Sukses

Masyarakat Dayak Terjepit di Sampit

Liputan6.com, Jakarta: Konflik antaretnis yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah, dikarenakan benturan budaya antara Suku Dayak dan Madura. Sebagai penduduk asli, masyarakat Dayak kaget melihat kebiasaan orang Madura yang biasa membawa senjata tajam -celurit- di dalam pergaulan. Selain itu, masyarakat Madura juga telah memperkenalkan budaya kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini ternyata mengundang reaksi spontan dari masyarakat Dayak, sehingga pertikaian di antara kedua suku itu tak bisa dihindari. Demikian penegasan KMAM Usop, Ketua Lembaga Masyarakat Dayak, dalam Dialog khusus yang dipandu oleh Rosianna Silalahi, Selasa (27/2) malam, di Palangkaraya, Kalteng. Selain Usop, dialog itu juga menghadirkan Nahson Tahway, Wakil Gubernur Kalteng dan Abdul Wahid Qasimy, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kalteng. Dalam dialog kali ini, SCTV juga mengundang Antropolog Harry Purwanto, tokoh masyarakat Madura Soedjono Atmonegoro, dan Kepala Pusat Penerangan Polri Brigadir Jenderal Polisi Didi Widayadi. Dialog yang dipandu oleh Indriato Priadi dari Jakarta, juga mengajak John Bamba, Direktur Institut Dayaklogi, untuk berdialog aktif melalui telepon. John Bamba berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Menurut Usop, penyebab lain dari konflik tersebut adalah sikap pemerintah Orde Baru yang memarginalisasikan masyarakat Suku Dayak di masa terdahulu. Banyak masyarakat Dayak yang mempunyai kemampuan optimal, namun tak diakomadatif oleh pemerintah. Sehingga, orang Dayak terus terdesak di tengah masyarakat, baik secara politik maupun ekonomi. Di sisi lain, lanjut Usop, kehadiran masyarakat Madura yang unggul secara ekonomis membuat orang Dayak kian tersingkir dan terjepit di Sampit. Apalagi, budaya kekerasan yang dibawa orang Madura -sebagai pendatang- membuat jengkel penduduk asli. Itu sebabnya, persoalan kecil yang terjadi di antara dua suku, membuat kerusuhan mudah meletup. "Padahal, kalau mau jujur, kedua suku itu tak mempunyai potensi konflik. Ini kan sangat memprihatinkan," kata Usop. Senada dengan Usop, John Bamba mengatakan, perselisihan kecil antara masyarakat Dayak dan Madura memang kerap berbuntut dengan kerusuhan. Peristiwa di Sampit bukanlah yang pertama kali. Sejak tahun 1950-an, sudah belasan kali kedua suku tersebut bertikai. Celakanya, pertikaian itu tak segara diselesaikan dengan tuntas. Pemerintah hanya bisa meredam secara sesaat, tanpa mencari akar masalah yang ada. Tak heran, bila pertikaian yang ada di Sampit dengan cepat berubah menjadi sebuah kerusuhan yang besar. Di mata John Bamba, pemerintah -khususnya aparat keamanan- memang lambat dalam menangani kerusuhan tersebut. Sebagai contoh, pemerintah baru ribut tentang darurat sipil dan mengirim pasukan ketika ratusan jiwa telah melayang. Sejak dulu pemerintah terkesan tak mempunyai formula tepat untuk menyelesaikan persoalan antara Suku Dayak-Madura di Kalimantan. "Lihat saja, hingga saat ini tak ada perusuh di Sambas, Kalbar, yang ditindak secara tegas oleh aparat keamanan. Seharusnya pemerintah menghukum mereka," kata John. Aparat tak tegas? tidak juga. Menurut Kapuspen Polri Brigjen Didi Widayadi, posisi polisi di lapangan (Sampit) memang sangat dilematis. Apalagi, jumlah personel yang ada tak sebanding dengan jumlah massa yang tengah marah. Jadi sangat tak mungkin bila belasan polisi harus menenangkan ratusan perusuh yang sudah gelap mata. Karena itu, polisi dan TNI telah mengirim pasukan tambahan ke lokasi konflik. Mengenai tindakan terhadap perusuh, Didi menjelaskan, baru-baru ini, Kepala Polri Jenderal S. Bimantoro telah mengeluarkan intruksi kepada polisi yang bertugas di lapangan untuk mengambil tindakan tegas terhadap para perusuh. Polisi juga diminta untuk tidak ragu menghukum para perusuh, baik itu dari Suku dayak atau Madura. Sebagai langkah konkret, kata Didi, polisi telah menembak lima penjarah yang memanfaatkan situasi rusuh di Sampit. Masyarakat Madura Cinta Damai Menyikapi kerusuhan di Sampit, Soedjono Atmonegoro mengatakan, sebenarnya masyarakat Madura sangat cinta damai, selain ulet dan tak gampang menyerah. Masyarakat Madura sebenarnya juga mudah untuk diajak berdialog. Kendati begitu, orang Madura memang terkenal sebagai berwatak keras. Sebab, prinsip lebih baik putih tulang daripada putih mata sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Madura. "Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab kerusuhan," kata Soedjono. Maklumlah, seperti kata Harry Purwanto, Madura dan Dayak memang dikenal sebagai suku yang keras. Nah, keadaan itu, kata John Bamba, membuat sulit masyarakat Dayak dan Madura untuk rujuk. Sebab, di tengah penanganan pemerintah yang tak jelas, konflik dua suku itu telah berlangsung sejak lama. Meski di tingkat elite masyarakat bisa rekonsiliasi, namun di lapisan masyarakat bawah dendam telah membumi. Karena itu, John pesimistis konflik dapat diselesaikan dengan cepat. "Perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa mendamaikan Dayak-Madura," kata John, putus asa. Meski demikian, para peserta dialog sepakat bahwa kondisi itu tak bisa dijadikan alasan untuk terus bertikai. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, diharapkan lebih berperan aktif dalam menangani kerusuhan di Sampit. Upaya yang dilakukan Nahson Tahway dan Abdul Wahid Qasimy mengundang para tokoh masyarakat dua suku tersebut juga harus lebih ditingkatkan. Sebab, jangan sampai kerusuhan meluas ke daerah lain. Kalau kerusuhan terus terjadi dan para perusuh tak ditindak tegas, bukan tak mungkin, pemimpin Indonesia di masa mendatang adalah orang-orang yang pendendam, pemarah, dan juga pembunuh.(ULF)