Sukses

Angin Kencang Melanda Flores, Apa Upaya BPBD?

Liputan6.com, Flores - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendata kerusakan akibat cuaca ekstrem dan angin kencang yang melanda Pulau Flores dan wilayah sekitarnya dalam beberapa hari terakhir.

"Kami sudah terima laporan dari BPBD terkait angin kencang yang terjadi wilayah Pulau Flores, untuk saat ini mereka masih mendata kerusakan yang ditimbulkan," ucap Kepala BPBD NTT, Tini Thadeus, kepada Liputan6.com, Senin (29/1/2018).

Dia menjelaskan, rata-rata wilayah Pulau Flores terkena dampak angin kencang dalam empat hari berturut-turut. Kondisi angin kencang telah menimbulkan kerusakan tanaman perkebunan, pohon-pohon yang tumbang hingga rusaknya rumah-rumah warga serta fasiitas umum seperti tiang, baliho, dan lainnya.

Mayoritas warga di Flores menyampaikan kekhawatiran. Pasalnya, angin kencang yang dialami kali ini tidak seperti biasanya.

"Angin kencang memang tidak intens, tapi sewaktu-waktu ketika datang langsung kencang," katanya.

 

2 dari 3 halaman

Bantuan Darurat

Tini menjelaskan pula, petugas BPBD di daerah sedang mendata dampak kerusakan yang memerlukan bantuan.

"Nanti pendataan kami lihat mana yang perlu bantuan emergensi, mana yang lebih parah yang butuhkan bantuan dari pusat karena kita kan dananya terbatas," ujarnya.

Karena itu, BPBD NTT akan berkoordinasi dengan berbagai pihak di tingkat kabupaten. "Untuk pilah-pilah kerusakan yang ada untuk ditangani," imbuhnya.

Tini mengatakan pula, untuk bantuan darurat dipastikan bisa langsung disalurkan melalui BPBD di daerah. Untuk itu, stok bantuan sudah tersedia.

BPBD NTT telah menyalurkan logistik provinsi ke setiap daerah sekitar September sampai Oktober 2017. Distribusi ini mengantisipasi stok bantuan di daerah dalam menghadapi bencana.

Menurut Tini, bantuan logistik tersebut berupa beras, makanan ringan, makanan siap saji, minuman, hingga perlengkapan seperti tenda darurat, lantai karpet, selimut, dan lainnya.

 

3 dari 3 halaman

BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem. Kondisi tersebut akan terjadi selama enam hari ke depan.

"Analisa BMKG, ada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam seminggu ke depan. Yaitu mulai hari ini hingga 3 Februari 2018," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta, Senin (29/1/2018), dikutip Liputan6.com.

Menurut dia, selain hujan lebat, angin dengan kecepatan tinggi juga akan menyapa sejumlah wilayah Indonesia. Angin tersebut bergerak dalam kisaran 25 hingga 35 knot.

"Potensi hujan lebat dan disertai kecepatan angin yang tinggi hingga mencapai 25 knot atau 36 km per jam hingga 35 knot atau 70 km per jam," jelas Dwikorita.

Dia mengungkapkan, penyebab utama dari potensi hujan tersebut adalah pergerakan masa udara dingin dari daratan Asia yang masih cukup aktif ditinjau dari indeks udara dingin.

Selain itu, lintasan edar Matahari juga masih berada di belahan selatan Bumi, sehingga temperaturnya relatif lebih tinggi daripada di belahan utara Bumi. Alhasil, terjadilah tekanan udara yang rendah di Samudra Hindia atau wilayah belahan selatan Bumi yang mengakibatkan aliran udara dingin dari arah belahan utara Bumi, tepatnya di daratan Asia.

Saksikan video pilihan di bawah ini: