Sukses

"Burung Nasar" dari Purbalingga

Liputan6.com, Purbalingga: "Tuntutlah ilmu sejak buaian ibu hingga ke liang lahat," Sabda Nabi Muhammad SAW ini mengisyaratkan bahwa menuntut ilmu tak pernah mengenal akhir. Boleh jadi, bagi Sumanto (30), warga Desa Pelumutan, Purbalingga, Jawa Tengah, makna hadis tersebut tak demikian. Maka, demi menuntaskan ilmu yang tengah diyakini, ia pun nekat masuk ke liang lahat seorang nenek yang baru dikubur. Mayatnya kemudian diangkut, dan tanpa rasa bersalah, Sumanto menyantap mayat itu.

Atas nama untuk mendapatkan ilmu dan pesugihan, Sumanto, tiba-tiba membuat geger warga setelah diketahui memakan mayat Mbah Rinah (80) yang digalinya dari Pemakaman Umum Dusun Srengseng, Desa Majatengah, Sabtu (11/1) malam. Belakangan, bapak satu anak--dari almarhum istrinya yang asal Lampung--diketahui memakan tiga mayat agar ilmu yang hendak diperolehnya sempurna.

Terungkapnya peristiwa langka tersebut berawal ketika seorang warga menemukan makam Rinah yang baru dikubur Sabtu petang berantakan. Warga curiga kuburan digali orang. Berdasarkan kecurigaan itu kemudian seorang warga mendekat dan ternyata mayat Rinah ikut raib.

Seketika, kabar raibnya mayat Rinah menyebar ke seantero Desa Majatengah. Berbagai dugaan pun kemudian berkembang di masyarakat. Menurut Kepala Desa Majatengah Agus Budi, kasus tersebut sangat meresahkan warga. Pasalnya, mereka percaya mayat yang diambil akan digunakan dukun atau seseorang yang belajar ilmu hitam. &quotKasus ini yang pertama kali. Orang tua saya saja mengatakan kasus itu baru terjadi," kata Agus.

Kabar raibnya mayat akhirnya sampai juga ke Markas Kepolisian Resor Purbalingga. Polisi kemudian langsung menuju tempat kejadian perkara dan menemukan makam Rinah sudah berantakan. Kain kafan dan nisan berserakan. Saat itu juga polisi langsung mengembangkan penyelidikan dan menanyai sejumlah saksi. "Belakangan ada seorang warga yang memberi laporan dan mencurigai seseorang. Orang tersebut menggunakan kalung dari kulit kemaluan," kata Kepala Polres Purbalingga Ajun Komisaris Besar Polisi Agus Sofyan Abadi. Kalung kemaluan itu belakangan diketahui berasal dari mayat Rinah.

Upaya polisi mencari tersangka semakin mudah setelah tetangga di dekat rumah Sumanto di Desa Pelumutan mencium bau busuk yang menyengat. Lantaran curiga mereka kemudian beramai-ramai melaporkan kasus tersebut ke Polres Purbalingga.

Pencarian tersangka mengarah ke Sumanto. Polisi selanjutnya mengejar pria itu ke gubuknya di Desa Pelumutan. Di rumahnya, polisi menemukan tulang-belulang manusia dan jenazah Rinah yang dikubur sekitar lima meter dari gubuknya. Setelah digali, jenazah Rinah yang dikubur sedalam setengah meter ini sudah tak utuh lagi. Daging di bagian kedua pahanya telah dimakan Sumanto.

Dalam pengakuannya, daging paha Rinah sempat digoreng dan dibuat sate. Sebagian daging yang dimasak itu diberikan kepada ayahnya, Nuryadi Karta. Tentu saja Nuryadi tak menyangka daging tersebut adalah daging manusia. "Ya, ngerti aku diweki panganan tak pangan. Ora takon ya ora takon panganan aku arep mangan. Ora diwekie yo ora mangan (Ya, yang saya tahu saya diberi makanan dan saya makan, itu saja. Tidak tanya, itu makanan ya saya makan. Kalau tidak dikasih ya tidak makan)," tutur Nuryadi.

Sebelumnya Sumanto memang menawari ayahnya bahwa sate itu adalah daging Kambing. "Pak, apa arep daging wedhus? (Pak, apa mau daging kambing?)" Nuryadi kemudian menjawab, "Ya, ngeneh." Hanya selang beberapa menit, sate yang disuguhi Sumanto ludes. Mungkin karena lezat, Nuryadi meminta porsinya ditambah, namun Sumanto mengatakan daging tersebut sudah habis, "Wis entong, Pak."

"Berapa banyak yang kamu makan mentah?" tanya polisi.
"Satu piring setengahlah," jawab Sumanto.
"Yang lain?"
"Aku bakar dan aku panggang di atas kayu bakar yang menyala."
"Lainnya?"
"Lainnya aku goreng pakai minyak."

Dalam proses pemeriksaan ini, tersangka juga mengakui, mayat Rinah bukanlah mayat pertama yang dimakannya. Sebelumnya ia pernah melakukan hal serupa di Lampung ketika masih bekerja di PT Gunung Madu sebagai tukang tebas pohon tebu. Dua orang yang disebut Sumanto sebagai begal, dibunuh. Daging keduanya dimakan bersama rekannya. Bukti pembunuhan itu belakangan diketahui karena dalam kalung Sumanto juga menggantung zakar yang telah diawetkan.

"Sudah berapa jenazah yang kamu makan? Siapa saja?" tanya wartawan.
"Nggak kenal namanya, ya dua orang. Yang satu lagi ya Ibu Rinah ini." jawab Sumanto.
"Bisa habis nggak yang dua itu?"
"Habis."

Mengenai motivasi Sumanto memakan mayat dengan mantap diakuinya sebagai bagian dari proses mendapatkan ilmu yang tengah dipelajarinya dari seorang guru bernama Taslim, warga asal Jambi yang kini menetap di Temanggung. Untuk mencapai kesempurnaan ilmunya, Sumanto disyaratkan memakan tujuh mayat. Bila itu tercapai maka kehidupannya akan lebih baik. Sedangkan beberapa bagian tubuh dapat dijadikan jimat.

"Kemaluannya kamu iris, kamu simpan. Untuk apa itu?" tanya wartawan.
"Untuk menjaga kekebalan dari serangan penyakit."
"Siapa yang bilang?"
"Memang guru saya namanya Taslim, nempatnya di Temanggung."
"Selain bagian kemaluan, bagian mana lagi yang kau awetkan?"
"Kulit bagian paha, guna membungkus duit untuk pesugihan, di dalamnya aku kasih cermin."
"Cermin itu untuk apa?"
"Untuk nyiapin yang tunggu, di dalam kulit itu kan ada rohnya. Bila ada cerminnya, dia takluk pada cermin itu."
"Roh siapa itu?"
"Roh Ibu Rinah sendiri."

Selain dimakan dan mengambil bagian tertentu untuk digunakan sebagai jimat Sumanto juga mengambil serpihan daging untuk ditanamkan di lengannya. Menurut dia, biar roh Ibu Rina hidup lagi.

"Kamu nggak takut rohnya masuk ke rohmu."
"Endak. Saya yang melanjutkan perjuangan dia. Prinsipnya pejuang, saya pun ikut jadi pejuang, kalau dia pemberontak saya pun jadi pemberontak."
"Kalau dia maling?"
"Saya pun ikut jadi maling."
"Kenapa Ibu Rinah yang kamu ambil?"
"Siapa tahu dia ada rezekinya."
"Kenapa nggak pejabat aja?"
"Oh, itu nggak boleh, sebab pejabat itu pelindung kita, payung kita. Jadi nggak boleh sama sekali, apa lagi dimakan dagingnya, disakiti dari segi bicara atau tingkah laku aja nggak bisa."
"Adakah manfaat lain memakan daging manusia?"
"Agar mudah nembus beli nomor buntutan."
"Kamu sudah pernah dapat nomor?"
"Belum."

Kendati sudah memakan tiga mayat, Sumanto mengakui kehidupannya belum juga berubah. Alasannya lantaran keburu ketangkap polisi.

"Bagimana rasanya daging manusia?".
"Nggak enak." jawab Sumanto yang pernah tinggal di Lampung sejak 1992 dan kembali ke kampungnya lima tahun kemudian.
"Kenapa kamu tiga kali makan itu?"
"Ya, itu salah satu dari guru untuk pesugihan, katanya biar cepat kaya atau mudah cari rejeki."
"Itu bener?"
"Justru malah sebaliknya."
"Kenapa kamu lakukan?"
"Iya mulai saat ini saya nggak mau mengulangi lagi."

Dalam pengakuannya, Sumanto menggali kubur Rinah tanpa menggunakan alat melainkan hanya dengan tangan kosong. Selanjutnya mayat diangkut dengan menggunakan sepeda dan dibawa menggunakan karung yang diikat kawat. Di rumah, Sumanto kemudian memotong bagian kaki dan menyayat kemaluan Mbah Rinah. Sebenarnya, Sumanto mengaku kasihan saat menyayat-nyayat mayat dan memotong dua lutut Rinah. Namun, lantaran niat untuk mendapatkan ilmu dan mengubah hidup, rasa kasihan saat itu hilang seketika. Sebelum diangkut ke rumah Sumanto sempat menelan bulat-bulat dua ibu jari kaki mayat Rinah.

Sumanto yang bekerja serabutan--sehari-hari kadang-kadang mencari burung dan berjualan jamu ini-- hanya memakan daging dari dua kaki mayat Rinah. Namun, sebenarnya Sumanto berencana memakan seluruh daging dalam tubuh Rinah. Tetapi lantaran waktu telanjur siang, rencana itu batal. Sedangkan bagian kemaluan Rinah yang disayat ia simpan.

Perilaku aneh Sumanto memang sudah dilihat warga. Bahkan ada yang menganggap bapak seorang anak laki-laki ini sudah gila. Sumanto memang sempat mendengar tuduhan itu. "Saya sendiri nggak tahu. Mengapa semua orang, terutama wanita di desa takut pada saya. Apakah memang saya gila?" tanya Sumanto pada dirinya, heran.

Kini Sumanto menjadi sosok yang sangat menakutkan. Kendati Sumanto sudah ditahan polisi, rasa takut warga pada Sumanto tidak serta merta hilang. Warga, melalui Kepala Desa Majatengah Agus, meminta Sumanto tak dikembalikan ke masyarakat. Ketakutan ini diekspresikan warga, seperti anak-anak takut mengaji sehingga masjid kosong dan ada keluarga yang tidur malam hari bertumpukan dalam satu kamar. Bahkan ada seorang janda yang mengungsi ke rumah tetangganya sambil membawa kasur.

Kini Sumanto meringkuk di Tahanan Polres Purbalingga. Namun, di tahanan pun Sumanto terpaksa tanpa teman dan harus sendirian. Dari sembilan tahanan di Polres Purbalingga tak ada satu pun yang berani satu kamar. Alasannya, takut dimakan Sumanto.

Hadi Suharjo, anak Rinah, juga meminta Sumanto tak kembali ke desanya lantaran sudah meresahkan masyarakat. Sedangkan Martadi, suami almarhum Rinah yang sempat terpukul dengan kejadian tersebut, menyerahkan kasus itu kepada polisi.

Kini polisi, sebagaimana dikemukakan Kapolres Purbalingga Agus Sofyan, memeriksa Sumanto secara intensif. Tuduhannya adalah tentang pencurian dan memindahkan mayat tanpa hak sebagaimana tertuang dalam Pasal 363 dan 180 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Selain itu Sumanto juga bisa dikenai Undang-undang Darurat No. 01 Tahun 1932. Polisi juga dalam waktu dekat berencana memeriksakan Sumanto ke dokter jiwa dan hasilnya akan diumumkan dalam waktu yang tak terlalu lama.(YYT/Tim Derap Hukum)

    Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

    Tutup Video