Sukses

4 Hacks Selama WFH, Kamu Wajib Coba

Liputan6.com, Jakarta Sudah setahun sejak sejumlah negara, termasuk Indonesia, memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau yang kini lebih dikenal sebagai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Dengan berlakunya regulasi tersebut, maka terdapat pembatasan kegiatan tertentu yang dilakukan penduduk dalam suatu wilayah untuk menekan tingkat penyebaran Covid-19. 

Salah satunya adalah anjuran untuk bekerja dari rumah (work-from-home). Meskipun manfaatnya sudah jelas, yakni dalam hal peningkatan fleksibilitas baik untuk pemberi kerja maupun karyawan, bekerja dari jarak jauh juga datang dengan sejumlah tantangan.

Dikutip dari laman CNBC, Selasa (2/3/2021), beberapa masalah yang dihadapi, meliputi tidak adanya batas waktu yang jelas untuk mengakhiri pekerjaan, lebih sedikit waktu istirahat, hingga kesulitan untuk tetap fokus dan termotivasi. Beberapa hacks ini mungkin bisa meringankan sedikit bebanmu selama menjalani WFH.

1. Menjaga postur tubuh

Sebuah studi yang diterbitkan oleh spesialis perawatan kesehatan swasta Bupa pada Mei menemukan lebih dari dua pertiga dari 2.000 orang yang bekerja dari jarak jauh di Inggris mengeluh sakit dan cedera. Sementara, hanya sepertiga diantaranya yang mengatakan bahwa mereka telah mendedikasikan ruang khusus kerja di rumah mereka.

Penempatan kursi dan meja kerja di rumah nyatanya juga tidak lantas membuat mereka ingat untuk mempertahankan postur tubuh yang baik sepanjang hari kerja, terutama saat duduk di depan laptop. Terkait dengan hal ini, sumber CNBC menyarankan penggunaan resistance band untuk menjaga bahumu tetap lurus dan mempertahankan postur tubuh yang sempurna.

2. Membagikan rencana tindakan

Fakta bahwa tenggat waktu masih ada sekalipun saat bekerja dari rumah berarti bahwa kemampuan dan kebutuhan untuk senantiasa fokus masih sangatlah diperlukan. Namun, meningkatnya perasaan stres dan kelelahan di tengah pandemi kerap kali memengaruhi produktivitas dan mendorong sifat menunda-nunda.

Katie Bridget O’Brien, yang merupakan seorang pelatih lepas untuk orang-orang yang bekerja di industri kreatif, mengatakan kepada CNBC bahwa ketika dia berbicara kepada klien tentang apa yang mereka rasakan saat menunda pekerjaan, mereka mengakui ada perasaan bersalah atau tidak nyaman. Satu saran yang dia miliki untuk mengatasi perasaan ini adalah menerapkan metode akuntabilitas.

Melalui metode akuntabilitas, kamu dapat membagikan tindakan yang sudah direncanakan kepada orang lain sehingga ada rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk menyelesaikannya. "Akuntabilitas dapat membuat seseorang jauh lebih mudah untuk melakukan tugas,” ujar O’Brien. Menurutnya, beristirahat dari layar selama beberapa menit juga efektif membantu mempertahankan energi.

2 dari 2 halaman

3. Memiliki pengingat visual

Tidak harus bolak-balik ke kantor selama setahun terakhir, secara teori memang memberi beberapa jam lebih lama dalam sehari bagi pekerja. Namun, waktu yang sebelumnya digunakan untuk bepergian, kini juga tersita untuk mengejar ketinggalan membaca atau membalas email.

Banyak yang mungkin pada awalnya membayangkan akan menggunakan waktu tersebut untuk setidaknya melakukan beberapa latihan olahraga sebelum bekerja. Namun, kini beberapa pekerja mungkin menggunakannya untuk mulai bekerja lebih awal atau untuk mengasuh anak yang kini juga beraktivitas di dalam rumah.

Grace Marshall, pelatih produktivitas di Think Productive, mengatakan kepada CNBC bahwa dulu banyak yang menganggap perjalanan ke kantor sebagai waktu "mati" untuk tidak melakukan apapun. Kini, kamu perlu berpikir lebih serius tentang menyesuaikan waktu tersebut dengan pekerjaan.

Marshall menyarankan untuk menempatkan catatan tempel yang berisi pengingat yang jelas tentang tugasmu dan menanganinya di saat-saat seperti setelah makan siang atau bersantai di penghujung hari. Memiliki pengingat visual juga menghindari timbulnya decision fatigue saat otak terlalu lelah untuk bahkan mengingat atau memutuskan apa yang perlu dilakukan.

Metode ini juga bisa digunakan sebagai pengingat untuk istirahat. Marshall mengatakan bahwa seringkali ketika tiba waktu istirahat, waktu tersebut justru dihabiskan untuk bermain media sosial dibanding untuk menyelesaikan beberapa tugas yang sifatnya ringan.

4. Keluar untuk berolahraga

Menghabiskan sepanjang hari dalam kenyamanan rumah sambil bekerja dapat mendorong sulitnya menemukan motivasi untuk keluar. Padahal, penelitian telah menunjukkan bagaimana berolahraga di luar ruangan, dibandingkan dengan di dalam, dapat membuat orang merasa lebih berenergi.

Juara maraton Inggris dan pelatih, Charlotte Purdue, mengatakan bahwa dia suka melakukan pemanasan di dalam dengan melompat-lompat terlebih dahulu sebelum keluar rumah. Berolahraga saat makan siang dan mengatur sesi kelompok virtual juga dapat menjadi cara lain untuk menjaga motivasi seperti yang disarankan oleh perenang medali emas Olimpiade, Adrian Moorhouse.

 

Reporter: Priscilla Dewi Kirana