Pagar Manusia Menentang Pagar Monas

Rencana Pemda Jakarta memagari Monas ditentang ribuan warga Ibu Kota. Pemagaran lapangan yang dibangun pada masa Pemerintahan Soekarno ini dinilai irasional.

Diterbitkan 29 September 2002, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: "Gila! Monas mau dipager. Kok bisa." Nada protes sekaligus keheranan bisa jadi bergelayut di benak ribuan warga Ibu Kota. Untuk itu, Ahad (29/9) pagi, mereka menggelar aksi Damai Rekreasi dengan bergandengan tangan dan membentuk pagar manusia memprotes rencana Pemerintah Daerah Jakarta ini.

Menurut para demonstran, pemagaran lapangan yang dibangun pada masa Pemerintahan Soekarno itu tak masuk akal dan mengabaikan kepentingan umum. Sebab, Monas dianggap ruang publik yang harus bisa dinikmati warga, tanpa kecuali.

"Monas tak pantas dipagar," kata Marco Kusumawijaya, penggagas aksi sekaligus ahli tata kota kepada repoter Indy Rahmawati di Studio SCTV Jakarta. Ia menilai, alasan Pemda Jakarta membentengi lapangan itu untuk menata para pedagang kaki lima dan menjaga ketertiban di sana sama sekali tak beralasan. "Menertibkan pedagang bukan berarti menutup Monas," kata dia.

Marco mengatakan, penggusuran pedagang dengan model ini adalah cara kuno dan tak efektif. Menurutnya, sediakan tempat khusus saja bila memang Pemda Jakarta mau menertibkan para pedagang di sana. "Bukan digusur seperti ini," ujar dia.(ICH)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6