Sukses

Begal Warteg Mamoka, Sempat Jadi DPO hingga Dihadiahi Timah Panas

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku perampokan atau begal di Warteg Mamoka, Pesanggrahan, Jakarta Selatan berhasil diringkus aparat kepolisian pada Sabtu, 25 Januari dan Minggu, 26 Januari 2020.

Sebanyak empat pelaku ditangkap Polres Metro Jakarta Selatan di lokasi yang berbeda-beda. Pelaku masing-masing berinisial SB, HW, HF, dan PS diringkus setelah aksi begal terekam CCTV dan viral di media sosial.

Salah seorang begal berinisial HW alias J ditangkap di wilayah Batu Marta Unit 11 Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan pada Sabtu, 25 Januari 2020.

Belakangan diketahui, menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnama, ada dua motif dalam kasus begal warteg yang viral ini, yakni ekonomi dan penyalahgunaan narkoba.

"Selain ekonomi, mereka ini juga diduga ketergantungan narkoba, kerena dari pemeriksaan terhadap HW ini ditemukan barang bukti sabu," ujar Bastoni.

Berikut fakta-fakta penangkapan pelaku perampokan atau begal di Warteg Mamoka dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 9 halaman

Kejadian Viral

Beredar video rekaman CCTV aksi perampokan atau begal terhadap pelanggan rumah makan warteg. Salah seorang pelaku mengacungkan senjata tajam diduga sejenis celurit ke korbannya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyebut kejadian itu terjadi di Warteg Mamoka Bahari, Jalan Ciledug Raya, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 01.00 WIB.

Kala itu, saat korban sedang makan di Warteg Mamoko Bahari tiba-tiba didatangi tiga orang dengan mengendarai motor turun ke warteg dan mengancam korban dengan menggunakan sajam yang diduga seperti celurit. Mereka memaksa korban untuk menyerahkan barang barang milik korban.

"Karena takut korban memberikan barang-barangnya, kemudian pelaku kabur meninggalkan korban dengan menggunakan sepeda motor," ucap Yusri saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020.

Ketiganya, kata Yusri, berhasil membawa kabur sejumlah uang dengan nominal Rp 950.000, serta unit ponsel pintar dengan merek Xiaomi Redmi 6.

 

3 dari 9 halaman

Sempat Jadi DPO

Kepolisian Daerah Metro Jaya menetapkan tiga orang sebagai daftar pencarian orang atau DPO dalam kasus perampokan atau begal di Warteg Mamoko Bahari, Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

"Benar, ada tiga orang DPO," kata Yusri.

Yusri menerangkan, jika masyarakat menemukan ketiga atau salah satu perampok warteg tersebut segera melapor ke pihak berwajib.

"Jika menemukan keberadaan orang ini tolong hubungi Polsek Pesanggrahan 021 - 73887887," jelasnya.

 

4 dari 9 halaman

4 Orang Ditangkap

Polres Metro Jakarta Selatan telah menangkap empat pelaku perampokan atau begal yang terjadi di Warteg Mamoka Bahari di Pesanggrahan, Jakarta Selatan yang viral.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnama, penangkapan dilakukan selama dua hari yakni pada Sabtu, 25 Januari dan Minggu, 26 Januari 2020.

Pelaku perampokan atau begal itu masing-masing berinisial SB, HW, HF, dan PS. Dalam melakukan aksi, SB diketahui memegang celurit untuk mengancam.

Bersama SB, ada HW yang juga berlaku sebagai eksekutor. Sementara HF dan PS sebagai joki sekaligus yang memantau situasi. Keempat begal warteg itu saling mengenal satu sama lain.

"Mereka teman satu tongkrongan. Teman. Jadi saling kenal," tutur Bastoni.

 

5 dari 9 halaman

Ditangkap di Lokasi Berbeda-Beda

Bastoni menjelaskan, pelaku pertama yang berhasil diamankan berinisial HW alias J. Begal warteg itu ditangkap pada Sabtu, 25 Januari 2020 pukul 01.00 WIB di wilayah Batu Marta Unit 11 Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 13.00 WIB, polisi kembali meringkus tersangka lainnya berinisial HF. Lokasi HF diringkus, yakni di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

"Kemudian tanggal 26 Januari hari Minggu dua tersangka bisa diamankan, inisial SB dan PS," kata Bastoni dalam konferensi pers di Polres Jakarta Selatan, Minggu, 26 Januari 2020.

Bastoni membenarkan, sebelumnya kepolisian menyampaikan ada tiga orang pelaku. Namun dari hasil penelusuran, begal warteg itu diidentifikasi menjadi empat orang.

"Dari pemeriksaan pelaku ternyata ada empat orang yaitu inisial HW selaku eksekutor dan SB selaku eksekutor yang memegang celurit. Kemudian HF dan BS sebagai joki atau sebagai yang melihat situasi," ujar dia.

 

6 dari 9 halaman

Sita Celurit dan Motif Begal

Dari tangan pelaku begal itu, menurut Bastoni, polisi menyita barang bukti berupa satu bilah celurit, dompet korban, dan dua potong baju yang dipakai tersangka saat kejadian.

"Empat tersangka ini dikenakan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan dengan ancaman hukuman paling lama 9 tahun penjara," ucap Bastoni.

Ketika dikonfirmasi soal alasan memilih warteg, Bastoni mengatakan, dalam menjalankan aksinya keempat pelaku tidak pernah menentukan target spesifik.

"Mereka ini random. Ketika lewat ada yang buka. Ada yang lagi makan, mungkin sambil main handphone sehingga memancing mereka untuk datang dan melakukan pengancaman dan pemerasan," terang dia.

"Keterangan sementara baru satu kali itu melakukan aksi kemudian kabur tapi itu terus kita dalami mungkin ada aksi-aksi lain akan kita dalami," imbuh Bastoni.

 

7 dari 9 halaman

Sempat Melawan

Bastoni juga menjelaskan, proses penangkapan empat pelaku perampokan atau begal itu tidak berjalan mulus. Sebab ada perlawanan yang dilakukan pelaku, yakni SB.

Polisi, kata Bastoni, terpaksa melumpuhkan begal warteg itu dengan menembak kakinya. Ketika penangkapan terjadi, SB dan PS sedang bersembunyi di sebuah gubuk di daerah Gunung Siam, Bogor, Jawa Barat.

"SB ini kita ketahui yang mengancam dengan menggunakan celurit. Karena pada waktu penangkapan berusaha melarikan diri dan melawan petugas, terpaksa dilumpuhkan di bagian kakinya. Dilakukan penembakan," kata Bastoni.

Selain luka tembak di betis kiri, SB juga mengalami luka di dahinya. Dua luka tersebut dia dapat akibat berupaya melawan petugas dan melarikan diri.

"Jadi itu tersangka SB melarikan diri juga melawan petugas, dilumpuhkan, jatuh dia, terbentur (di dahi)," papar dia.

 

8 dari 9 halaman

Hasil Begal untuk Beli Sabu

Bastoni mengatakan, ada dua motif dalam kasus begal warteg yang viral ini, yakni ekonomi dan penyalahgunaan narkoba.

"Selain ekonomi, mereka ini juga diduga ketergantungan narkoba, kerena dari pemeriksaan terhadap HW ini ditemukan barang bukti sabu," ujar Bastoni.

Hanya saja Bastoni belum bisa menyampaikan berapa berat paket sabu yang disita.

"Nanti akan kita dalami sejak menggunakan sabu. Nanti akan kita tes juga urinenya semuanya. Apakah semuanya positif, " katanya.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap pelaku, lanjut Bastoni, uang Rp 950.000 hasil begal digunakan untuk makan sehari-hari dan juga untuk beli narkoba. Selain uang, pelaku juga merampas telepon seluler atau ponsel korban.

"Termasuk handphone-nya juga dijual untuk makan sehari-hari dan untuk beli narkoba," jelas Bastoni.

9 dari 9 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: