Sukses

Penampakan Rompi Penurun Suhu Untuk Atasi Heat Stroke Saat Musim Haji

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan meluncurkan inovasi rompi penurun suhu untuk mengatasi sengatan panas atau heat stroke. Rompi ini akan dipakai oleh petugas yang mobile dan jemaah yang membutuhkannya.

"Tahun ini dari puskes meluncurkan inovasi baru untuk mengatasi heat stroke. Bisa untuk mengatasi, bisa untuk pencegahan. Tergantung nanti berapa pack (pack isi karbon cool di dalam rompi) yang dikasih," ujar Tim dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sekaligus tim peneliti, dr Suzy Indharty, di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Jumat (1/7/2022).

Dia menerangkan bila pack isi karbon diisi penuh di dalam rompi maka bisa dipakaikan untuk pasien-pasien yang terkena heat stroke. Kalau untuk pencegahan, bisa setengah pack. Dasar bahannya tekno cool adalah karbon yang bisa bertahan 8-12 jam. Di mana, lanjut Suzy, kalau dibandingkan dengan ice atau gel pack biasa hanya bertahan 1-2 jam.

"Nah ini sudah diteliti di Indonesia dan kita akan mencoba di suhu ekstrem karena di sini (Arab Saudi) bisa 40 sampai 50 derajat celsius, bahkan di atas 50 derajat pada 2015, 57,3 derajat celsius. Jadi berdasarkan pengalaman itu dari yang dulu 2015 kita saya membawa kantong mayat dengan batu es dan itu memang efektif tapi membuat riweh karena basah, ini lebih simpel dan membantu," ucap Suzy.

Rompi ini berwarna gelap dengan berat sekitar 2 kilogram. Di dalam rompi, ada banyak kantong tempat untuk menaruh pack berisi karbon cool. Karbon cool juga akan ditempatkan di bagian kepala rompi.

Sejumlah anggota MCH yang mencoba memakai rompi ini merasakan sensasi dingin dan nyaman ketika menggunakannya di tengah cuaca yang terik.

"Rasanya adem dan langsung nyaman di cuaca yang panas ya," ujar seorang anggota MCH.

2 dari 3 halaman

Nyaman

Walaupun terasa agak berat, namun saat dipakai pada suhu panas, rompi ini memberikan kenyamanan dalam memakainya. "Terasa dingin," kata dia.

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana mengatakan, ada 30 set rompi yang dibawa dan akan diujicobakan apakah betul betul efektif di suhu ekstrem panas.

"Jadi 30 set ini akan kita bawa mulai di Arafah nanti, setelah Arafah nanti, semua 30 set ini kita bawa ke Mina. Karena di sanalah proses melempar jamrah diperkirakan jemaah akan kelelahan dengan suhu sangat panas. Karena jemaah berjalan kan sehingga kita nanti akan full kan di Mina," kata Budi.

3 dari 3 halaman

Untuk Petugas

Dia menjelaskan, rompi ini bukan hanya ke jemaah yang sakit tapi juga petugas yang mobilitasnya tinggi di tengah terik matahari.

"Mudah-mudahan ini membantu. Dan jika ini dianggap efektif oleh tim dokter Suzy, kita akan membahas lebih lanjut untuk dikembangkan dalam jumlah yang lebih besar sehingga hajid i musim panas bias nyaman untuk haji dan petugas," kata dia.

Budi menerangkan, tim kesehatan akan membawa portable freezer untuk mendinginkan ulang karbon cool yang telah digunakan. Rompi yang telah digunakan sekitar 8 jam akan dimasukkan ke freezer sehingga karbon cool dalam kondisi dingin.

Jemaah yang dipakaikan rompi ini, suhu tubuhnya akan diturunkan maksimal 37 hingga 38 derajat celsius. Kalau suhu tubuh mencapai angka tersebut maka rompi akan dilepas.

"Kalau suhu normal pakai ini (rompi penurun suhu) dingin juga," tandas Budi.