Sukses

Waspada, Sering Begadang Rentan Terserang Diabetes

Liputan6.com, Jakarta - Diabetes melitus jadi salah satu penyakit kronis yang sering diderita masyarakat. Diabetes terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup. Akibatnya kadar gula atau glukosa dalam darah melonjak terlalu tinggi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Endokrinologi Metabolik Diabetes Eka Hospital, I Gusti Ngurah Adhiarta menyebut, biasanya diabetes awalnya tidak bergejala dan tidak terdeteksi.

Maka itu, kata dia, masyarakat harus mewaspadai ketika mengalami obesitas atau sering begadang. Sebab, gaya hidup tidak sehat berdampak pada diabetes tipe 2.

"Begadang menyumbang peningkatan diabetes sebanyak tujuh kali lebih cepat dibandingkan orang yang tidak gemar begadang. Saat ini terdapat pasien saya pengidap diabetes karena sering begadang untuk bermain aplikasi sosial media," kata Adhiarta kepada Liputan6.com.

Kata Adhiarta, ada beberapa gejala diabetes di masyarakat. Misalnya adanya penurunan berat badan yang drastis, kemudian adanya rasa haus dan lapar dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama atau berdekatan. Kendati begitu biasanya diabetes akan terdeteksi dengan melakukan pengecekan gula darah.

Lanjut dia, diabetes tidak hanya dialami oleh masyarakat dengan usia lanjut usia atau lansia. Namun saat ini usia di bawah 40 tahun sudah terdeteksi diabetes tipe 2.

"Sebelumnya diyakini bahwa diabetes adalah penyakit yang menyerang usia di atas 40 tahun, tapi dengan semakin berkembangnya zaman, berubahnya pola hidup, usia pengidap diabetes ini bergeser sehingga saat ini banyak remaja pun sudah terkena diabetes tipe 2," ucap dia.

Selain begadang dan obesitas, kebiasaan gaya hidup tidak sehat seperti merokok, gemar mengonsumsi minuman alkohol, minuman manis juga menjadi pemicu adanya diabetes. Faktor lainnya meliputi konsumsi makanan cepat saji, pengidap kolestrol tinggi, hingga adanya turunan dari salah keluarga yang pernah diagnosis sebagai pre diabetes.

"Diabetes pada remaja menyebabkan komplikasi penyakit lain mudah terjadi dibandingkan dengan pengidap diabetes usia lanjut. Hal tersebut dikarenakan kinerja jantung dan ginjal. Pada umumnya, obat-obat diabetes yang standard, seperti metformin kurang bekerja pada pengidap usia remaja. Biasanya para remaja tersebut diberikan preparat lain, bahkan ada yang sampai disuntikkan insulin," papar Adhiarta.

Adhiarta menilai, faktor pola makan yang tidak sehat memiliki pengaruh sekitar 40-50 persen timbulnya diabetes. Karena hal itu dia meminta masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah pencegahan. Yakni menjaga berat badan ideal dengan pola hidup sehat.

Kemudian menghindari makanan manis, cepat saji, minuman manis, memperbanyak buah-buahan dan sayur-sayuran, serta olahraga.

"Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran dapat melindungi tubuh hingga 22 persen menurunkan risiko terkena penyakit diabetes. Jika gemar mengonsumsi makanan/minuman manis, ganti pemanis dengan yang rendah kalori. Terakhir, aktif olahraga," ujar dia.

 

2 dari 3 halaman

Kenaikan Jumlah Penderita Diabetes

Sementara itu, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat pada 2020, jumlah pengidap diabetes melitus di Kota Bandung mencapai 43.906 orang. Jika tak segera ditangani, diabetes bisa menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung stroke, dan amputasi.

Dokter spesialis penyakit dalam, Rulli Rosandi menjelaskan bahwa pengidap diabetes atau diabetesi di Indonesia terus meningkat. Hal ini terlihat dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional dari tahun ke tahun.

Bila pada 2007 persentase pasien diabetes sebesar 5,7 persen, meningkat menjadi 6,9 persen pada 2013. Lima tahun kemudian atau pada 2018 terjadi lagi peningkatan menjadi 10,9 persen.

Menurut Rulli, apabila jumlah penduduk Indonesia saat ini sebanyak 250 juta, secara hitungan kasar ada sekitar 25 juta penduduk yang mengidap diabetes.

Dan, perlu diketahui juga bahwa saat ini proporsi diabetes pada usia muda di Asia Tenggara jumlahnya lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

"Di Asia Tenggara didominasi usia paruh baya --- 40 sampai hingga 59 tahun --- diikuti usia muda --- 20 hingga 39 tahun. Berbeda dengan di Eropa yang didominasi penduduk usia tua --- 60 hingga 79 tahun," jelas Rulli Minggu, 12 Juni 2022.

 

3 dari 3 halaman

Pencegahan Komplikasi Ekstremitas

Diabetes-Related Lower Extremity Complications (DRLEC) atau komplikasi ekstremitas bawah terkait diabetes tak selamanya berakhir dengan amputasi dan disabilitas fisik. Hal ini disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari Rumah Sakit Pondok Indah, Wismandari Wisnu.

“DRLEC tidak selalu berujung pada amputasi. Bentuk dari DRLE bisa ulkus (luka) dengan infeksi, penyakit pembuluh darah perifer, dan gangren (matinya jaringan tubuh,” kata Wismandari kepada Disabilitas Liputan6.com dalam keterangan tertulis dikutip Kamis (28/4/2022).

Ia menambahkan, suatu penelitian multi etnis di Singapura (Diabetologia 2021) menunjukkan, dari 156.593 penyandang diabetes 20.755 di antaranya didianosis DRLEC dalam 10,9 bulan setelah didiagnosis diabetes.

“Dari para penyandang tersebut 5,8 persen di antaranya berujung pada amputasi dalam 2,3 bulan setelah didiagosis DRLEC.”

Untuk mencegah terjadinya DRLEC, penyandang diabetes harus mengendalikan diabetesnya secara komprehensif. Beberapa cara yang dapat dilakukan yakni mengontrol gula darah, kolesterol, dan juga tekanan darahnya.

Secara berkala penyandang diabetes harus cek kondisi klinis dan juga laboratorium untuk melihat adakah komplikasi yang sudah muncul. Pasien juga harus melakukan pemantauan gula darah mandiri di rumah, serta merawat, dan cek kaki sendiri secara berkala.