Sukses

Momen Mengharukan Setelah 113 Hari Perburuan Harimau Bonita

Liputan6.com, Pekanbaru - Proses penangkapan Bonita, harimau sumatera betina, yang memakan waktu sampai 113 hari, menjadi pengalaman tak terlupakan bagi tim, warga dusun, serta pekerja perkebunan sawit. Rasa puas dan bercampur kehilangan dirasakan tim terpadu yang dibentuk.

Tim bahkan sempat putus asa. Pasalnya, pencariannya sesudah korban kedua memasuki tahap ketiga. Tahap ini menjadi pilihan terakhir karena Bonita akan ditembak menggunakan peluru tajam.

"Akhirnya dibentuk tim terpadu. Begitu tertangkap ada yang terharu, ada yang menangis dan merasa kehilangan saat ini," ujar Kabid Wilayah I BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo, di Pekanbaru, Senin, 23 April 2018.

Menurut Hutomo, perburuan Bonita merupakan penanganan konflik antara manusia dan hewan liar paling panjang. Tim sudah terbiasa mengikuti jejak dan berjumpa langsung harimau dengan nyawa sebagai taruhan.

Apalagi, Bonita sempat mengisolasi tim selama dua jam di hutan. Bonita membuat adrenalin berdesir kencang karena selalu mengambil ancang-ancang untuk menyerang.

"Untung saat itu ada tim bantuan, Bonita pergi. Dan ini menjadi pengalaman berharga karena Bonita sudah menyatukan kami yang selama ini berbeda pandangan dalam penanganan satwa," ujar Hutomo.

Sementara itu, ratusan warga di Dusun Danau serta pekerja kebun sawit mengaku bisa bernafas lega karena Bonita sudah tertangkap. Mereka tidak akan ada lagi didatangi ataupun ditongkrongi saat memanen sawit.

Meski begitu, kewaspadaan tidak dihilangkan. Pasalnya, dusun dan perkebunan itu merupakan habitat harimau dan menjadi perlintasan mamalia karnivora itu karena lokasinya dekat dengan kawasan Suaka Kerumutan.

Di lokasi ini, ada enam harimau yang berdiam dan menjelajah wilayahnya masing-masing pada saat tertentu. Dengan tertangkapnya Bonita, berarti masih ada lima harimau lainnya.

Apalagi sejak kemunculan Bonita, ada harimau lainnya yang sering muncul. Teman Bonita dipanggil Boni ini memang tidak berubah perilaku karena aktif malam hari dan menghindar jika berpapasan dengan manusia.

 

 

2 dari 2 halaman

Kamera Pengintai Tetap Terpasang

Namun, gerak-gerik Boni tetap dipantau Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Sejumlah kamera pengintai masih dipasang di beberapa lokasi yang menjadi perlintasannya.

"Masih Mas, kamera pengintai masih terpasang untuk memantau Boni," kata Hutomo.

Terkait belasan perangkap yang dipasang untuk menangkap Bonita, Hutomo menyebut tak akan digunakan lagi. Perangkap akan dibersihkan karena Boni dirasa belum perlu direlokasi.

Pertimbangannya, kata Hutomo, Boni tidak seperti Bonita yang mengalami perubahan perilaku. Boni lebih pemalu dan sering muncul di malam hari dan tak mau berjumpa manusia.

"Sebelum Bonita tertangkap, Boni masih terlihat sekali. Lokasinya di hutan yang berbatasan dengan perkebunan sawit, malam hari keluarnya mencari makan," ucap Hutomo.

"Ketika mencari makan, dia keluar di perbatasan. Ada kanal di sebelahnya, dia menyeberang. Kalau sudah mencari makan, dia masuk lagi ke hutan," tambah Hutomo.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Jokowi Resmikan Rehabilitasi MTsN 3 Pekanbaru
Artikel Selanjutnya
Sang Penjaga Melayu Bernama Pantun