Sukses

Rahasia Hidup Sepasang Nenek Berusia Seratus Tahun Lebih di Solo

Karanganyar - Momen spesial HUT Kabupaten Karanganyar ke-100 hari ini juga membawa berkah bagi sedikitnya 64 warga yang tercatat memiliki usia di atas 100 tahun dan masih hidup. Dua dari manusia-manusia tertua itu yakni Wagiyem (116) dan Ngadiyem (114), hidup dengan keunikan dan cerita kesaksian sejarah masing-masing.

Meski dihiasi dengan keriput, wajah nenek berambut putih itu masih terlihat sehat dan semringah. Saat Bupati Karanganyar, Juliyatmono menyambangi rumahnya Jumat, 17 November 2017, nenek yang tinggal di Dukuh Ngebong RT 7/5, Beningrejo, Desa Gaum, Tasikmadu itu masih lancar diajak berkomunikasi.

Saat ditanya namanya, perempuan bernama Wagiyem itu masih bisa menjawab dengan lancar. Sesekali, ia tertawa lepas menampakkan giginya yang masih utuh tapi kelihatan menghitam tanda gemar menyirih. Namun, saat ditanya tanggal lahirnya, Wagiyem mengaku tidak ingat. Dirinya hanya ingat saat momentum perang penjajahan oleh Belanda.

"Mboten kelingan jaman Jepang. Nak jaman londo sih kemutan. Kula kelingan teng Soka mendet lampu pas perang Landa niku. Jaman nom-noman kula glidig nggen tebu (Tidak ingat zaman Jepang. Kalau zaman Belanda masih ingat. Zaman muda saya kerja di pabrik tebu),” ujarnya di hadapan bupati.

Wagiyem yang tercatat di Dispendukcatpil lahir pada 31 Desember 1901 itu kini menghabiskan masa tuanya bersama cucunya di rumah kecilnya di Dukuh Ngebong. Yang menarik, ia mengisahkan dirinya waktu muda pernah 25 tahun bekerja di padang golf Senayan, Jakarta sebagai tukang sapu.

Ia juga mengaku menikah tiga kali. Suami pertamanya asal Sragen, yang kedua asal Pondok dan yang terakhir dipersunting pria asal Jakarta bernama Karto Suwito. Dari tiga kali pernikahan itu, hanya Karto Suwito yang memberinya dua anak yang kini menjadi penerus keturunannya. Pernikahan sampai tiga kali itu dilakukan karena suami pertama dan kedua meninggal.

 

"Omah niki dibangun angsal pesangon kerja di Senayan. Mboten caddy, naming tukang sapu. Bojo kula mpun tilar sedanten. Tasih sehat, mireng tasih sae, naming mripate mpun bleru-bleru. Untu tasih utuh mergo nginang. Maeme sayur-sayuran, dong pohung, bayem (Rumah ini dibangun dengan uang hasil pesangon kerja di Senayan. Bukan caddy, tapi tukang sapu. Suami saya sudah meninggal. Saya masih sehat. Pendengaran masih bagus. Tapi penglihatan saya mulai samar. Kalau gigi saya masih utuh karena nginang. Saya makan sayur-sayuran seperti daun ketela dan bayam),” ujar Mbah Wagiyem.

Saat diberi sedikit uang oleh bupati, Mbah Wagiyem langsung menyambut dengan doa semoga terpilih kembali jadi Bupati.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyampaikan tujuannya mengunjungi dua perempuan lansia itu sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada generasi tua. Dia bersyukur bahwa masih banyak warga Karanganyar berusia 100 tahun dalam kondisi sehat dan semangat.

"Contohnya dua simbah tadi masih ceria dan semangat. Luar biasa perlu diteladani. Kami berharap mereka mendoakan Karanganyar yang terbaik. Data yang saya dapatkan ada 64 orang berusia 100 tahun bahkan lebih," ungkap Yuli saat ditemui wartawan seusai kegiatan.

Baca berita menarik dari joglosemar.co lainnya di sini

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Nenek Ngadiyem

Selain manusia tertua yang dipegang Mbah Wagiyem (116), ada Mbah Marto Ngadiyem yang tinggal di dukuh yang sama, hanya beberapa meter dari rumah Wagiyem.

Sama halnya dengan Wagiyem, Mbah Ngadiyem pun juga terlihat masih bugar di usianya yang sudah lebih dari 100 tahun. Hanya bedanya, nenek itu sudah terlihat beberapa giginya tanggal.

Ia juga menuturkan, suaminya sudah meninggal dan dia punya enam orang anak dengan anak pertama berusia sekitar 60 tahun. Saat ditanya oleh bupati usianya berapa, Mbah Wagiyem sempat menjawab usianya 70 tahun. Hal ini membuat bupati sempat terkejut.

"Lha anak pertama usia 60 tahun, po 10 tahun wis nduwe anak (Lha anak pertama saja usianya 60 tahun, masa usia 10 tahun sudah punya anak)," celetuk bupati.

Saat ditanya ingatannya, Mbah Ngadiyem mengaku sempat teringat tragedi bakar-bakaran zaman penjajahan Belanda di pabrik gula Tasikmadu. "Kula sih kelingan pas Pabrik Gula (Tasikmadu) ubal-ubalan. Kula angsal gula tigang kilo (Saya masih ingat pas tragedi pembakaran pabrik gula. Saya dapat gula tiga kilogram),” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menyampaikan tujuannya mengunjungi dua manusia tertua itu sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada generasi tua. Dia bersyukur bahwa masih banyak warga Karanganyar berusia 100 tahun dalam kondisi sehat dan semangat.

"Contohnya dua simbah tadi masih ceria dan semangat. Luar biasa perlu diteladani. Kami berharap mereka mendoakan Karanganyar yang terbaik. Data yang saya dapatkan ada 64 orang berusia 100 tahun bahkan lebih," ungkap Yuli saat ditemui wartawan seusai kegiatan.

Menurut rencana, 64 warga Karanganyar berusia 100 tahun atau lebih itu akan diundang untuk hadir saat upacara HUT ke-100 Kabupaten Karanganyar di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar, Sabtu, 18 November 2017.