Sukses

Jalan Mulus MRT Jakarta Setelah Penantian 34 Tahun

Liputan6.com, Jakarta - Berkaus abu-abu lengan panjang dan celana jins, Presiden Jokowi terus melempar senyumnya pada warga yang berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu (24/3/2019) pagi. Bukan sedang kampanye, pagi itu, Jokowi meresmikan pengoperasian Moda Raya Terpadu (MRT) yang telah dinanti warga ibu kota selama 34 tahun.

Rencana pembangunan MRT Jakarta sudah dikaji sejak tahun 1985. Namun, krisis ekonomi dan politik 1997-1999 menjadi salah satu kendala proyek MRT terealisasi saat itu.

Selain meresmikan pengoperasian MRT Fase I dengan rute Bundaran HI-Lebak Bulus, Jokowi juga meletakkan batu pertama pembangunan MRT Fase II dengan rute Bundaran HI-Jakarta Kota.

"Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim MRT Fase pertama saya nyatakan dioperasikan dan sekaligus MRT Fase II hari ini juga kita mulai lagi," ucap Jokowi.

Tak hanya itu, Jokowi juga mengaku sudah memerintahkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk segera membangun MRT Fase III rute Cikarang-Balaraja dengan bentang panjang 87 km. 

"Tadi saya perintahkan juga untuk memulai yang rute timur-barat, east-west mulai tahun ini," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, MRT merupakan budaya baru bagi masyarakat Indonesia. Jokowi meminta agar masyarakat tertib serta menjaga kebersihan saat menggunakan transportasi berbasis rel itu.

"Ini adalah peradaban baru, kita harus yakin kita bisa mengubah masyarakat dari budaya lama ke budaya baru ini. Apa itu? Yang tadi saya sampaikan, antre kalau mau masuk ke MRT, jangan buang sampah sembarangan di Statiun MRT maupun di dalam MRT-nya," imbaunya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga mengingatkan agar masyarakat disiplin dengan tidak berdesak-desakan saat menaiki MRT. Menurut dia, masyarakat harus bersama-sama menjaga dan merawat transportasi baru ini.

"Yang ketiga disiplin tepat waktu. Karena kalau ini tidak dibudayakan, percuma kita memiliki MRT, artinya kita harus menjaga kita harus merawat MRT yang kita miliki ini," ucap Jokowi.

Saat Liputan6.com menjajal, sensasi menumpangi MRT terasa mulus berbeda dengan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. Suara bising dan guncangan yang kerap dihasilkan dari roda dan rel KRL, tidak terasa di MRT.

Rangkaian kereta yang dinamai Ratangga tersebut juga berjalan stabil tanpa goyangan ke kiri ataupun ke kanan. Di dalam kereta tampak sejumlah bangku penumpang berwarna biru muda dengan sejumlah pegangan tangan di atas layaknya kereta commmuter line.

Akan tetapi, MRT Jakarta tidak menyediakan bagasi tas di bagian atas seperti di KRL. Sebab, MRT Jakarta hanya berjarak pendek atau hanya 16 kilometer saja. Selain itu, bangku warna biru tua di setiap sudut kereta diprioritaskan untuk lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Papan informasi lokasi pemberhentian setiap lokasi pun telah berfungsi. Bahkan, beberapa petunjuk keselamatan, alat pemadam kebakaran ringan hingga kamera tersembunyi juga sudah tersedia.

Waktu pemberhentian setiap stasiun hanya 30 detik. Sedangkan waktu jarak tempuh ke setiap stasiun hanya 1 sampai 3 menit saja.

Bila ditotal perjalanan MRT Jakarta yang melewati 13 stasiun itu dapat ditempuh dalam waktu 30 menit. Stasiun itu terdiri dari tujuh stasiun layang, yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Enam stasiun bawahnya, yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas serta Bundaran HI.

2 dari 4 halaman

Tarif Berdasarkan Jarak

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan tarif Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sebenarnya telah sepakati. Hanya saja, dia menyebut tarif itu baru akan diketok pada Senin, 25 Maret 2019.

"Kenapa saya tidak memberitahukan sekarang? Meskipun sudah disepakati, tapi belum diketok. Kesepakatannya sudah, nanti diketoknya hari Senin," kata Anies di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menyatakan, secara etika tarif akan diumumkan setelah ditetapkan oleh legislatif dan eksekutif.

"Jadi saya ada tabel (harga)-nya di kantong saya sekarang. Tabelnya ada dari setiap stasiun ada, tapi saya ingin jaga. Etikanya diumumkan hari Senin," papar Anies.

Dia menjelaskan, nantinya tarif MRT Jakarta dibebankan ke penumpang berdasarkan jarak tempuhnya. Sehingga setiap penumpang dapat dikenakan tarif yang berbeda.

"Tarif itu bukan tarif flat. Jadi ada yang di bawah Rp 10 ribu, ada yang di atas Rp 10 ribu. Tergantung Anda dari mana mau ke mana. Kalau (MRT) ini tarifnya berdasarkan stasiun. Anda naik dari stasiun mana, turun stasiun mana, harganya beda-beda," jelas Anies.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi menegaskan, tarif MRT Jakarta akan disepakati sebelum operasional komersil pada Senin, 1 April 2019. "Senin (25 Maret 2019) Insyaallah akan diketok," kata Prasetio. 

Politikus PDI Perjuangan ini menyatakan, pada Senin 25 Maret 2019 rencananya Komisi B dan C DPRD DKI Jakarta akan menggelar rapat pimpinan gabungan untuk menentukan tarif MRT. Dia menyebut kira-kira harga yang akan disepakati di antara harga Rp 10 ribu-Rp 16 ribu.

Lanjut dia, nantinya tarif juga ditentukan berdasarkan jarak tempuh penumpang. Sehingga setiap penumpang dapat dikenakan tarif yang berbeda.

"Kalau duduk masuk Rp 3 ribu nih, nah per kilometernya Rp 1000. Kalau mau ke halte yang satunya lagi naik seribu, enggak langsung tek tek Rp 16 ribu," papar dia.

Karena hal itu, Prasetio menilai masyarakat Ibu Kota mampu untuk membayar tarif MRT yang ada. "Saya rasa masyarakat Jakarta mampu lah, kan kita untuk menekan dan mengurai masalah kemacetan. Jadi layak lah segitu supaya Jakarta agak lebar," jelasnya.

3 dari 4 halaman

Lika-liku MRT Jakarta

Keinginan untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang modern, khususnya dari sisi moda transportasi, sudah tercetus sejak lama. Puluhan tahun lalu, banyak sudah studi yang mempelajari pengembangan sarana transportasi modern di Ibu Kota.

Bahkan, sejak 1980 lebih dari 25 studi subjek umum dan khusus telah dilakukan terkait dengan kemungkinan membangun sistem mass rapid transit (MRT) di Jakarta. Sementara dari sisi pemikiran, ide awal transportasi massal ini sudah dicetuskan sejak 1985 oleh Bacharuddin Jusuf Habibie yang ketika itu menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Tak sekadar mencetuskan gagasan, Habibie juga mendalami berbagai studi dan penelitian tentang MRT. Namun, semua gagasan itu tak kunjung terwujud. Salah satu alasan utama yang membuat rencana itu tertunda adalah krisis ekonomi dan politik pada 1997-1999.

Selepas krisis, Jakarta yang ketika itu dipimpin Gubernur Sutiyoso melanjutkan studi sebelumnya. Selama 10 tahun pemerintahan Sutiyoso (1997-2007), setidaknya ada dua studi dan penelitian yang dijadikan landasan pembangunan MRT.

Pada 2004, Sutiyoso mengeluarkan keputusan gubernur tentang pola transportasi makro untuk mendukung skenario penyediaan transportasi massal, salah satunya angkutan cepat terpadu yang akan digarap pada 2010.

Dilanjutkan Agustus 2005, sub Komite MRT dibentuk untuk mendirikan perusahaan operator MRT. Pada 18 Oktober 2006, dasar persetujuan pinjaman dengan Japan Bank for International Coorporation dibuat.

Perlu dua tahun kemudian atau setahun setelah Fauzi Bowo menggantikan posisi Sutiyoso menghuni Balai Kota Jakarta, PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) berdiri pada 17 Juni 2008. Berbentuk badan hukum perseroan terbatas dengan mayoritas saham dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta 99.98% dan PD Pasar Jaya 0.02%)​.

Dikutip dari laman www.jakartamrt.co.id, PT MRT Jakarta memiliki ruang lingkup kegiatan di antaranya untuk pengusahaan dan pembangunan prasarana dan sarana MRT, pengoperasian dan perawatan prasarana dan sarana MRT, serta pengembangan dan pengelolaan properti/bisnis di stasiun dan kawasan sekitarnya, serta depo dan kawasan sekitarnya.

Pada tahun yang sama, perjanjian pinjaman untuk tahap konstruksi ditandatangani, termasuk pula studi kelayakan pembangunan MRT. Pada 31 Maret 2009, perjanjian kredit pertama dengan jumlah 48,150 miliar Yen untuk membangun Sistem MRT Jakarta ditandatangani Pemerintah Indonesia dan Japan International Corporation Agency (JICA) di Tokyo, Jepang. Secara keseluruhan, paket pinjaman dari JICA untuk pengembangan sistem MRT Jakarta bernilai total ¥ 120 miliar Yen.

Namun, semua itu tak membuat pembangunan MRT dimulai yang berarti janji Fauzi Bowo di masa kampanyenya Pilgub 2007 tak bisa dipenuhi. Pada Pilgub DKI Jakarta 2012, dia berjanji lagi bakal mengembangkan dan mengerjakan MRT jika kembali terpilih. Namun, dia kalah dari Joko Widodo atau Jokowi yang kemudian memimpin Ibu Kota.

Pengerjaan desain dasar untuk tahap pertama proyek MRT yang dibuat pada akhir 2010 dilanjutkan. Proses tender berlangsung pada akhir 2012 ketika gubernur baru Jakarta itu tiba-tiba mengatakan ingin meninjau kembali proyek MRT Jakarta. Jokowi juga mengumumkan bahwa proyek ini akan dilanjutkan sebagai salah prioritas dalam anggaran tahun 2013.

Butuh waktu setahun bagi Jokowi memutuskan pembangunan proyek MRT akan mulai dikerjakan. Pembahasan ini juga sempat alot ketika Jokowi rapat dengan warga Fatmawati yang terkena imbas proyek. Pada 28 November 2012, sang gubernur bahkan sempat keluar ruangan lantaran ada kericuhan dan protes warga yang menolak proyek MRT.

Namun, mimpi itu akhirnya mulai diwujudkan. Pada Kamis 10 Oktober 2013, pengerjaan proyek ini resmi dimulai dengan peletakan batu pertama di atas lahan yang rencananya berdiri Stasiun MRT Dukuh Atas, salah satu kawasan paling sibuk di Jakarta Pusat.

"(Sudah) 24 tahun warga Jakarta ini mimpi pengen punya MRT, mungkin juga sudah banyak yang mimpinya sudah hilang karena kok nggak dimulai-dimulai. Alhamdulillah pada pagi hari ini dimulai," ujar Jokowi dalam sambutannya.

Lebih dari lima tahun setelah proyek ini mulai dikerjakan, MRT yang kini juga disebut dengan Moda Raya Terpadu itu akan segera diresmikan untuk beroperasi secara penuh. 

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: