Sukses

Kapolda Sulawesi Selatan Dicopot

Liputan6.com, Jakarta: Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar mencopot Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Yusuf Manggabarani menyusul penyerbuan polisi ke Kampus Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sabtu kemarin. Da`i juga menyampaikan permintaan maaf Presiden Megawati Sukarnoputri kepada seluruh civitas akademika UMI atas penyerangan tersebut. "Beliau [Presiden] menyatakan prihatin atas peristiwa tersebut dan menyampaikan permohonan maaf," kata Da`i di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Ahad (2/5) pagi.

Kapolri menjelaskan, keputusan mencopot Kapolda berdasarkan hasil rapat Dewan Kebijakan Tinggi Polri, pagi tadi. Jabatan Kapolda Makassar selanjutnya diisi Inspektur Jenderal Polisi Saleh Saaf. Sebelumnya, polisi juga mencopot Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar Komisaris Besar Polisi Jose Rizal, Kepala Kepolisian Sektor Makassar Timur Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Suprianto, dan Kepala Polsek Panakukang Ajun Komisaris Polisi Namora Simanjuntak [baca: Buntut Insiden UMI, Kapolri Memecat Kapolwiltabes Makassar].

Da`i juga menginstruksikan Tim Mabes Polri mengusut anggota kepolisian yang terlibat dalam penyerbuan Kampus UMI [baca: Puluhan Mahasiswa UMI Makassar Luka-Luka Dipukuli Polisi]. "Presiden mendukung langkah dan tindakan yang diambil pimpinan Polri dalam menindak anggota terlibat," ujar Kapolri.

Sementara Ketua Ikatan Alumni UMI se-Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi Kamrussamad mengutuk keras tindakan polisi yang menyiksa mahasiswa UMI. Dia juga mendesak Presiden memecat Kapolri karena lalai mengayomi dan melindungi masyarakat. "Kami mendesak Presiden Megawati Sukarnoputri untuk segera mencopot Jenderal Polisi Da`i Bachtiar dari jabatannya selaku Kapolri," ucap Kamrussamad.

Kutukan keras dan keprihatinan juga disampaikan Pembantu Rektor III UMI Lambang Basri di Makassar. Lambang juga meminta Kapolri dan Kapolda meminta maaf secara terbuka di media lokal dan nasional. "Kami mengutuk keras tindakan represif polisi yang berlebihan dan mendesak Kapolri dan Kapolda menindak aparat yang tidak menghormati institusi pendidkan," tegas Lambang. Selain itu, rektorat UMI juga tidak mentolelir aksi mahasiswa yang menutup jalan karena mengganggu ketertiban umum.

Di depan kampus UMI, puluhan mahasiswa memang menutup jalan Jalan Urip Sumoharjo dan merazia anggota kepolisian sebagai bentuk protes atas kejadian tersebut. Akibatnya, arus lalu lintas di Jalan Urip Sumoharjo dialihkan ke-jalan lain. Demonstrasi menentang kebrutalan polisi juga digelar puluhan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Makassar dan Universitas `45. Kampus UMI sendiri ditutup menunggu kedatangan tim Mabes Polri untuk menyelidiki kasus penyerangan tersebut. Pihak UMI juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ikut menelisik.

Sementara 65 mahasiswa yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar, sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan kondisi lima mahasiswa yang masih dirawat di RS Ibnu Sina, termasuk dua korban penembakan, sudah membaik.(ZAQ/Frans Ambudi dan Hendro Wahyudi)