Sukses

Kisah Pemuda Sukabumi yang Nekat Bertelanjang Dada Mengejar Jokowi

Liputan6.com, Sukabumi - Aksi Presiden Joko Widodo atau Jokowi konvoi bermotor di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menyita perhatian masyarakat. Foto-fotonya jadi perbincangan warganet di dunia maya.

Dari sekian banyak foto yang beredar, ada satu yang viral, yakni tampaknya sosok pemuda bertelanjang dada, hanya memakai kolor alias celana pendek santai berwarna biru tanpa sandal. Dia terlihat nekat mengejar Jokowi yang sedang mengendarai Motor Chopper Royal Enfield 350 berwarna emas.

Dialah Ariyanto (19), warga Kampung Nagrog, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Saat terjepret kamera jurnalis, pemuda yang akrab disapa Bona ini mengaku hendak menyentuh dan bersalaman dengan Presiden Jokowi.

"Di sini kan emang ramai, kata orang-orang Pak Jokowi mau lewat. Saya langsung buru-buru ke jalan raya tanpa pakai baju dan sandal," kata Bona kepada wartawan, Selasa (10/4/2018).

Bona menghampiri Jokowi tanpa sandal dan baju karena sedang beristirahat dari pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Ia sedang membantu pembangunan rumah kakaknya, Marhani, yang berada di sekitar lokasi, tepatnya di Kampung Ciawun, Desa Citarik.

Bona mengaku tidak takut tertabrak rombongan Jokowi atau ditegur Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Ia tak mau melewatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan sang presiden.

"Saya kira Pak Jokowi mau berhenti, makanya saya kejar. Kena tangannya sedikit karena Pak Jokowi juga melambaikan tangan," ujarnya bahagia.

 

 

2 dari 3 halaman

Putus Sekolah karena Tak Punya Biaya

Bona kini tengah disibukkan dengan aktivitasnya membantu pembangunan rumah kakaknya di Kampung Ciawun. Selain itu, ia tidak punya pekerjaan lain.

"Cuma putus sampai MTs, enggak lanjut sekolah lagi," kata Bona.

Anak keenam dari tujuh bersaudara ini lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Yastib di Desa Tonjong, Kecamatan Palabuhanratu, pada 2014. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Batu Jaya.

"Baru dua bulan ini, bantu jadi kuli buat pembangunan rumah kakak," kata pemuda kelahiran 28 Mei 1998 itu.

Anak dari pasangan Otimah dan Maman itu tidak punya banyak pilihan. Orangtua yang hanya bermata pencaharian sebagai buruh serabutan, tak mampu memberikan biaya untuk kelanjutan pendidikannya.

"Mau kerja lain juga belum bisa, lowongan kerja susah. Apalagi bagi saya yang hanya lulusan SMP," tuturnya.

3 dari 3 halaman

Keluarga Kurang Mampu

Deni Herlandi (40), kakak ipar Bona, menambahkan, pihak keluarga tidak bisa banyak membantu. Lima kakaknya pun hidup pas-pasan.

"Dari segi ekonomi, kakak-kakaknya juga keluarga pas-pasan," kata Deni kepada Liputan6.com.

Alhasil, mereka tidak bisa membantu membiayai Bona untuk melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas. Kakak Bona pun tak ada yang lulus SMA.

"Bahkan kakaknya yang pertama dan kedua hanya sampai SD," cerita Deni.

 

Simak video pilihan berikut ini: