Pasar Otomotif Tersegmentasi di Tengah Tekanan Daya Beli

Tekanan daya beli sejak 2024 memicu tren downtrading di kelas menengah dengan pergeseran ke mobil bekas, sementara segmen menengah atas tetap ekspansif.

Diterbitkan 13 Februari 2026, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat ekonomi Josua Pardede menyoroti perubahan struktur permintaan di pasar otomotif nasional yang kian tersegmentasi.

Berdasarkan paparannya dalam Dialog Industri Otomotif Nasional di IIMS 2026, tekanan terhadap daya beli memicu gejala downtrading, di mana konsumen kelas menengah cenderung beralih ke mobil bekas, sementara segmen menengah atas tetap ekspansif, bahkan mendorong pertumbuhan Battery Electric Vehicle (BEV).

Dalam paparannya, Josua menjelaskan bahwa indikasi downtrading sudah terlihat sejak 2024 dan berlanjut hingga 2025.

Perlambatan pembiayaan mobil baru terjadi lebih tajam, sementara pembiayaan mobil bekas justru masih tumbuh. Fenomena ini mengonfirmasi tekanan daya beli memengaruhi preferensi konsumen, terutama di kelas menengah.

"Ini juga menjadi salah satu indikasi bahwa permintaan konsumen untuk pembelian mobil bensin ikut terpengaruh,” ujar Josua.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan mobil pada kuartal IV 2025 menunjukkan akselerasi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode tersebut mendekati 5,4 persen, dengan sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian tetap solid.

Menurut Josua, momentum kuartal keempat menjadi krusial karena kepercayaan konsumen mulai pulih.

“Kalau tren ini terus berlanjut, tentunya ini menjadi salah satu hal yang positif buat industri otomotif. Karena kalau confidence dari masyarakat ini terus berlanjut, permintaan juga akan ikut terjaga,” jelasnya.

Namun, lonjakan penjualan pada Desember 2025 juga dipengaruhi faktor musiman dan kebijakan. Josua menilai terdapat indikasi frontloading, yakni konsumen mempercepat pembelian sebelum potensi berakhirnya insentif pada awal tahun.

“Di bulan Desember itu terjadi loncatan yang sangat signifikan. Kemungkinan besar konsumen melakukan frontload, daripada nanti gambling di 1 Januari insentifnya tidak diberikan lagi, akhirnya belanja di akhir tahun,” paparnya.

BEV Jadi Penopang di 2025

Dari sisi elektrifikasi, BEV menjadi salah satu pendorong penjualan di akhir 2025. 

Pasar semakin kompetitif dengan kehadiran lebih banyak merek, sehingga pangsa pasar tidak lagi didominasi satu pemain seperti pada 2021. Namun demikian, struktur pasokan BEV di Indonesia masih didominasi impor CBU.

Dengan berakhirnya insentif impor BEV CBU pada 2026, harga berpotensi naik jika produsen belum beralih ke produksi dalam negeri. 

Pemerintah juga menetapkan target peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 60 persen pada 2027, yang menjadi tantangan sekaligus peluang investasi.

“Ini khususnya penting bagi industri yang sudah memiliki pabrik atau skema CKD di dalam negeri,” tegas Josua.

Secara keseluruhan, industri otomotif roda empat menghadapi tantangan pada 2026 seiring berhentinya berbagai insentif, terutama untuk BEV. Meski penjualan domestik sempat terkontraksi 7,2 persen secara tahunan, peluang ekspor dinilai dapat menjadi penopang produksi.

Adapun karakteristik dari pembeli BEV juga cenderung berbeda dimana BEV paling laris di pasaran berada di harga 401 juta hingga 500 juta, berbeda dengan ICE yang cenderung berada di rentang bawah yakni maksimal 300 juta, mengindikasikan lebih tingginya daya beli dari para konsumen BEV.

Selain itu, kecenderungan lainnya adalah BEV cenderung dimiliki oleh pemilik kendaraan yang telah memiliki ICE sebelumnya.

  • liputan6
    Indonesia International Motor Show (IIMS) adalah pameran otomotif terkemuka di Indonesia yang menampilkan inovasi kendaraan terbaru, teknologi ramah lingkungan, dan menjadi barometer industri otomotif. IIMS kembali hadir tahun ini dan berlangsung pada 5 hingga 15 Februari 2026.
    IIMS
  • Pasar Otomotif
  • IIMS 2026
  • Josua Pardede
  • BEV
  • Otomotif