Sukses

Detonator Bom Buatan India, 'Mainan' Baru Nelayan di Kolaka

Liputan6.com, Kolaka - Wilayah laut Sulawesi Tenggara rentan dari aksi pengeboman ikan dan tindak pidana perusakan lingkungan. Terbaru, seorang nelayan asal rumah laut di Kelurahan Anaiwoi Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, ditangkap karena memiliki bahan peledak pembuat bom ikan jenis amonium nitrat, Rabu, 20 Desember 2017.

Puluhan liter amonium nitrat dan pupuk siap olah ditemukan dari tangan Edi dan Herman, dua orang nelayan di wilayah itu. Amonium nitrat yang disembunyikan di dalam rumah di tepi laut ini, dipakai keduanya untuk mengebom ikan.

Tidak hanya itu, polisi juga menemukan puluhan botol bom ikan beserta detonator (sumbu ledak) bom asal India. Sebanyak lima detonator bom berhasil diamankan dari rumah keduanya.

Mereka mengakui, detonator tersebut dibeli dari Malaysia melalui salah seorang perantara. Detonator berukuran sedang itu masuk ke Indonesia melalui jalur laut.

Menurut pengakuan Herman dan Edi, detonator buatan India lebih sederhana dan aman saat dipakai untuk mengebom ikan. Dengan begitu, potensi terjadi kecelakaan lebih kecil dibandingkan detonator buatan Filipina.

"Kita pesannya di Malaysia, kalau ada kapal masuk ya kita dibawakan dari sana," ujar Edi, Kamis, 21 Desember 2017.

Dir Polairud Polda Sulawesi Tenggara Kombes Andi Anugrah mengatakan, pihaknya terus memburu sejumlah pelaku pengeboman ikan di wilayah Sultra. Akhir-akhir ini, pihaknya kadang mendapat laporan dari warga sekitar mengenai aktivitas berbahaya itu.

"Kita upayakan bisa berantas demi ekosistem laut yang terjaga. Namun, yang terpenting sebenarnya adalah sosialisasi dan pencegahan kepada masyarakat," ujar Andi.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 3 halaman

Nelayan Merasa Dikalahkan Pemilik Pukat Harimau

Berdasarkan pengakuan Edi dan Herman, dua nelayan yang ditangkap di wilayah Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, mereka yang menangkap dengan pancing dan jala, tersingkir dengan hadirnya pukat harimau, sehingga pendapatan mereka berkurang setiap hari.

Untuk menghidupi keluarga, mereka terpaksa harus bekerja lebih keras setiap hari. Itu pun jika ada rezeki berlebih. Jika tidak, mereka terpaksa harus bersabar.

"Banyak pukat harimau, jadi lebih baik kami mengebom ikan supaya dapat banyak ikan," ujar Edi.

Menurut pengakuan nelayan, pukat harimau lebih banyak menangkap ikan. Mulai dari ikan kecil hingga besar, disapu rata. Dampak negatifnya, nelayan dengan perahu kecil harus berlayar lebih jauh dari daratan untuk mendapatkan ikan.

"Kalau dulu, di pinggir pantai bisa buang jala dan dapat banyak ikan. Sekarang, harus pergi sore pulang pagi untuk bisa dapat ikan bagus," ujar salah satu nelayan bernama Rummang.

Penyebabnya, karena terumbu karang di sekitar pantai habis dirusak pukat harimau. Meskipun demikian, bom ikan juga sama-sama merusak terumbu karang dan biota laut lainnya saat dipakai menangkap ikan.

 

3 dari 3 halaman

TNI dan Polisi Ajarkan Anak Pesisir Pentingnya Terumbu Karang

Untuk mengantisipasi maraknya perusakan terumbu karang di wilayah perairan Sulawesi Tenggara, pihak TNI dan kepolisian gencar menggelar sosialisasi. Salah satunya, yang dilakukan yayasan Hang Tuah Kendari.

Yayasan yang diasuh langsung pihak Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Kendari itu mengajarkan bagaimana melindungi terumbu karang, serta mengenalkan biota karang, ikan, dan biota laut yang memberikan pengaruh besar pada ekosistem laut.

Pendidikan ini dilakukan melalui sosialisasi dan lomba menggambar dan mewarnai karang, ikan, dan ekosistem laut, pada pekan lalu. Tujuannya mengenalkan aktivitas ramah lingkungan dan mengajak peduli terhadap potensi maritim yang dimiliki daerah kepada seluruh anak taman kanak-kanak di Kota Kendari.

Komandan Lanal Kendari, Kolonel Laut (P) Prio Budie Leksono, mengatakan, upaya dilakukan untuk menggalakkan tindakan pencegahan dan mendidik anak usia dini tentang pentingnya laut sebagai penopang hidup. Sebab, kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara bergantung pada laut yang luasnya 70 persen lebih besar dibanding daratan.

"Makanya, kita ajarkan mereka sejak dini, sehingga harapannya mereka mulai mengerti pentingnya menjaga terumbu karang sejak kecil. Karena ilmu yang diajarkan bertahap sejak usia dini lebih tertanam diingatan," ujar Prio Budie Leksono.