pacific Paint Ricky Soesanti mengatakan, Pasar Kanoman memiliki keunikan tersendiri. Selain pengunjung, para pedagang pasar juga dari berbagai macam suku dan etnis.

Dia menjelaskan, program pengecatan ruko tersebut menjadi representasi warna kehidupan masyarakat Cirebon di Pasar Kanoman. Pasar Kanoman juga memiliki sisi lain yang dapat promosikan.

"Saya melihat di Pasar Kanoman ini ada potensi mengembangkan wisata fotografi maka dari itu kami berusaha mengecat ruko dengan konsep yang berwarna dan instagramabel. Tapi tetap harus dikelola berkesinambungan,"

Patih Keraton Kanoman Cirebon Pangeran Raja Mochammad Qodiran menyebutkan, hadirnya kawasan Pecinan tak terlepas dari sejarah Cirebon. Pernikahan Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tin menjadi bagian dari sejarah penting kehidupan yang beragam dan harmonis di Pantura Jawa Barat ini.

"Ratusan tahun lalu sudah ada kawasan Pecinan dan kulturnya selalu harmonis sampai sekarang," sebut dia.

Qodiran mengatakan, kawasan Pecinan merupakan salah satu pusat niaga Cirebon pada zaman dahulu. Dia mengaku, semangat Bhineka Tunggal Ika sudah ada sejak zaman Sunan Gunung Jati.

Dia berharap, program warna warni Pecinan bukan hanya sebagai kegiatan seremonial saja. Dia juga meminta pemerintah setempat membuat perda khusus kawasan Pecinan menjadi Heritage Cirebon.

"Kawasan Pecinan ini salah satu lokasi yang akan kami pertahankan dan lestarikan terus karena warisan sejarah leluhur. Kami berharap ada langkah kongkrit pemerintah daerah menjadikan sebagai kawasan heritage agar tidak menghapus jejak sejarah kita," harap dia.

Saksikan vidio pilihan berikut ini:

Loading