Sukses

Kunjungan Pagi ke Batu Salib Peninggalan Portugis di Tepi Pantai

Liputan6.com, Kupang - Jalan berkelok-kelok melintas di antara perbukitan yang curam dan terjal dengan tingkat kemiringan 30 derajat. Di sekeliling perbukitan yang menantang itu, tampak panorama alam pagi yang menggoda. Aroma buah kakao, kopi, nangka, dan wangi bunga kemiri yang akrab mengantar pecinta menuju surganya dunia.

Begitulah perjalanan menuju Kecamatan Bola, salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak Bola, ibu kota Kecamatan Bola dengan Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, adalah 26 km atau hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke sana.

Kecamatan Bola memiliki kekayaan wisata yang menarik dan unik. Wisata alam, budaya, dan seni terpatri nyata. Karena letaknya di pantai selatan Maumere, Kabupaten Sikka, tidaklah mengherankan jika Kecamatan Bola menawarkan keaslian pantai yang menakjubkan.

Di Desa Ipir, kita semua akan tercengang menyaksikan deburan ombak berirama lembut. Kita dapat menghabiskan hari sambil tidur-tiduran di pantai dan menanti pulangnya surya ke peraduan. Bila berada di hamparan pasir Pantai Ipir, rasanya enggan untuk cepat-cepat berangkat pulang.

Sengatan matahari yang membakar tubuh di Pantai Ipir akan kembali disegarkan oleh Pantai Baluk (Nuba Baluk) dan dinginnya Wair Baluk (Sumur Tua). Kekhasan Nuba Baluk adalah ombaknya yang terus bergulung berbusa putih.

Di tengah busa putih dan ombak itulah tertanam salib setinggi 3 meter, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Watu Krus atau dalam Bahasa Indonesia disebut Batu Salib.

Watu Krus memiliki hubungan erat dengan perjalanan misionaris Portugis saat melintas dan membawa misi penyebaran agama Katolik di wilayah Indonesia Timur. Pada 1660-an, Fransiskus Xaverius dan Dominikus memasuki wilayah ini dan menancapkan salib di atas batu karang yang berada di bibir pantai Nuba Baluk.

"Penancapan salib tersebut sebagai bukti bahwa wilayah ini telah dibaptis Katolik dan telah menjadi suci," ujar Yohanes Moa, warga Desa Ipir.

Sedangkan, Wair Baluk merupakan sumur tua yang digali oleh misionaris Portugis. Menurut cerita turun temurun masyarakat sekitar, Wair Baluk digali dengan menggunakan tongkat Fransiskus Xaverius. Menariknya, walaupun berada tidak jauh dari bibir pantai Nuba Baluk (sekitar 10 meter), airnya tetap tawar.

"Kami manfaatkan untuk kebutuhan minum, mandi dan mencuci," kata Yohanes.

Tidak jauh dari Wair Baluk, hanya ditempuh dengan berjalan kaki, terdapat dua buah makam misionaris Portugis, yakni makam seorang pastor dan seorang suster. Hingga kini, makam kedua rohaniawan Katolik ini masih dijaga dengan baik, walaupun hanya tumpukan tanah dan batu pada bagian kepala makam sebagai tanda.

Sekitar lima kilometer ke arah barat dari Nuba Baluk, kita juga dapat menikmati keindahan Pantai Waigete. Pantai ini merupakan tempat bersatunya Sungai Waigete dengan pantai selatan Kabupaten Sikka. Di sekitar muara Waigete, dikelilingi panorama alam yang memikat.

Tidak hanya itu, keanekaragaman budaya dan seni Kecamatan Bola juga patut diapresiasi. Ada tarian Bebing dari masyarakat Desa Hokor yang jaraknya hanya 6 km dari Desa Bola.

Tarian Bebing adalah tarian perang yang menampilkan gerakan-gerakan heroik dan menegangkan. Tarian Bebing biasanya dipertontonkan dalam upacara-upacara adat.

Selain itu, di seluruh wilayah Kecamatan Bola juga terdapat seni membuat tenun ikat dan proses penyulingan minuman khas masyarakat yang disebut Moke. Tenun ikat masyarakat Kecamatan Bola adalah tenun ikat yang terbuat dari bahan-bahan alam.

Sedangkan, minuman khas Moke terbuat dari buah pohon lontar yang disuling. Proses pembuatannya terbilang unik. Yakni, air buah lontar dimasak hingga beruap. Uap itu yang ditampung dan menjadi Moke.

Menikmati keindahan alam pantai selatan, keunikan budaya, dan seni di Kecamatan Bola merupakan perjalanan yang menyenangkan. Pesona Watu Krus berbentuk salib di selatan Sikka menanti dinikmati. Selamat datang, pintu terbuka untukmu.

Saksikan video pilihan berikut ini: